Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Meyakinkan Investor-1


__ADS_3

"Enggak ada masalah sih." jawab Abi.


"Nah! Ini yang aku suka! Enggak ada masalah! Jadi, Abi biayain semua ide yang aku keluarin dalam presentasi barusan!" ujar Wira seenaknya.


"Loh kok Abi?" tanya Abi seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Iya dong! Tentu Abi. Jadi begini, Bi. Dalam bisnis plus plus ini, bukan hanya bisnis laundry Wira yang akan berkembang. Namun juga bisnis cafe Mommy. Lalu akan ada bisnis baru yakni bisnis salon. Tuh, si Carmen pengen banget kan jadi pengusaha salon? Ini tuh sekali tepuk, sekebon nyamuk mati semua!" ujar Wira dengan semangat berapi-api.


"I... ya sih!" aku Abi.


"Kalau Abi mau anak kesayangan Abi, si Carmen yang lahirnya brojol di mobil itu punya bisnis salon sedari masih kuliah, ya Abi modalin lah! Masa sih anak-anaknya Agastya Wisesa enggak dapat sokongan dari Abinya sendiri?!" Wira kembali memanasi Agas.


"Iya juga sih." lagi-lagi Abi mengakui kebenaran kata-kata Wira.


"Percaya sama Wira deh, Bi. Bisnis ini akan menjadi bisnis yang benar-benar punya nilai plus. Plus pertama, pelanggan tak perlu repot pergi ke banyak tempat. Di sini akan ada laundry, salon, dan cafe dalam satu tempat. Plus kedua, pelanggan lebih hemat waktu. Plus ketiga, pelebaran bisnis kita lebih mudah. Plus lainnya, kita hanya perlu sewa satu ruko untuk semua kerajaan bisnis kita. Gila enggak tuh ide aku?!" ujar Wira penuh percaya diri.


Tari dan Agas kembali saling tatap. Tak menyangka kalau putra mereka yang super ngeselin dan bangor punya ide cemerlang seperti itu.

__ADS_1


"Kamu habis kepentok ya kepalanya?" tanya Mommy. "Kok jadi punya ide cemerlang kayak gitu sih?!"


"Iya nih! Kayaknya salah makan deh! Dikasih makan apa kamu sama Dewi?" tanya Abi.


"Dikasih cinta dan sayang yang banyak!" jawab Wira penuh percaya diri.


"Iyuuuhh... Mau muntah Abi!"


"Mommy juga agak geli denger dia ngomong begitu, Bi!" tambah Tari.


"Apalagi aku yang dengar kalian begini terus selama ini? Geli kan? Sekarang gantian, aku balas!" ujar Wira dengan kesal.


"Mommy setuju! Mommy akan invest cafe di tempat kamu!" jawab Tari tanpa pikir panjang.


"My, jangan asal setuju. Kita harus pelajari konsepnya dulu." larang Abi.


"Mau pelajari apalagi, Bi? Nih anak kalau otaknya lagi bener kayak begini, jangan diragukan! Sama kayak Abi, dia kalau lagi begitu otak bisnisnya ngejiplak Abi banget. Masa sih Mommy enggak percaya?" bela Mommy.

__ADS_1


"Ya... tapi..." Agas masih ragu.


Wira pun memainkan kartu As miliknya, memancing harga diri Abinya. "Yaudah kalau Abi enggak mau, Wira akan tawarkan Om Damar. Jiwa pebisnis Om Damar pasti akan melihat peluang bagus seperti ini yang ada di depan matanya. Kalau Om Damar sih pasti-"


"Kata siapa Abi enggak mau sih?" potong Abi sebelum Wira selesai bicara. "Abi hanya lagi-"


"Kalau Om Damar sih enggak akan pikir panjang, pasti akan-" Wira yang memotong ucapan Abinya kembali dipotong balik oleh Abinya.


"Abi setuju! Tanpa pikir panjang, Abi setuju! Mau bisnis apa? Salon? Laundry? Sok atuh, Abi dukung!" jawab Agas yang tersulut emosinya.


"Nah gitu dong! Wira akan siapin rencana bisnisnya, juga akan survey lokasi dan anggaran biaya. Abi siap-siap aja mengucurkan dana, tapi kalau Abi enggak kuat dananya Wira akan minta Om-"


"Abi kuat kok! Kuat! Mau modal berapa? Abi akan modalin!" ujar Agas tak mau kalah.


Wira tersenyum puas. "Dasar bapack-bapak gede gengsi! Baru dipanasin begitu aja udah terbakar!" batin Wira.


****

__ADS_1


tbc


__ADS_2