
Perasaan hangat langsung terasa dalam diri Wira saat mendengar kalau Dewi menyayanginya.
Sayang.
Sebuah kata yang tak pernah Wira dengar selain dari keluarganya.
Para gadis yang menemaninya menghabiskan malam-malam penuh kenikmatan tak pernah bilang kalau mereka menyayanginya. Paling hanya bilang kalau mereka cinta. Suka. Mengidolakan. Tapi sayang? Tak pernah.
Siapa yang mau sayang dengan cowok yang setiap berkata selalu menyakitkan?
Siapa yang mau menyayangi cowok judes yang suka perhitungan masalah uang?
Hanya Dewi. Cewek bodoh yang bilang kalau Ia sayang dengan Wira. Dewi yang bisa melihat sisi lain seorang Wirata Agastya.
Wira menyadari jantungnya yang terus berdegup kencang. Dewi yang sedang memeluknya pasti bisa merasakan degupan jantungnya yang kencang.
Wira lalu melakukan apa yang hatinya inginkan. Ia mengangkat wajah Dewi, menatap ke dalam manik indah matanya, mendekatkan bibirnya dan mulai mencium Dewi.
Ciuman yang lembut dan penuh perasaan yang pertama kali Wira lakukan dengan seorang cewek. Wira merengkuh wajah Dewi dan seakan tak mau keintiman mereka berakhir.
Bak gayung bersambut, Dewi juga melakukan hal yang sama. Membalas ciuman yang Wira berikan dengan sepenuh hati. Wira adalah pahlawan di keluarga dan hati Dewi tentunya.
Wira melepaskan sejenak ciuman mereka. "Lo udah selesai datang bulannya?"
Dewi yang masih terbuai dengan ciuman Wira yang lembut dan memabukkan hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.
"Bagus!" detik berikutnya Wira kembali mencium Dewi. Masih dengan kelembutan yang kini bercampur dengan gairah membara yang seakan menuntut untuk dilampiaskan.
Wira mulai membuka kancing kemeja Dewi satu per satu dan melemparkannya ke sembarang tempat. Tangannya dengan cepat membelai dan menyentuh tubuh Dewi, hal yang sudah Ia rindukan selama seminggu ini.
Dewi tak kuasa menolak setiap sentuhan yang Wira berikan. Dirinya merindukan Wira. Ia akui itu, persetan dengan bisnis plus-plus! Ia menginginkan Wira!
__ADS_1
Wira juga menyadari kalau Dewi menginginkan dirinya. Ia tak ingin memulai permainan di ruang tamu, Wira pun menggendong Dewi dan mengajaknya ke kamar.
Di dalam kamar, menjadi saksi dua insan yang melakukan penyatuan dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya atas dasar kepentingan pribadi atau pemuas gairah semata, mereka melakukannya karena perasaan satu sama lain yang sudah tumbuh. Perasaan apalagi namanya kalau bukan cinta. Sayangnya kedua anak muda itu tak mengerti arti cinta yang sebenarnya.
Senyum bahagia terpancar manakala keduanya sudah sampai pada pelepasan. Wira yang semalaman tidak tidur langsung tertidur pulas karena kelelahan.
Dewi sempat mengistirahatkan tubuhnya sebentar karena ia juga harus pergi bekerja. Ia menatap Wira yang tertidur pulas di sampingnya.
Wira terlihat begitu tampan dalam wajah lelahnya. Pasti capek sejak kemarin banyak masalah dan belum tidur. Dewi mengusap lembut rambut hitam Wira, sang pemilik terlalu lelah untuk menyadari sentuhan penuh kasih sayang yang Dewi berikan.
Dewi mendekatkan dirinya dan kembali mengecup pipi Wira. "Saya sayang sama Bapak." bisik Dewi pelan.
Dewi pun lalu menyelimuti tubuh Wira sebelum akhirnya turun dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya. Ia kembali merapikan dandanannya yang berantakan.
Sejujurnya, Dewi juga sangat lelah dan ingin ikut tidur bersama Wira. Namun apa daya, Ia harus bekerja dan tak mau dianggap sebagai pemalas.
Dewi pun meninggalkan apartemen Wira. Ia pergi ke cafe dan langsung mendapat tatapan yang berbeda dari teman-temannya. Dewi cuek saja tak menanggapi. Toh, Wira sudah menjelaskan kepada manajer cafe kalau yang menjemput Dewi adalah Wira.
Di ruangan karyawan, manajer cafe mengumpulkan Dewi bersama para penebar fitnah. Ia mendamaikan kedua belah pihak yang bermasalah.
Para penebar fitnah meminta maaf pada Dewi karena sudah salah paham. Mau tak mau, Dewi pun memaafkan. Meskipun Dewi kesal karena sudah diperlakukan seperti itu, tapi Dewi tak mau membuat masalah semakin melebar. Ia berniat bekerja, tak berniat cari muka!
"Maafin kami ya, Wi. Jujur aja, kami tuh curiga dengan apa yang kamu lakukan. Perubahan kamu terlalu drastis. Kami nggak tahu kalau selama ini kamu ternyata adalah rekan bisnisnya Pak Wira." ujar si penebar fitnah yang merasa sangat bersalah. Rasa takut akan ancaman kehilangan pekerjaan membuatnya membuang gengsi dan meminta maaf.
"Iya, Mbak. Pak Wira memang sedang merencanakan bisnis. Kebetulan saya dan Pak Wira sedang riset bisnis barunya. Karena itu saya lebih dekat dengan Pak Wira sekarang." ujar Dewi.
Setelah mendamaikan kedua belah pihak, hubungan Dewi dan teman-temannya pun mulai membaik. Mereka tak lagi berpikiran buruk tentang Dewi. Dewi juga bisa bekerja tanpa harus menerima sindiran lagi.
****
Sejak semalam, Tari terus-menerus berada di tempat tidur. Ia merasa malas melakukan apapun. Pikirannya berkecamuk karena masalah yang ditimbulkan oleh anak kesayangannya.
__ADS_1
Agas yang bertanya tentang mobilnya saja tak ia gubris. Ia hanya terdiam dan sesekali menyeka air matanya agar Agas tak tahu apa penyebab Tari menjadi pendiam seperti ini.
"Mommy kenapa sih? Sejak semalam, Mommy terus berdiam diri dan kelihatan sedih. Mommy sakit? Atau ada masalah? Kalau ada masalah, Mommy cerita sama Abi. Kita selesaikan bersama. Jangan malah memendam sendiri, nanti Mommy pusing sendiri dan akhirnya jatuh sakit. Abi nggak mau Mommy kayak gitu." akhirnya Agas mengajak bicara istrinya dengan sabar dan penuh kasih.
Sebenarnya Tari masih ingin mengulur waktu untuk berbicara langsung mengenai keadaan Wira pada Agas. Namun sepertinya Tari enggak kuat memendam permasalahan ini seorang diri.
Tari pun duduk dan mengajak Agas berbicara. Sebisa mungkin mengatur perkataannya agar Agas tak langsung emosi.
"Bi, kalau Wira melakukan sesuatu yang Abi nggak sangka-sangka, Abi akan gimana?" tanya Tari membuka pertanyaan.
"Melakukan apa anak itu? Mabok-mabokan? Clubbing terus? Ngecewain mommy? Ngapain lagi dia?!" baru satu pertanyaan Agas sudah mulai curiga tentang Wira dan terlihat agak emosi.
"Bukan, Bi. Wira nggak kayak gitu kok. Mommy mau nanya dulu sama Abi karena ada hal lain yang jujur aja sulit buat Mommy ceritakan sama Abi."
"Sebenarnya ada apa sih, My? Abi curiga nih kalau anak bangor itu buat masalah lagi!" gerutu Agas.
"Ya... Dibilang masalah, ya memang ada masalah. Sebenarnya Mommy mau cerita, tapi Abi janji satu hal. Abi nggak boleh marah dan emosian! Kita selesaikan semuanya dengan baik-baik." minta Tari seraya menggenggam tangan Agas untuk meredam segala emosinya
"Tuh kan! Abi itu udah duga, pasti anak bangor itu buat masalah lagi deh! Ngapain lagi dia? Mobil Abi hilang? Mobil Abi dirusakin? Dilecet-lecetin lagi sama dia? Atau jangan-jangan, mobil Abi dijual ya sama dia? Duitnya habis buat apa sih? Abi itu udah bayarin apartemennya dia loh! Kenapa mobil Abi yang jadi sasaran?!" omel Agas panjang lebar.
Tari menghirup nafas dalam-dalam dan geleng-geleng kepala mendengar gerutuan dari Agas. Belum apa-apa, suaminya sudah emosi seperti ini. Bagaimana kalau tahu apa yang dilakukan oleh anaknya?
"Mobil Abi baik-baik aja." kata Tari menenangkan Agas. "Semalam, Mommy sengaja bawa mobil Mommy biar Wira bisa antar langsung ke sini sekalian ketemu Abi. Nggak ada yang lecet, nggak ada yang nabrak dan semuanya masih utuh." ujar Tari.
Agas terlihat menghela nafas lega. Mobil kesayangannya masih baik-baik saja, namun Agas yakin memang ada masalah yang anaknya buat.
"Terus anak itu buat masalah apa lagi?! Kerjaannya nggak bener? Dia ngambil duit kantor? Atau dia pakai obat-obatan ya? Awas aja anak itu kalau berani pakai obat-obatan!" lagi-lagi Agas berpikir kalau anaknya senakal itu. Memang sih, Wira anak yang bangor, tapi tidak sampai sejauh itu.
Tari mengusap dadanya untuk menambah stok sabar dalam dirinya. Masalah Wira belum kelar, ini Agas susah sekali diajak ngomong yang serius. Terlalu banyak curiga sama anak sendiri dan berpikir terlalu jauh tentang anaknya.
Sabar Tari... Sabar....
__ADS_1
****