
"Kamu bagaimana sih, Bang?! Bukannya senang mau punya anak eh malah bikin istri kamu kecewa!" omel Tari.
"Aku enggak ada niat mau membuat Dewi kecewa, My. Aku hanya terkejut. Aku enggak menyangka saja Dewi akan hamil secepat itu. Sekarang Dewi mana, My?" tanya Wira yang mulai panik karena yakin Dewi marah besar padanya.
"Ke toilet. Mau nangis kencang mungkin?! Mommy biarin aja dia ke toilet dulu sambil Mommy terus awasin. Nanti Mommy samperin."
"Samperin sekarang aja, My! Nanti kalau Dewi kenapa-napa gimana?" rengek Wira.
"Hei! Kok kamu malah bersikap seperti anak kecil sih? Kamu tuh sudah mau jadi seorang Ayah! Bersikaplah dewasa!" omel Tari. "Jujur Mommy kecewa dengan sikap kamu. Bagaimana mungkin sih, saat seorang istri mengabarkan pada suaminya kalau dirinya sedang hamil, bukannya mengucapkan selamat dan bahagia ini malah nanya, kok bisa? Ya jelas bisa lah, sudah jelas-jelas kamu begitu berhasrat kalau melihat Dewi. Kalian pasti sering 'kan melakukan hubungan suami istri? Jadi wajar kalau istri kamu hamil! Kenapa masih dipertanyakan juga sih?!" Mommy Tari terlihat begitu emosi. Suaranya bahkan sampai terdengar ke sekelilingnya yang kini menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Kok Mommy jadi marahin Wira sih? Wira tuh terkejut, My! Coba deh Mommy jadi Wira, tiba-tiba dikabari kalau istri Wira hamil! Kaget bukan? Wira sadar, itu memang anak Wira! Tapi, kok bisa gitu loh My? Waktu itu, Dewi meminum Pil KB yang Wira berikan. Saat pilnya habis, Wira bilang terserah. Maksud Wira terserah mau beli di mana atau mau minum lagi atau enggak, terserah! Dan Wira enggak nyangka akan secepat ini dikasih anak!"
Mommy Tari sampai mengelus dadanya beberapa kali. Dia istighfar dan menambah stok sabar menghadapi anak lelakinya yang memang masih terlalu muda. Usia Wira baru 21 tahun. Masih terlalu muda dan mungkin pemikirannya belum dewasa. Wajar kalau saat menghadapi kehamilan istrinya, ia lebih menunjukkan sikap terkejut dibanding rasa bahagia.
"Sekarang Mommy tanya sama kamu, dalam seminggu kamu berapa kali berhubungan dengan Dewi?!" tanya Tari dengan suara yang dipelankan, tak mau menjadi perhatian lagi seperti tadi.
"Ya... Mana Wira tau? Enggak pernah ngitung tuh!" jawab Wira. "Ngapain sih Mommy nanya-nanya masalah pribadi Wira?" ketus Wira.
"Heh, kamu pikir buat apa Mommy nanya? Ora urus! Mommy cuma mau membuka pikiran kamu saja, dari sekian kali kalian berhubungan bukankah ada kemungkinan Dewi akan hamil? Kamu mikir dong! Zigot kalian tuh yang udah bikin Dewi jadi bunting!" ketus Tari. Tak sia-sia selama ini mendengarkan suaminya berkata ketus setiap hari. Bisa dipraktekkan rupanya.
Wira terdiam. Jarang sekali Mommy-nya marah sampai seperti ini. "Iya, My."
"Jangan iya iya aja! Tuh Dewi lagi nangis di toilet! Minta maaf kamu sama menantu Mommy! Susah payah Mommy bujuk ke dokter eh pas tahu hasilnya menantu Mommy malah makin sedih!" gerutu Mommy.
"Iya, My. Tolong susul Dewi dong, My. Wira takut Dewi kenapa-napa. Dia kan masih lemah dan pucat!" pinta Wira.
__ADS_1
"Udah tau lagi lemah, malah bikin orang tambah sakit hati!" ketus Mommy yang terus mengomel selama berjalan ke toilet.
"Wi, Dewi!" panggil Mommy.
Tak lama Dewi keluar dengan mata yang sebab dan merah sehabis menangis.
"Ya Allah, Sayang!" Mommy pun memeluk Dewi. "Maafin anak Mommy ya Nak! Wira belum dewasa. Tak tahu harus bersikap apa sama kamu. Mommy sudah omeli dia habis-habisan! Sekarang dia mau bicara sama kamu! Mau minta maaf katanya!"
Dewi melepaskan pelukan Mommy. Ia berjalan ke wastafel dan mencuci wajahnya di sana. Setelah mengelap tangannya dengan tisu yang disediakan, Dewi pun menolak permintaan Tari.
"Kita ambil obat dulu, My. Takut sudah waktunya diambil."
"Tapi, Wi-"
Dewi yang sudah kadung kecewa berjalan keluar toilet. Terpaksa Tari mengikuti sambil berbicara dengan Wira di telepon.
"Bujuk dong, My. Bujuk! Bilang Wira mau minta maaf, please My!" rengek Wira lagi.
"Ish! Nanti aja! Kamu enggak lihat sih mukanya sedih banget begitu pas keluar dari kamar mandi!" omel Mommy. "Sudah, Mommy tutup dulu! Nanti saja kamu yang hubungi sendiri!"
Tari menutup teleponnya dan menyusul langkah Dewi yang berjalan di depannya. Tari tak berani berkata-kata. Sadar kalau anaknya sudah menyakiti menantunya.
"Biar Mommy yang ambilkan ya?" Mommy mengambil obat yang di bagian pengambilan obat. Rupanya Dewi benar, namanya sudah dipanggil pertanda obat sudah siap diambil.
"Mommy sudah telepon supir, kita tunggu di lobby saja ya!" ujar Tari. Dewi hanya menjawab dengan anggukan tanpa kata.
__ADS_1
Sampai mobil milik Tari datang. Tari membantu Dewi naik dan duduk di sampingnya. Tak disangka, Dewi malah mulai mengajaknya bicara.
"Kita makan makanan Chinese Food aja ya, My." ujar Dewi.
"Oh iya. Tentu, Nak!" Tari senang, Dewi akhirnya mau diajak makan di luar.
Dewi tak bicara apa-apa lagi sepanjang perjalanan. Ia hanya menatap kosong pemandangan dari luar jendela seraya menahan air mata yang terus ingin menetes.
Di restoran pun Dewi masih tak banyak bicara. Ia makan dalam diam meski Tari mengajaknya terus berbicara.
"Wira tak bermaksud menolak bayi dalam kandungan kamu, Wi. Anak itu hanya terkejut. Ia hanya tak pandai berkata-kata-" belum selesai Tari bicara Dewi sudah memotongnya.
"Aku mau ke toilet, My!" Dewi pun pamit dan menolak ditemani Tari.
Di toilet, Dewi kembali mual dan memuntahkan semua makanan yang susah payah ia telan. Air matanya kembali menetes. Air mata kekecewaan.
Dewi sangat sedih, anak dalam kandungannya seakan tak diharapkan oleh ayahnya sendiri. Seakan Wira tak mau memiliki anak dari dirinya yang berasal dari orang susah.
Dewi sedih karena pikiran buruknya sendiri. Padahal belum tentu Wira memikirkan apa yang ia pikirkan.
Dewi kembali ke ruangan dan berpura-pura baik-baik saja. Tari tahu, meski Dewi tak mengatakan apapun tapi dari sorot mata yang begitu sedih sudah menceritakan semuanya.
"Wi, percaya deh sama Mommy. Anak Mommy itu memang masih belum dewasa, namun dia adalah seorang suami yang sayang dan bertanggung jawab dengan keluarganya. Perlu waktu untuk merubah seorang pria menjadi dewasa, kenapa? Karena selamanya seorang pria itu akan tetap menjadi anak-anak. Akan bersikap kekanakan. Tugas kamu adalah bersabar menghadapinya dan sedikit demi sedikit memberinya pengertian,"
"Bahkan, batu yang keras sekalipun akan berlubang jika terus ditetesi oleh air. Sifat kekanakan Wira juga akan hilang kok seiring berjalannya waktu. Teruslah mendampinginya, bersabar terhadap setiap ucapan dan perbuatannya dan yang terpenting adalah selalu berpikir positif. "
__ADS_1
****