Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Membebaskan Bahri-1


__ADS_3

Tari duduk di kursi depan sambil sesekali melihat putranya yang terlihat sangat khawatir. Tari merasakan ada yang berbeda dengan putranya.


Wira yang selama ini terlihat seperti anak kecil manja, sudah berubah menjadi seorang pria dewasa. Wajah khawatirnya menunjukkan hal itu.


Selama ini mana pernah Wira peduli dengan keadaan sekitarnya? Wira terlalu acuh. Sahabat akrab saja hanya Zaky. Nampaknya Wira kesulitan punya teman karena ucapannya yang selalu pedas. Tapi kini?


Wira bahkan mengkhawatirkan keadaan adiknya Dewi. Bukan Dewi loh! Adiknya. Perubahan yang sangat drastis menurut Tari.


Tari beberapa kali mencuri pandang ke arah putranya. Beberapa kali Ia mengusap dagunya seakan sedang berpikir keras. Wira bahkan agak emosi saat ada mobil angkot yang berhenti sembarangan. Membuat perjalanan ke rumah Dewi jadi lama karena macet yang tercipta. Wira sampai klakson angkot itu saking emosinya.


Tari menahan dirinya untuk bertanya. Tari bisa melihat betapa Wira banyak pikiran. Tak mau menambah beban pikirannya, Tari mengesampingkan rasa ingin tahunya tentang kapan Wira menikah?


Sepertinya mereka sudah hampir sampai. Tari tahu saat Wira memarkirkan mobilnya di IndoJuni. Tari ikut turun dari mobil dan mengikuti Wira berjalan masuk ke dalam gang yang berada di samping IndoJuni.


Wira ingin berlari agar cepat sampai, namun kasihan dengan Mommynya. Ia hanya berjalan agak cepat sedikit dan berharap Mommynya bisa mengikuti kecepatan langkahnya.


Tari seakan dejavu. Ia seperti berjalan di rumah Bapak tirinya dulu. Melewati gang-gang sempit dimana banyak kontrakkan dengan bau pengap karena ventilasi udara yang kurang.


Tari tak protes dengan keadaan ini, Ia sudah biasa. Tari dulu dibesarkan di lingkungan padat penduduk seperti ini. Tak heran jika Ia harus berjalan miring kala berpapasan dengan motor yang hendak lewat.


Tari berjalan sambil memandang punggung putranya yang kekar. Dari balik punggung, Dewi seakan bisa melihat wajah khawatir anaknya yang ingin cepat-cepat sampai ke rumah Dewi, namun memperlambat langkah hanya demi mengimbangi dirinya.


Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah kontrakkan yang tak lebih bagus dari kiri kanannya. Hanya lebih besar sedikit saja.


"Assalamualaikum!" Wira mengetuk pintu.


Tak butuh waktu lama, pintu pun dibuka. Seorang gadis cantik dengan mata bengkak menyambut kedatangan Wira.


"Pak! Bahri, Pak!" ujar gadis itu sambil terisak.

__ADS_1


Wira yang melihat kesedihan Dewi tak kuasa menahan diri. Ia pun menarik Dewi dalam pelukannya. Membuat Tari yang berada di belakang mereka terkejut.


Tari sadar, gadis itu adalah Dewi. Gadis yang melakukan bisnis plus-plus dengan Wira. Gadis yang sudah dinikahi siri dengan Wira dan kini statusnya adalah menantu Tari.


"Lo tenang dulu! Ceritain sama gue ada apa?" ujar Wira menenangkan.


Tari mendengar suara tangis juga terdengar dari dalam rumah. Rupanya keluarga Dewi juga sedang menangis di dalam. Tari merasa kasihan akan nasib mereka, padahal mengenal pun tidak.


Dewi melepaskan pelukan Wira dan terlonjak kaget saat melihat siapa yang datang bersama suaminya. Sama seperti Dewi, Tari pun terkejut.


Tari ingat sekali siapa gadis cantik itu. Meski awalnya tak mengenali karena rambutnya dipotong agak pendek, namun akhirnya Tari kenal siapa Dewi.


Tari ingat kalau Ia yang menerima gadis polos itu atas rekomendasi dari Mbak Inah, asisten rumah tangga Agas. Ia tak perlu pikir panjang saat mewawancarai gadis cantik itu. Rajin, baik, jujur dan punya niat bekerja yang tinggi. Itu yang membuat Tari menerima Dewi.


"Bu- Bu Tari?!" ujar Dewi sangat terkejut sampai terbata-bata.


Tari mengangguk tanpa mengucap apa-apa. Dewi lalu tersadar dan menghampiri Tari. Ia mengulurkan tangannya dan salim dengan sopan.


Dewi menghela nafas lelah. Bukan lega tapi lelah karena ternyata ada masalah lagi yang harus Ia hadapi.


"Kita bicarakan di dalam aja ya! Ada Ibu dan Bapak kamu kan di dalam?!" ajak Wira.


Wira tahu bagaimana lingkungan tetangga Dewi. Banyak telinga dan mulut usil yang akan menyebarkan gosip dengan seenaknya.


Dewi mengangguk. "Silahkan masuk, Pak." Dewi lalu bicara takut-takut dengan Tari. "Silahkan, Bu."


Tari lagi-lagi mengangguk tanpa suara. Ia mengikuti Wira yang masuk ke dalam.


Perasaan Tari kembali terenyuh saat melihat keadaan rumah Dewi. Lebih menyedihkan dari keadaan rumahnya dulu. Terlihat begitu sumpek karena kontrakkan kecil harus dihuni oleh beberapa orang, setidaknya dulu Ia hanya bertiga saja.

__ADS_1


"Silahkan duduk Pak, Bu." ujar Dewi.


Dewi lalu meminta Ratna membuatkan dua teh manis untuk kedua tamunya. Tari duduk di kursi rotan di samping Wira.


"Bapak lo mana?" tanya Wira.


"Di dalam, Pak. Lagi temenin Ibu yang sejak tadi terus nangis dan sempat pingsan." jawab Dewi dengan jujur.


"Lo bilang, Bahri ditangkap karena dianggap sebagai kurir narkoba?" tanya Wira.


Dewi mengangguk. "Bahri memang sudah lebih dari seminggu jarang pulang, Pak. Saya ketemu Bahri sebelum kita berangkat ke... Bandung." Dewi bercerita dengan takut, sambil melirik ke arah Tari.


"Cerita aja. Mommy gue udah tau semua!" kata Wira meyakinkan Dewi.


"Bahri menghubungi saya dan menunggu di lobby. Bahri kasih saya uang lima juta, katanya buat bayar utang sama Bapak, tapi saya tolak." cerita Dewi.


"Kenapa lo enggak cerita sama gue?"


"Bapak waktu itu habis begadang membuat proposal. Saya enggak mau bangunin Bapak yang kelelahan. Waktu itu uang yang Bahri kasih saya tolak. Saya bilang simpan saja buat uang kuliah Bahri. Anak itu sempat cerita, katanya ada yang menyewa jasanya untuk mengantarkan ke beberapa tempat. Bahri hanya mengantar orang itu, Bahri enggak tau orang itu bisnis apa. Yang jelas, Bahri dibayar lumayan."


Wira mengusap wajahnya. Lelah sekali hari ini. Baru saja sampai Jakarta sehabis dari Bandung eh sudah ada masalah bertubi-tubi.


Dewi meneruskan kembali ceritanya. "Tadi pas saya baru sampai rumah, ada polisi yang menghubungi Hp saya. Katanya Bahri ada di kantor polisi. Bahri... Bahri dianggap sebagai kurir narkoba, Pak." tangis Dewi pecah saat menceritakan apa yang menimpa adiknya.


Tari bisa melihat betapa Dewi sangat menyayangi adiknya. Tari juga tahu, apa yang dilakukan oleh adiknya adalah demi membela kakaknya. Semua karena bisnis plus-plus yang tak berfaedah tersebut.


"Sekarang lo ikut gue. Kita ke kantor polisi. Lo pamit dulu sana sama orang tua lo! Bilang aja, Wira bakalan usahain Bahri keluar secepatnya." ujar Wira penuh keyakinan.


Dewi masih menangis, dan hanya mengangguk mendengar instruksi Wira. Tak disangka, Wira menghapus air mata di wajah Dewi. "Lo tenang aja. Bahri pasti pulang! Gue akan lakuin apa aja agar Bahri bebas. Lo percaya sama gue kan?"

__ADS_1


****


Maaf ya agak telat 😭. Yuk yang mau ikutan giveaway bisa share postingan aku di FB, yanga ada videonya ya. Share yang banyak ya biar kemungkinan kamu menang makin besar 😁😁


__ADS_2