Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Ajakan Sholat


__ADS_3

Dewi menurut saja apa yang Wira perintahkan. Mereka berdua makan malam dengan stok makanan pemberian Tari. Selesai makan, Dewi membersihkan dirinya lalu mengambil air wudhu untuk sholat. Rupanya Dewi sudah membawa mukena dari rumah, jadi bisa sholat dimana saja.


Wira terus memperhatikan Dewi yang begitu khusyuk dalam berdoa. Dalam hati Wira terus bertanya-tanya, sejak kapan Dewi mulai rajin sholat? Setau Wira, dirinya dan Dewi bukan umat yang terlalu taat beribadah. Karena kurang iman itulah perjanjian bisnis plus plus di antara mereka bisa terjalin.


Wira menunggu sampai Dewi selesai sholat dan melipat alat sholat yang terlihat sudah agak usang. Meski jarang digunakan, mukena miliknya terlihat sudah lama karena itu terlihat usang. Mungkin bekas ibunya? Entahlah.


"Kenapa melihat saya kayak gitu, Pak? Bapak mau sholat juga?" tanya Dewi yang rupanya menyadari kalau sejak tadi pandangan Wira tak beralih darinya.


Dewi menaruh mukena miliknya di atas sofa yang ada di dalam kamar. Ia lalu bergabung dengan Wira yang sudah lebih dahulu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dengan cueknya Dewi masuk ke dalam pelukan Wira dan memeluk tubuh Wira dengan erat.


"Sejak kapan lo mulai sholat... lagi?" tanya Wira.


"Sejak semalam."


"Kenapa?" tanya Wira penasaran. Dirapihkannya anak rambut Dewi yang menutupi wajahnya.


"Hmm... Karena saya merasa semua masalah yang ada dalam hidup saya karena saya menjauh dari Allah. Semalam saya enggak bisa tidur, Pak. Kepikiran Bapak. Semua masalah saya bahkan kini sudah menyusahkan hidup Bapak yang sudah menolong saya,"


"Saya mau minta tolong sama siapa lagi kalau Bapak saja terkena imbas karena menolong keluarga saya? Hanya kepada Sang Maha Pencipta saya meminta. Saya sadar kalau selama ini saya sudah abai, karena itu Allah memberikan saya cobaan agar saya mendekatkan diri saya lagi pada-Nya. Setelah saya sholat, hati saya lebih tenang. Saya udah pasrah dengan apa yang terjadi dalam hidup saya. Hanya berserah sama Allah dan percaya bahwa akan ada pertolongan Allah dalam hidup saya."


Wira menatap Dewi dengan tak percaya. Wanita yang dulu mengajaknya bisnis plus plus bahkan sampai mau menjual diri pada om-om senang, kini malah menceramahinya tentang sholat. Cepat sekali Dewi berubah, Dewi kini sudah memasrahkan hidupnya pada Sang Pencipta. Kemajuan yang sangat drastis dan dalam waktu singkat.


"Bapak sholat juga yuk?!" ajak Dewi.


"Gue? Nanti aja! Gue ngantuk!" Wira malah memeluk Dewi balik dan membenamkan kepalanya sambil mencium harum rambut Dewi. Tak lama suara dengkuran halus mulai terdengar, pertanda Ia sudah masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


"Huft..." Dewi bisa apa? Memberitahu sudah. Memaksa? Wira bukan orang yang bisa dipaksa, apalagi dalam hal beribadah. Dewi yang belum lama mengenalnya saja sudah tahu karakter Wira.


"Sudahlah! Nanti saja pelan-pelan memberitahunya." batin Dewi.


Dewi yang dilanda rasa kantuk pun mulai memejamkan matanya. Rasa lelah seharian dan kurang tidur membuat tidurnya lelap.


Sayangnya, Wira tidak demikian. Ia memang sempat tertidur sebentar namun di sepertiga malam ia terbangun. Matanya kembali segar seakan sudah tidur amat lama. Memeluk Dewi agar bisa tidur pulas kembali ternyata tak mempan. Tetap saja matanya kering tak mau dipejamkan.


Sudah beberapa hari Wira seperti ini. Waktu tidur di malam hari seakan kurang. Bahkan Wira mengubah jam tidurnya. Siang jadi malam dan malam jadi siang.


Wira menatap wanita cantik yang tertidur pulas dengan lengannya sebagai bantalan. Wanita cantik yang Wira nikahi tanpa landasan cinta dan hanya hawa napsu serta perasaan iba semata.


Sekarang setelah kedua orang tuanya tau, pernikahan mereka tak lagi sekedar pernikahan atas dasar iba. Melegalkan pernikahan mereka di hadapan hukum pasti tak akan lama lagi. Wira kenal bagaimana Abi dan sifat Abi yang sangat tak menyukai nikah siri.


Abi bilang, kalau menikahi perempuan jangan secara siri. Nikahi dengan hukum agama dan negara yang berlaku. Hargai wanita dengan menikahinya dengan benar.


Dewi tertidur dengan lelap. Sudah lama Wira menatapnya namun tetap saja Dewi tak menyadari. Wira tahu istrinya sangat lelah seharian bekerja dan juga melayaninya, karena itu Wira tak mau membangunkan Dewi.


Sudah jam setengah 3 pagi. Jika bukan karena besok pagi harus ke rumah Dewi, Wira pasti akan mengambil stik PS dan memainkannya sampai rasa kantuk datang. Ia harus tidur agar besok tak kesiangan.


Wira menatap sajadah milik Dewi dan teringat mukena miliknya yang sudah usang. Lusa dirinya gajian. Hal pertama yang mau Wira beli adalah mukena untuk Dewi. Membayangkannya saja sudah membuat Wira tersenyum bahagia.


"Coba sholat aja deh!" putus Wira.


Ia lalu menaruh kepala Dewi di atas bantal secara pelan-pelan. Tak mau membangunkan Dewi yang tertidur lelap.

__ADS_1


Wira lalu mencari kain sarung miliknya yang berada di tumpukan baju paling bawah. Ada sejadah baru yang akan Wira berikan untuk Dewi sholat.


Wira pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Meski terasa dingin, namun air wudhu membuatnya merasa tenang dan mensucikan tubuhnya yang terasa kotor akan dosa.


Wira menggelar sajadahnya menghadap kiblat. Memakai kain sarung yang terlihat baru karena tak pernah dipakai.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


Wira mulai membaca niat sholat tahajud dalam hati, lalu...


"Allahu Akbar!"


Hatinya bergetar kala mengucap kalimat takbir. Rasa hangat dan tenang pun mulai melingkupinya.


Wira mulai khusyuk sholat. Setiap sujudnya berisi penyesalan akan dosa yang telah diperbuatnya. Wira bahkan tak menyadari, sejak takbir pertama air mata sudah menetes di wajahnya.


Wira yang tak niat sholat dan awalnya hanya ingin mengikuti apa yang Dewi lakukan, kini malah berdoa dengan khusyuk sambil berderai air mata.


"Ya Allah, jika semua ini sudah ketetapan-Mu, berikan hamba-Mu ini kekuatan dalam menjalaninya. Hamba percaya, semua karena kuasa dari-Mu. Semoga hamba bisa menjadi suami yang baik untuk Dewi. Semoga kami bisa menghadapi segala ujian dan cobaan yang Engkau berikan. Hamba percaya, Engkau tak akan menguji seseorang melebihi kemampuannya. Permudah segalanya ya Allah. Semoga Engkau mencukupkan rejeki Hamba agar Hamba bisa membantu keluarga Dewi, Aamiin!"


Wira merasakan perasaan tenang yang sebelumnya tak ia rasakan. Rasa kantuk juga mulai datang. Wira melipat sajadah dan kembali memeluk Dewi dengan erat.


Wira pun tertidur dengan pulas. Rupanya yang membuat Wira tak bisa tidur adalah terlalu cemas memikirkan masa depannya. Terlalu takut kalau uang yang dimilikinya akan kurang. Terlalu takut kalau tabungannya akan habis.


Kini Wira pasrah, Wira percaya rejekinya akan diperbanyak lagi sama Allah. Kebutuhannya akan dicukupkan karena Allah adalah sebaik-baiknya tempat meminta.

__ADS_1


****


__ADS_2