Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Ancaman Tari


__ADS_3

Hati Tari terenyuh melihat pemandangan di depan matanya. Kakak beradik yang saling menyayangi di tengah masalah yang sedang menimpa.


"Ini salah satu yang membuat aku menikahi Dewi. Bukan seperti yang Mommy pikirkan." ujar Wira setengah berbisik.


Rupanya Wira juga mengikuti arah pandangan Mommy-nya yang terus melihat Dewi dan Bahri saling menyalahkan diri sendiri. Kasih sayang mereka mampu membuat Mommy tergerak hatinya.


"Tetap saja apa yang kamu lakukan tak bisa dibenarkan. Menyembunyikan semua dari Mommy dan Abi. Surat perjanjian kalian jadi bukti kalau sebelum pernikahan apa yang kamu lakukan dengan Dewi adalah sebuah dosa besar." ujar Tari dengan tajam.


"Itu... Iya sih. Wira tau Wira salah, My. Maksudnya Wira dan Dewi. Bahri yang menyadarkan Wira. Ia yang memaksa Wira menikahi kakaknya. Ia begitu sayang pada Dewi dan tak mau Dewi melakukan perbuatan dosa terus menerus. Apa yang Bahri katakan benar-benar menyentil Wira. Bisa saja waktu itu Wira menolak permintaan Bahri. Wira punya perjanjian yang lebih kuat dari ancaman video milik Bahri." kata Wira.


"Kenapa tidak kamu gunakan sebagai senjata?" Tari menoleh dan melihat Wira yang menatap ke arah Dewi dan Bahri dengan sedih.


"Karena mereka... Seperti aku dan Carmen. Aku kalau berada di posisi Bahri juga akan melakukan hal yang sama. Ini yang dinamakan kasih sayang sesama saudara kandung. Aku jadi mikirin Carmen. Kalau aku jahat sama Dewi dan Carmen yang jadi kena karmanya, aku akan sangat menyesal seumur hidup, My."


Tari memukul lengan Wira. "Jangan suka sembarangan kalau ngomong! Enak aja anak cantik Mommy bakal kena sial gara-gara kamu!" omel Tari.


"Ya kan itu yang Wira takutin, My. Wira juga enggak mau Carmen kenapa-kenapa. Udahlah, ayo kita ajak mereka pulang. Udah malam! Mommy enggak dicariin Abi?" tanya Wira.


"Mommy enggak mau pulang sebelum semua beres, dan satu lagi... Balikkin uang Mommy yang dipakai untuk membebaskan Bahri! 25 juta!" tagih Tari.


"Loh bukannya Mommy ikhlas membantu?" tanya Wira heran. Padahal Wira sudah senang Mommy-nya turun tangan.


"Itu beda urusan. Mommy sudah bayar pengacara. Tinggal kamu yang bayar uang 25 juta! Cepetan transfer ke rekening Mommy!" Tari menengadahkan tangannya. Meminta Wira segera mengembalikan uang miliknya.


"Ya ampun, My. Sama anak aja perhitungan. Wira udah ke Bandung loh buat audit! Mommy belum bayar Wira!" Wira tak mau kalah rupanya.


"Oke. Mommy bayar. 2 juta! Jadi kamu masih ada utang 23 juta sama Mommy!"


"Hah? 2 juta? My, aku habis audit loh! Jauh-jauh aku ke Bandung cuma dibayar 2 juta?" protes Wira.

__ADS_1


"Kenapa kamu protes? Itu besar loh! Kamu enggak rugi apa-apa. Kamu pakai mobil Mommy yang bensinnya full. Ada e-card juga buat bayar toll. Enggak modal apa-apa kamu! Mulai sekarang tiap kamu audit Mommy yang akan tentukan kamu dapat berapa!" putus Tari.


"Kok Mommy gitu sih? My, sekarang Wira punya istri loh. Ada yang harus Wira nafkahi!" Wira berusaha nego namun Tari tetap teguh dengan pendiriannya.


"Justru itu tujuan Mommy. Kamu sudah jadi suami orang. Kamu punya tanggung jawab sekarang. Kamu jangan manja lagi sama Mommy. Kamu bekerja sama Mommy dan Mommy menggaji sesuai apa yang kamu kerjakan."


"Tapi My-"


"Kalau kamu protes, lebih baik Mommy gunakan jasa audit publik saja!" ancam Tari.


"Ck! Mommy bukannya memberi Wira uang lebih banyak malah membatasi!" gerutu Wira.


"Suka-suka Mommy dong! Sudah cepat transfer Mommy 23 juta! Mommy mau pulang!" tagih Tari lagi.


Wira menghembuskan nafas kesal. Mana bisa Ia melawan ras paling terkuat di muka bumi ini? Emak-emak gitu loh!


"Iya!" Wira mengeluarkan Hp miliknya dan mentransfer 23 juta sesuai permintaan Tari. Bukti transfer pun Wira tunjukkan pada Tari. "Tuh udah!"


Wira kembali terbelalak kaget. "Mobil? Lantas gimana Wira nganter Dewi dan Bahri? Lalu Wira pulang naik apa?"


"Naik taksi online aja! Besok kamu balikkin mobil Abi yang ada di parkiran apartemen. Mommy pakai mobil Mommy biar bisa langsung pulang!" kata Tari dengan santainya.


"My, please deh! Jangan kejam-kejam banget sama anak sendiri!" pinta Wira.


"Siapa yang kejam? Kamu atau Mommy? Kamu yang tega membohongi Mommy! Kamu yang mulai duluan menutupi pernikahan siri kamu! Jangan salahkan Mommy kalau Mommy kecewa dengan apa yang kamu lakukan?!" balas Tari.


Wira mengacak rambutnya karena putus asa. Ini baru Mommy, bagaimana dengan Abi?


Wira lalu mengeluarkan kunci mobil dan memberikannya pada Tari. "Ini!"

__ADS_1


Tari tersenyum penuh kemenangan. Tanpa ibu dan anak itu sadari, sejak tadi Dewi dan Bahri memperhatikan apa yang mereka lakukan. Dewi dan Bahri bahkan mendengar apa yang mereka ributkan. Gantian ternyata.


"Mommy pulang dulu! Jangan lupa besok pagi balikkin mobil Abi, atau Abi kamu bakalan ngamuk dan datang langsung ke apartemen!" pesan Tari sebelum pulang.


"Iya... Iya!"


Tari lalu berjalan mendekat ke arah Dewi dan Bahri. Tari berbicara dulu pada Bahri sebelum ke Dewi. "Jadikan ini sebagai pelajaran. Jangan pernah percaya dengan orang yang memberi banyak uang tanpa ada niat dibaliknya."


"Iya, Bu." ujar Bahri yang mengulurkan tangannya untuk salim. "Terima kasih banyak atas pertolongan Ibu hari ini."


Tari mengangguk. Kini Tari melihat ke arah Dewi yang menundukkan wajahnya takut-takut.


"Jujur saya kecewa dengan apa yang kamu lakukan dengan Wira. Kamu menawarkan anak saya berbuat dosa." Tari menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. "Semua sudah terjadi. Abi-nya Wira belum tau. Saya akan bicara pelan-pelan. Entah bagaimana reaksinya nanti."


Dewi mengangguk dan dengan suara pelan menjawab, "Iya, Bu."


"Mengenai nasib kamu, nanti saya akan bahas lagi. Sudah malam. Bawa adik kamu pulang, jangan buat orang tua kamu sedih lagi. Coba pelan-pelan kamu bilang sama orang tua kamu tentang pernikahan kalian. Mereka juga berhak tau apa yang kedua anaknya lakukan di belakang mereka." sindir Tari.


"Baik, Bu." jawab Dewi dan Bahri kompak.


Dewi mengulurkan tangannya untuk salim. Tari lalu pamit pulang dan meninggalkan semuanya.


"Kita naik taksi saja!" ajak Wira.


Dewi dan Bahri menurut. Mereka berjalan ke depan jalan raya dan memberhentikan taksi yang lewat.


Wira mengantar Dewi dan Bahri pulang. Bak seorang superhero, kedatangan Wira disambut oleh kedua orang tua Dewi. Lagi-lagi Wira dianggap sebagai penyelamat hidup keluarga Dewi.


Wira senang, apa yang Ia lakukan bisa bermanfaat buat orang lain. Namun dibalik itu semua ada kesedihan yang Wira rasakan. Uang di tabungannya semakin menipis. Bagaimana Ia menjalani kehidupannya kelak? Jika audit saja dipotong uangnya, bagaimana gaji Wira kelak? Nasib... nasib...

__ADS_1


****


__ADS_2