
"Oke kalau Abi kuat, Wira akan keep bisnis ini untuk Abi seorang! Ingat, hanya Abi seorang. Abi adalah satu-satunya lelaki paling beruntung di dunia ini yang mendapatkan kesempatan untuk join di bisnis Wira." pujian Wira tentu saja membuat Agas makin besar kepala. "Wira pulang dulu ya, Bi. Mau kerja! Bye Abiku tersayang!"
Wira salim dan memeluk Mommynya. "Makasih, My!"
"Iya, Sayang!" bisik Tari.
Wira gantian salim dengan Abi yang masih agak emosi. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Tak lupa Wira mengambil es kopi di lemari es lalu pulang ke ruko dengan senyum mengembang di wajahnya. "My, ini sample capcay Wira bawa semua ya! Dewi lagi doyan banget sama capcay!" teriak Wira.
"Dewi doyan capcay? Beneran? Oke, bawa semua Nak! Nanti Mommy buat lagi!" ujar Tari yang merasa agak heran.
***
Wira tersenyum lebar menyambut Dewi yang berjalan ke arahnya.
"Kok nunggunya di halte sih, enggak masuk ke dalam aja?" tanya Dewi seraya salim dengan suaminya.
"Sengaja. Lagi nyari udara segar. Panas kepala aku kebanyakan mikir." jawab Wira.
"Kamu demam?" tanya Dewi seraya memegang kening Wira.
Wira menarik tangan Dewi dan tersenyum lebar. "Enggak sakit, Cinta. Aku dari tadi kerja sampai rasanya kepala aku ngebul."
"Kerja apa sih?" tanya Dewi seraya duduk di samping Wira.
__ADS_1
"Kerja untuk buat kerajaan bisnis yang lebih besar lagi dari Abi dan Mommy!" mata Wira terlihat begitu optimis dengan rencananya.
"Oh ya? Bisnis apa? Aku boleh tau?" tanya Dewi penasaran.
"Boleh dong! Nanti aku jelasin di ruko. Kamu lapar enggak? Aku lapar nih! Belum makan!"
"Aku sih enggak terlalu lapar. Aku temani kamu aja ya!"
"Oke!" Wira mengambil helm milik Dewi dan kembali memakaikan istrinya. "Pulang kerja muka kucel aja kamu cantik apalagi kalau habis mandi!"
"Gombal!"
"Itu bukan gombal, Sayang! Itu pujian!" jawab Wira seraya naik ke atas motornya. Dewi mengikuti dan naik ke atas motor juga. Setelah Dewi berpegangan erat di pinggangnya, Wira pun mulai melajukan motornya.
Sore ini jalanan agak padat. Maklum, jalanan di sore hari berbarengan dengan karyawan yang pulang mantor. Pasti macet dimana-mana.
Selesai makan mereka pulang. Ibu Sari sedang memisahkan cucian yang hendak disetrikanya.
Dewi membantu sebentar sebelum akhirnya naik ke atas ruko dan membersihkan dirinya. Wira sedang berkutat dengan laptop miliknya sampai tak menyadari kalau Dewi sudah selesai mandi dan duduk di sampingnya.
Dewi yang gemas pun mencium pipi Wira. Tentu saja Wira yang sedang fokus jadi kaget. "Mancing nih?" ujar Wira seraya mengalihkan perhatiannya dari laptop miliknya yang kini ia taruh di atas nakas.
"Habis kamu sibuk terus sih!" keluh Dewi yang kini merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Wira ikut tiduran di samping Dewi, namun Wira menopang kepalanya dengan tangannya sehingga bisa melihat Dewi dengan jelas.
Istrinya nampak cantik sekali meski memakai baju tidur model baby doll biasa. "Cantik banget sih kamu, Wi!"
__ADS_1
"Huh gombal!" cibir Dewi.
"Itu pujian, Wi. Aku udah bilang kan tadi, itu pujian. Beda kalau gombal." jawab Wira.
"Kalau gombal gimana?" Dewi menatap Wira dengan lekat.
"Aku enggak bisa!"
"Bohong!"
"Beneran!"
"Ayo dong! Sekali-kali gombalin aku!"
"Enggak ah!"
"Ih gitu!" Dewi kembali mencibirkan bibirnya.
"Oke. Tapi janji jangan ngetawain aku ya!"
"Iya!"
"Siap?"
Dewi menganggukkan kepalanya. "Siap!"
****
__ADS_1
Lanjutannya nanti malam ya! Jangan lupa besok senin vote Abanh Wira ya 😊