
"Sabar, Cinta. Aku belum selesai presentasi nih!" tolak Wira.
Dewi memanyunkan bibirnya. "Yaudah lanjut deh!"
"Oke, aku lanjut. Jadi, kamu ajukan resign karena mulai besok kamu akan bantu aku mencari ruko yang bisa menampung semua bisnis."
"Ajuin resign? Secepat itu? Bisa memang?" tanya Dewi.
"Enggak bisa kalau di perusahaan orang lain. Tapi bisa kalau pemilik perusahaannya adalah orang tua aku sendiri. Jadi, sekarang kamu tulis surat resign baru deh kamu bisa layani aku! Hmm... Aku mau baju yang warna hitam saja. Sexy in black tema kita malam ini!"
Dewi tak kuasa menahan senyumnya. "Oke. Sesuai tema. Sexy in black. Tunggu sebentar ya! Aku tulis surat resign dulu!"
****
Keesokan harinya Dewi membawa surat resign yang ia buat dan memberikannya pada manager cafe. Sebenarnya manager cafe juga sudah menduga kalau Dewi pasti tak akan lama lagi bekerja di cafe.
Menikah dengan anak pemilik cafe susah pasti tak akan diijinkan bekerja. Cukup jadi nyonya besar yang tinggal terima beresnya saja.
Sore hari sepulang bekerja untuk yang terakhir kalinya, Dewi dikejutkan oleh kiriman makanan yang ditujukan untuknya. Pengirimnya siapa lagi kalau bukan suaminya tercinta, Wira.
"Kamu kirim makanan banyak sekali?!" ujar Dewi yang langsung menelepon suaminya.
"Sengaja. Hari ini kamu terakhir bekerja. Bagi-bagikan dengan teman-teman kamu. Biasanya kalau hari terakhir kerja, yang mau resign membagikan makanan. Jadi kamu bagikan ya buat teman-teman kamu!" jawab Wira yang sedang berada di salah satu showroom milik Agas. Memeriksa laporan dan melakukan sidak.
"Ya Allah kamu perhatian banget sih, Sayang! Makin lope lope deh sama kamu!" ujar Dewi sambil tersenyum senang. Wira benar-benar perhatian dengannya. Hal terkecil pun Wira memperhatikannya.
"Aku juga." jawab Wira singkat. Ia sedang dikelilingi para karyawan, tak mungkin berkata mesra. Akan ditaruh di mana mukanya nanti.
Namun Dewi menaruh curiga. Kenapa Wira seakan menjaga perkataannya. "Kamu lagi dimana?"
"Di showroom Abi."
"Lagi ngapain?"
"Lagi sidak. Abi yang nyuruh." jawab Wira jujur.
Ide jahil pun terlintas di otak Dewi. Terlalu dekat dengan Wira sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya. "Oh... Selamat bekerja Sayangku. Love you!"
"Iya."
"Iya apa?" tanya Dewi seraya menahan tawanya.
"Iya kamu juga selamat bekerja." jawab Wira seraya menurunkan suaranya.
__ADS_1
"Love you-nya mana?" tagih Dewi.
"Iya." jawab Wira. "Nanti aja di rumah."
"Enggak mau! Maunya sekarang!" protes Dewi sambil menahan tawa.
"Aku lagi bekerja." bisik Wira. "Nanti aja ya di rumah!"
"Tuh kan! Kamu malu bilang love you di depan banyak orang?" akting Dewi pura-pura ngambek. Ditutupnya mulutnya karena sudah mulai tak kuat menahan tawa. Dewi sudah membayangkan bagaimana muka Wira di ujung sana. Pasti sedang panik dan bingung mau apa.
"Rasakan! Biasanya aku terus yang dikerjain!" batin Dewi.
"Aku lagi kerja. Minta yang lain aja ya!" nego Wira.
"Yaudah deh. Aku tutup, aku sayang kamu. Kamu sayang aku enggak?" belum puas rupanya Dewi mengerjai Wira.
"Iya." jawab Wira singkat.
"Iya apa?"
"Iya sama kayak yang kamu katakan tadi!"
"Apa?"
Dewi juga ikut tertawa. Ia tak bisa bayangkan bagaimana muka Wira sekarang. Pasti sangat menggemaskan. Perpaduan antara kesal dan malu menjadi satu.
"Udah. Apalagi? Udah terlanjur malu nih aku, kamu mau minta apalagi?" ujar Wira dengan kesal.
"Udah dong, Sayang. Selamat bekerja, aku tunggu dijemput kamu ya! Love you muach!" Dewi menutup sambungan teleponnya sambil senyum-senyum sendiri. Suaminya benar-benar menggemaskan!
Dewi kemudian membagikan makanan yang Wira belikan. Teman-temannya di cafe tentu sangat senang menerima pemberian dari Dewi. Saat akhirnya shift kerja Dewi selesai, mereka mengadakan perpisahan untuk Dewi.
Secara bergantian mumpung cafe sedang sepi, mereka mengucapkan selamat berpisah pada Dewi di dalam ruang karyawan.
"Semoga sukses ya Wi dengan bisnis barunya! Aku ikut mendoakan!" ujar si julid yang dulu sempat menebar fitnah pada Dewi.
"Iya, aamiin. Makasih doanya ya Mbak." ujar Dewi.
"Semoga kamu makin bahagia ya Wi. Jangan lupa sering main ke sini. Jangan lupakan kita semua!" ujar manager cafe.
"Iya, Pak. Terima kasih doanya. Saya akan mampir kok sesekali!"
Acara perpisahan yang sederhana. Tanpa kado dan hanya ucapan perpisahan saja, namun sudah membuat Dewi merasa dihargai keberadaannya di cafe ini.
__ADS_1
Tanpa sadar Dewi menitikkan air matanya. Rasa haru menyergapnya. Ia akan resign dan fokus menjadi istri yang baik.
Wira menjemput Dewi yang pulang dengan wajah agak sembab. "Nangis juga? Kirain enggak?! Mengingat ada di antara mereka yang sempat membully kamu dulu!"
"Ya nangis lah! Mereka enggak seburuk itu. Aku sudah maafin mereka. Malah aku merasa sedih berpisah dengan mereka. Ada banyak kenangan di cafe itu."
"Kenangan apaan? Karena banyak cowok yang godain kamu?" cibir Wira.
"Itu sih salah satunya!" balas Dewi membuat mata Wira mendelik.
"Oh... Jadi senang ya ada yang menggoda kamu?!" sindir Wira.
"Iyalah. Senang. Punya banyak fans." pancing Dewi lagi. Entah kenapa sekarang ia suka sekali mengerjai Wira. Entah membuatnya cemburu atau marah. Seperti ada kepuasan tersendiri jika melakukannya.
Wira terdiam namun wajahnya nampak kesal. "Masih senang punya banyak fans?" tanya Wira sekali lagi.
Dewi melirik sekilas dan merasa tak tega mengerjai suaminya terus menerus. "Senang sih... Tapi lebih senang lagi punya banyak cinta dari kamu!" goda Dewi.
"Bokis! Ayo pulang!" ajak Wira yang masih menekuk wajahnya.
Mereka pulang dalam diam. Beberapa kali Dewi mengajak Wira ngobrol namun suaminya memilih diam. Nampak masih kesal dengan perkataan Dewi tadi.
Di ruko pun demikian. Wira memilih mengerjakan konsep bisnis dan mengacuhkan Dewi. Benar-benar kesal rupanya. Wira sendiri tak tahu kenapa ia sampai sekesal itu. Yang jelas ia tak mau Dewi punya banyak fans. Cemburu yang aneh, padahal Dewi jelas hanya meledeknya saja seperti biasa.
Sampai sebuah telepon membuat Wira harus mengangkatnya. Ternyata Abi yang meneleponnya.
"Assalamualaikum, Bi. Kenapa telepon malam-malam?" tanya Wira. Tak biasanya Abi telepon malam hari kecuali jika penting.
"Waalaikumsalam. Wira, Abi dapat info dari anak buah Mommy kalau cafe Mommy di Bali mengalami kebakaran!" kata Abi di ujung telepon sana.
"Astaghfirullah! Kebakarannya parah Bi?" tanya Wira.
Dewi yang mendengar kata kebakaran berjalan mendekat, ingin tahu apa yang terjadi.
"Abi kurang tau! Abi enggak bisa kesana. Kamu saja yang kesana. Kamu urus sekalian cari tempat baru jika memang harus pindah! Mommy kamu mana bisa mengurus semua seorang diri. Lebih baik kamu saja!"
"Wira? Pergi besok?"
"Sekarang dong! Kamu harus data semua barang milik kita yang masih tersisa. Jangan sampai habis semua dilahap api! Mommy kamu udah nangis aja nih sejak tadi!" omel Agas.
"Yaudah, Wira siap-siap dulu! Kirimin uang buat beli tiket dan biaya di sana!" pinta Wira.
"Iya."
__ADS_1
****