Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Tek tek tek


__ADS_3

Tek...tek...tek...


Suara itu terus mengganggu Wira. Membuat Wira tak bisa memejamkan matanya sama sekali.


Hingga adzan subuh berkumandang. Letak masjid yang tidak terlalu jauh membuat suara adzan terdengar sangat jelas. Membangunkan setiap umat yang tertidur lelap untuk melaksanakan kewajibannya menunaikan sholat dua rakaat.


Begitu pun dengan Dewi yang meski baru dua jam tidur namun tetap terbangun dan ingat untuk melaksanakan kewajibannya. Dewi meregangkan tubuhnya yang terasa lelah, lalu melihat rekan tidurnya.


Nampak Wira sedang menatapnya. Dewi sontak kaget. "Bapak ngagetin aja! Kenapa sih liatinnya kayak gitu?!" omel Dewi.


"Lo enak ya tidur sampai mendengkur begitu?" sindir Wira.


"Masa sih saya mendengkur? Enggak ah! Perasaan bapak aja!" elak Dewi.


"Enak tidurnya?" sindir Wira.


"Lumayan, tapi masih kurang. Maklum, baru 2 jam tidur. Bapak gimana? Eh tunggu, jangan-jangan bapak enggak tidur ya semalaman? Lukanya perih? Cenut-cenut gitu?" wajah Dewi terlihat khawatir.


Dewi pun hendak memeriksa wajah Wira namun langsung ditepis oleh pemilik wajah. "Enggak! Gue enggak bisa tidur kalo di tempat baru!"


"Karena takut?!" sindir Dewi.


"Enggak."


"Lalu?"


"Enggak terbiasa aja!" elak Wira sekali lagi.


"Kalo takut bilang aja, Pak! Wajar kok. Manusiawi. Jangan kebanyakan jaim! Bapak punya sisi lemah sendiri dan itu manis loh."


"Ya... Agak takut sih. Habis Mommy tadi nakutin. Katanya ruko ini sudah lama kosong pasti ada penyebabnya, bisa aja angker. Terus semalam ada suara tek tek tek begitu. Makin enggak bisa tidur lah gue!"


Dewi menahan senyumnya mendengar cerita Wira. Tak mau membuatnya merasa tak dihargai karena menertawakan curahan isi hatinya.


"Nanti kita periksa ya suaranya berasal darimana." kata Dewi dengan lembut. "Kita sholat dulu yuk! Habis sholat baru tidur lagi. Mommy bilang hari ini akan mengadakan selametan sehabis sholat dzuhur. Masih bisa lah tidur dua jam lagi!"


"Yaudah, ayo!"


Wira pun memimpin sholat subuh berjamaah mereka. Sudah tak canggung dan tak merasa malu lagi seperti sebelumnya.


Sehabis sholat Dewi melaksanakan janjinya. Ia menemani Wira tidur. Menepuk-nepuk bahu kekar suaminya agar sang pemilik bahu bisa tertidur pulas.


Bak anak kecil, Wira yang merasakan kenyamanan dari tepukan lembut Dewi pun terlelap. Rasa lelah dan ngantuk yang bercampur jadi satu membuatnya tidur dengan cepat.

__ADS_1


Dewi pun sama. Ia jatuh tertidur dan terbangun saat alarm yang disetelnya berbunyi.


Jam 7 pagi.


Dewi membuka matanya dan bersiap ke pasar yang letaknya tak jauh dari ruko. Membeli bahan-bahan untuk mengisi stok makanan di lemari es.


Jam 9 pagi semua sudah beres. Sarapan untuk Wira juga sudah siap. Dewi masuk ke kamar dan hendak mandi. Ia harus membantu ibunya mempersiapkan acara selametan hari ini.


Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi, Dewi mendengar suara yang semalam Wira dengar. Suara tek...tek...tek...


Dewi menajamkan pendengarannya dan masuk ke dalam kamar mandi yang merupakan asal suara. Dewi menghela nafas lega. Ternyata suara tek...tek...tek...berasal dari selang air AC yang menetes mengenai kaleng biskuit yang ada di kamar mandi.


"Kenapa aku enggak sadar pas wudhu tadi ya?" diangkatnya kaleng tersebut dan dikeluarkan dari kamar mandi. Mungkin niat awal yang memasang AC adalah sebagai penampungan air AC yang menetes tapi karena tersenggol jadi tak tepat sasaran. Hanya sebagian yang kadang jatuh ke dalam kaleng dan membuat bunyi tek tek tek.


"Huft... Sama suara kayak begini aja sampai takut semalaman!" ujar Dewi sambil menggelengkan kepalanya.


Dewi pun melanjutkan acara mandinya lalu membangunkan Wira.


"Masih ngantuk, Wi! Lo aja yang pergi selametan!" tolak Wira.


"Enak aja! Nanti kalo ibu-ibu nanya siapa suami saya, jawabnya gimana? Udah cepat mandi! Baju Bapak sudah saya siapkan tuh!"


"Nanti muka gue yang bonyok ketahuan sama Mommy!" ujar Wira beralasan.


"Gampang itu. Nanti aku tutupin pakai consealer!"


"Wow... Ini Dewi istri gue? Bukan Dewi dari kayangan?" betapa terkejutnya Wira melihat Dewi mengenakan jilbab.


"Dewi dari kayangan!" Dewi memberikan kopiah pada Wira. "Nanti pakai juga ya! Biar kelihatan rapi."


"Tunggu dulu!" Wira mencekal pergelangan tangan Dewi. "Lo cakep bener deh kalo kayak begini!"


Dewi menatap ke dalam mata Wira. Mencari kejujuran dalam kata yang suaminya katakan. Ya, Wira berkata jujur.


"Masa sih? Biasa aja ah!" jawab Dewi acuh.


"Beneran lo cantik banget kalo pakai jilbab kayak begini. Suka banget gue ngeliatnya. Adem. Jadi pengen-"


"Kita udah telat! Ayo cepetan! Bantuin ibu siap-siap. Selametan di rumah pasti banyak yang datang!" Dewi menghentikan ucapan Wira, sudah tau apa keinginan Wira meski belum disampaikan.


"Iya... iya. Nanti ya pulang selametan. Tapi lo masih pakai jilbab kayak begini. Nanti seakan-akan gue dan lo lagi-" lagi-lagi Dewi menghentikan ucapan Wira sebelum ia selesai bicara.


"Iya. Mau kayak gimana fantasi bapak, saya ikutin. Sekarang cepat pakai baju koko dan saya akan samarkan bekas tonjokkan di wajah Bapak dengan consealer!" ucap Dewi dengan tegas.

__ADS_1


"Pakein!" ujar Wira dengan manjanya.


Dewi menghela nafas dalam. "Oke!"


Dewi pun membuka kancing baju koko dan memakaikannya di tubuh Wira yang kekar. Wira senyum-senyum senang melihat Dewi menuruti permintaannya.


"Wi, gue ganteng enggak?" tanya Wira.


"Ganteng." jawab Dewi seraya mengancingkan baju koko Wira satu per satu.


"Gantengan mana sama Zaky?" tanya Wira lagi.


"Hmm... Gantengan... Abi Agas!" jawab Dewi yang kini sudah selesai memakaikan Wira baju koko.


"Tuh kan, lo malah bilang Abi lebih ganteng!"


"Bapak begitu aja cemburu?" sindir Dewi.


"Iyalah! Masa lo lebih milih Abi dibanding gue, laki lo yang gagah perkasa?!" wajah Wira terlihat kesal.


Dewi mengalungkan tangannya di leher Wira. Sambil berjinjit, Dewi mencium bibir Wira.


Wira pun menyambut ciuman Dewi. Dilingkarkannya lengannya di pinggang Dewi dan membalas ciuman memabukkan Dewi.


Dewi melepaskan ciumannya, membuat Wira seakan tak rela. "Bapak sekarang cemburuan ya?"


"Enggak." elak Wira namun tidak melepaskan pelukan di pinggang Dewi.


"Ngaku dong, Pak. Saya aja cemburu kalau mendengar Cerry dekat dengan bapak." aku Dewi.


"Gue sama Cerry enggak ada hubungan apa-apa! Dulu Cerry memang sempat dekat sama gue, tapi..."


"Tapi kenapa?" tanya Dewi seraya terus menatap mata Wira dengan lekat.


"Lo tau arti nyaman enggak?"


Dewi mengangguk.


"Lo tau bagaimana menjadi diri sendiri enggak?" tanya Wira lagi.


Dewi kembali mengangguk.


"Gue sama Cerry enggak akan pernah bisa karena... Gue enggak bisa jadi diri gue sendiri saat bersama dia. Gue enggak nyaman. Rasanya itu bukan gue. Awalnya gue merasa itu adalah pengorbanan dan berpikir mungkin Cerry akan merubah gue jadi pribadi yang lebih baik lagi. Sampai gue mau mengutarakan satu ide pun terlalu takut untuk bicara karena lo tau gue selalu berkata pedas."

__ADS_1


"Lalu?"


****


__ADS_2