
"Oke! Meski kita semua agak terkejut eh bukan agak lagi sih tapi sangat terkejut dengan berita tentang pernikahan Wira dan Dewi, kita masih ada yang harus diselesaikan di sini." ujar Bastian. "Pertikaian antara Wira dan Zaky."
"Sekarang Zaky sudah tau kalau ternyata Dewi adalah istrinya Wira," sambung Bastian. "Zaky punya salah sama Wira karena sudah menggoda istrinya. Minta maaf sekarang!"
Wira tersenyum dan merasa di atas awan. "Salah kan lo? Cepet minta maaf!" Wira menjulurkan tangannya dan meminta Zaky salim.
"Tapi dia juga salah, Om! Dia yang nonjok muka aku duluan!" adu Zaky tak terima begitu saja dirinya disalahkan.
"Lo juga, Bangor! Lo salah! Lain kali ngomong baik-baik, jangan main tonjok aja anak orang!" omel Bastian kini pada Wira.
"Wajar dong Om kalo Wira marah, udah dibilang Dewi bininya Wira, eh dia masih aja ngeyel! Kalo udah dikasih bogem mentah baru deh nyadar!" sahut Wira tak mau kalah.
"Makanya lo kalo ngomong yang serius!" balas Zaky.
"Kurang serius apa gue? Apa mesti mata gue melotot-melotot segala?!" sahut Wira.
"Ya Allah! Kalian berdua ya beneran kayak anak kecil!" omel Damar yang mulai kesal dengan pertikaian Wira dan Zaky. "Kapan selesainya kalau kalian begini terus?"
Wira dan Zaky kini terdiam. Bastian kembali mengambil alih upaya mendamaikan kedua pihak.
"Oke. Zaky salah sama Wira karena sudah menggoda istrinya dan Wira juga salah sama Zaky karena sudah main fisik. Sekarang kalian saling minta maaf!" perintah Bastian.
Wira dan Zaky saling tatap dengan penuh rasa kesal satu sama lain. Keduanya seakan enggan untuk mengulurkan kedua tangannya. Jiwa muda, ego besar. Tak ada yang mau kalah.
"Enggak ada yang mau minta maaf nih?" tanya Riko. "Yaudah kita adu aja! Biarin aja saling berantem sampai dua-duanya bonyok!"
"Betul itu! Ego digedein! Lebih baik gedein punya lo, bisa bikin cewek senang!" sahut Sony.
"Apaan sih lo berdua! Jangan becanda aja!" omel Bastian. "Cepet minta maaf!" perintah Bastian pada Wira dan Zaky.
Dengan malas kedua anak lelaki itu mengulurkan tangannya tapi langsung dilepas lagi.
"Ulang! Enak aja minta maaf kayak gitu! Yang bener!" omel Bastian.
Kembali Wira dan Zaky berjabat tangan. "Maaf." ujar keduanya singkat.
"Peluk dong! Biar damai!" perintah Bastian lagi.
Meski hendak protes, namun mereka terbiasa menuruti apa yang Bastian katakan. Mereka pun berpelukan lalu secepatnya dilepas lagi.
"Oke. Damai kan? Jangan lagi berantem!" pesan Bastian.
__ADS_1
"Iya, Om." jawab keduanya kompak.
"Udah sana kamu pulang! Udah malam! Nanti Dewi masuk angin diajak kamu jalan-jalan malam terus!" perintah Agas.
"Weits! Tunggu dulu, jangan disuruh pulang dulu dong!" larang Sony.
"Kita mau nanya-nanya dulu!" kata Riko menambahkan.
"Nanya apalagi sih?" protes Agas.
"Ya nanya kenapa mereka bisa nikah muda! Kena grebek polisi sampai dinikahin?" tanya Riko.
"Enak aja! Kita berdua selalu main aman, Om!" jawab Wira dengan polosnya.
Dewi mencubit pinggang Wira yang langsung mengaduh kesakitan. "Aww! Sakit, Wi! Lo mah kebiasaan! Sakit tau!"
"Tuh kan Om, ngomongnya aja masih lo gue dan enggak ada mesra-mesranya. Jadi wajar kan kalo Zaky enggak tau kalau mereka udah nikah?!" Zaky masih berusaha membela diri.
"Memangnya gue harus ngomong lembut terus? Yang penting gue sama Dewi udah nikah dan menjalani pernikahan dengan tanggung jawab masing-masing. Masalah buat lo?!" jawab Wira pedas.
"Ya lo akan terus membuat orang lain salah paham! Dewi aja masih manggil lo dengan sebutan Bapak!" jawab Zaky.
"Yoi, Om! Ada sensasi beda ya kalo dia teriak, 'Jangan, Pak! Jangan masukki aku!' ha...ha...ha..." Wira tertawa puas dengan ucapannya sendiri.
Agas menunduk malu, sementara teman-temannya malah ikut tertawa. Dewi melakukan apa yang Agas lakukan. Menunduk dengan wajah memerah.
"Gokil lo, Bangor! Mantap! Bisa membuat sensasi yang berbeda!" puji Sony.
"Yoi! Siapa dulu yang ngajarin?!" jawab Wira dengan bangganya. Mereka kembali tertawa bersama.
"Udah dong! Kasihan Dewi! Malu tuh kalian ledekkin!" protes Zaky.
Wira melirik ke arah istrinya yang tertunduk malu. Ditariknya tangan Dewi mendekat dan sebelah tangannya memeluk pinggang Dewi. "Jangan dimasukkin ke hati. Kalo lo biasa mendengar gue ngomong pedes, anggap aja sekarang gue lagi ngomong pedes sama lo. Bisa kan?"
Dewi mengangguk. Wira mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu sesaat. Dewi tau kejujuran dalam setiap ucapan Wira.
"Masih ada yang mau ditanyain lagi enggak? Maklum, pengantin baru. Bawaannya kalo deket suka nyetrum!" Wira tersenyum sambil melirik ke arah Zaky.
"Enggak ada! Udah sana pulang! Inget yang udah gue dan Sony ajarin!" jawab Riko.
"Weits, siap Master! Ini praktek terus! Makanya makin lengket, iya enggak istriku yang paling sabar di dunia?" tanya Wira pada Dewi.
__ADS_1
"Udah ayo Pak pulang! Udah malam!" jawab Dewi malu-malu.
"Oke! Siap!" Wira pun berdiri dan kembali menyindir Zaky. "Perut atas kenyang, tinggal memuaskan bawah perut aja nih!"
"Wuih, gayanya si Bangor!" celetuk Sony.
"Maaf nih, kita berdua pulang dulu. Yang enggak percaya kalo kita pasangan suami istri..." Wira melakukan hal yang tiba-tiba tanpa Dewi sadari. Menunduk sedikit dan mencium pipi Dewi, membuat Dewi semakin malu saja dibuatnya.
"Mau dipraktekkin yang lebih hot lagi?" ledek Wira seraya melirik ke arah Zaky yang membuang pandangannya.
"Udah! Norak lo ah!" omel Sony.
"Pulang sana!" sahut Riko.
Wira tertawa puas melihat reaksi sahabat-sahabat Abinya.
"Bi, pulang dulu!" Wira mengulurkan tangannya untuk salim.
"Iya! Jangan muncul dulu depan Mommy kamu dengan muka bonyok begitu! Bisa panjang urusannya!" Agas memberikan tangannya untuk Wira salim.
"Siap! Abi transfer uang buat aku jajan ya! Kalo enggak aku minta sama Mommy nih!" Wira tak mau kehilangan kesempatan meminta uang pada Abinya.
"Mau ngancem Abi?" sindir Agas.
"Enggak, kok. Baperan banget jadi bapack-bapack." Wira salim dengan semua sahabat Abi lalu mengajak Dewi pulang.
"Ayo, Wi! Kita lanjutkan meong-meong di tempat baru!" goda Wira seraya berjalan sambil merangkulkan lengannya di bahu Dewi.
Sahabat-sahabat Agas hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Wira.
"Kok bisa tuh anak mirip banget sama lo, Gas!" celetuk Sony.
"Ngeselinnya aja mirip!" sahut Riko.
"Ya gara-gara lo berdua! Makanya jangan deket-deket deh lo berdua sama anak kecil! Awas aja cucu gue nanti lo cekokin hal yang enggak bener! Gue sunatin lo berdua!" ancaman Agas hanya dibalas tawa mengejek oleh sahabat-sahabatnya.
Zaky yang merasa tak nyaman pun pamit pulang. Hatinya kesal, malu dan cemburu. Ia sudah kalah dari Wira. Cinta pertama namun sudah membuatnya patah hati.
****
Siapa yang suka Abang Wira? Yuk vote Abang Wira yang banyak ya 😘😘😘
__ADS_1