Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
LDM-3


__ADS_3

"Nanti Kakak sakit. Makan dulu ya, Kak. Kakak suka capcay bukan? Ratna buatkan ya, Kak?" tawar Ratna yang perhatian dengan kakaknya.


Dewi kembali menggelengkan kepalanya. "Kamu tidur saja, Dek. Sudah malam. Kamu pasti capek seharian membantu Ibu dan sekolah. Tidurlah! Jangan khawatirkan Kakak!"


"Beneran? Kalau Kakak mau aku buatkan capcay, bangunin aku aja ya Kak!" Ratna menguap tak kuat menahan kantuk. Tubuhnya lelah dengan kesibukannya bekerja sambilan dan sekolah.


Dewi tersenyum melihat adiknya begitu perhatian terhadapnya, bahkan rela menahan kantuk hanya demi membuatkannya makanan. "Kakak bisa masak sendiri, Dek. Kamu tidur saja!"


"Hoam!" Ratna kembali menguap. "Aku tidur dulu ya, Kak. Ingat, jangan begadang!"


Dewi tak mengiyakan permintaan Ratna karena ia tahu, malam ini ia tak akan tidur tenang. Dewi terus memikirkan Wira.


Suaminya adalah pecinta kehidupan malam nan bebas dan gemerlap. Bali adalah surganya. Apalagi Wira berada jauh darinya. Siapa yang akan mencegahnya bersenang-senang?


Dewi sadar, suaminya punya hasrat yang tinggi. Berjiwa muda dan staminanya kuat karena sering olahraga. Meski lelah, Dewi selama ini tak pernah menolak ajakan Wira untuk berhubungan suami istri.


Semua karena satu hal...


Ia tak mau suaminya melampiaskan hasratnya pada wanita lain!


Sejak bertemu Wira di club saat dirinya hendak menjual diri waktu itu, Dewi tau kalau Wira berhasrat tinggi. Merasa Wira sudah mengambil kesuciannya, Dewi tak rela kalau Wira sampai melakukan hubungan badan dengan wanita lain selain dirinya.


Kini, dirinya berada jauh dari Wira. Rasa rindu yang menggebu, rasa khawatir yang tinggi dan ketakutan suaminya akan mencari kesenangan di luar sana membuatnya semakin cemas saja.


Matanya terasa kering tak mau dipejamkan. Perutnya lapar namun tak berselera makan. Pikirannya terus berkecamuk memikirkan suaminya.


Andai ia menantu yang tak tahu diri, ia akan meminta mertuanya untuk membelikannya tiket ke Bali dan menyusul suaminya. Namun Dewi sadar diri.


Mommy dan Abi pasti tanpa pikir panjang akan membelikannya tiket ke Bali namun Dewi malu. Ia sudah banyak menyusahkan keluarga Wira. Baru saja kemarin keluarga Wira mengeluarkan banyak uang untuk acara selamatan pernikahan dirinya dan Wira. Ia tak mau lagi membebani kedua mertuanya hanya karena kekhawatirannya yang konyol dan tak beralasan.


Dewi membuka mobile banking di hp miliknya. Uang dari bisnis plus-plus saat awal dulu hanya tersisa untuk biaya pendaftaran Bahri masuk kuliah. Uang tersebut dipisahkan dari uang bulanan yang Wira berikan padanya.

__ADS_1


Uang bulanan dari Wira akan ia pergunakan dengan sebaik-baiknya sampai waktu Wira gajian nanti. Kalau Dewi menggunakan uang tersebut untuk membeli tiket ke Bali, tentu akan kurang. Bagaimana kehidupannya selanjutnya? Sedangkan Wira saja sampai berhemat hanya demi membuka bisnis dengan modal besar seperti ini.


Dewi kembali menghubungi hp Wira namun masih tak ada jawaban. Apakah Wira di sana sedang bersenang-senang atau malah sedang sibuk bekerja? Pikiran Dewi terus tak tenang. Akhirnya, Dewi memilih untuk membaca Al-Quran sampai ia mengantuk dan tertidur di atas sajadah.


****


Ratna terbangun saat alarm miliknya berbunyi. Ia mencari Dewi yang tak tidur di sampingnya dan mendapati kakaknya malah tidur di atas sajadah dengan memakai mukena.


Ratna beranjak dari tempat tidur dan mendekati Dewi. "Kak! Bangun, Kak! Kenapa Kakak malah tidur di lantai? Nanti masuk angin, Kak!"


Dewi terbangun dan mengerjapkan matanya. "Jam berapa sekarang, Na?" tanya Dewi.


"Setengah enam pagi, Kak!" jawab Ratna.


Dewi sadar dirinya sudah ketiduran. Cepat-cepat diperiksa Hp miliknya. Berharap Wira menghubunginya. Namun hanya kekecewaan yang ia dapat. Wira tak menghubungi, membaca pesan yang dikirimkannya saja tidak!


"Sholat dulu, Kak! Nanti tidur lagi di tempat tidur ya! Jangan tidur di bawah, nanti masuk angin!" ujar Ratna.


Dewi pun bergegas ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya di toilet. "Hueekk... Huekkk!"


Ratna yang panik segera datang dan membantu memijit leher belakang Dewi. "Tuh kan! Kakak masuk angin! Bandel sih! Aku udah suruh makan malam enggak mau, eh malah tidur di lantai! Gimana enggak masuk angin coba?!" omel Ratna.


Dewi tak pedulikan omelan Ratna. Perutnya terasa mual namun tak ada makanan yang ia muntahkan karena sejak kemarin siang ia belum makan lagi.


"Ratna buatkan teh hangat dulu ya, Kak!"


Dewi hanya mengangguk karena perutnya kembali mual dan ia ingin muntah. Dewi kembali muntah.


Secepat mungkin Ratna membuatkan teh manis hangat untuk kakaknya. Ia juga membawakan setangkup roti yang cepat-cepat ia olesi selai cokelat untuk mengisi perut kakaknya yang kosong.


Ratna menaruh teh manis dan roti di atas nakas lalu memapah kakaknya yang sudah puas muntah ke atas tempat tidur. Hati-hati Ratna menidurkan Dewi.

__ADS_1


"Ya Allah, Kak. Badan kakak dingin begini! Minum dulu teh hangatnya dan makan rotinya sedikit agar perut kakak enggak kosong!" Ratna menyuapi Dewi minum teh hangat dengan sendok. Hanya sedikit yang Dewi minum, namun Ratna memaksa. "Lagi, Kak. Wajah kakak pucat gitu. Ratna panggil Ibu ya, Kak?!"


Dewi menggelengkan kepalanya. "Kakak baik-baik aja, Na. Hanya masuk angin biasa. Sebentar lagi juga enakkan kalau Kakak tidur. Kakak mau sholat subuh dulu!"


"Sholatnya sambil duduk aja, Kak. Takut Kakak pusing kalau sholat sambil berdiri!" ujar Ratna. Dewi mengangguk lemah.


Saat Dewi sedang sholat, Hp Dewi berbunyi. Ratna melirik sekilas dan peneleponnya adalah kakak iparnya yang sejak semalam ditunggu kabarnya sampai kakaknya sakit.


"Assalamualaikum, Kak."


"Waalaikumsalam. Ratna ya? Dewi mana?" tanya Wira yang terdengar baru bangun tidur.


"Kak Dewi lagi sholat, Kak. Sejak kemarin Kak Dewi mengkhawatirkan Kak Wira sampai sakit." ujar Ratna jujur.


"Hah? Dewi sakit? Sakit apa?" Wira langsung panik mendengar istrinya sakit.


Dewi yang sudah selesai sholat pun mengambil telepon dari tangan Ratna. "Biar Kakak yang bicara, Na. Kamu bukakan saja pintu bawah. Sebentar lagi Ibu datang!" ujar Dewi.


"Baik, Kak."


Setelah Ratna pergi, Dewi lalu berbicara dengan Wira. "Kamu lagi apa?"


"Kamu sakit, Sayang? Sakit apa? Kok enggak ngabarin aku sih!" ujar Wira yang terlihat khawatir.


"Aku enggak apa-apa. Cuma masuk angin biasa kok. Kamu kemana aja sih?! Kok aku hubungi enggak pernah dibalas?!" selidik Dewi.


"Maaf sekali, Sayang. Aku sibuk mencari tempat baru untuk cafe. Ternyata susah mencari tempat yang pas. Aku tak sempat menelepon kamu. Sibuk hitung-hitungan budget, apalagi di sini harga sewanya lumayan tinggi. Niatnya aku mau telepon kamu malam hari eh aku malah ketiduran. Maaf ya Sayang!"


Dewi menghela nafas lega. Ia tahu Wira tak berbohong. Namun ia sedikit kecewa, mengapa Wira tak menyempatkan sedikit waktunya hanya untuk mengirim pesan memberi kabar padanya?


****

__ADS_1


__ADS_2