
Dewi menitikkan air matanya di depan Tari. Tak kuasa menahan air matanya. "Menangislah! Menangislah agar hati kamu lega. Tapi ingat, setelah menangis jangan berpikir buruk lagi tentang suami kamu!" nasehat Mommy Tari dengan lembut.
Dewi masih menangis sampai hatinya plong. "Mungkin ini salah satu hormon sensitif saat hamil. Bukan kamu saja, dulu saat Mommy hamil juga sensitif. Apalagi dulu Abi sempat ada masalah sampai Mommy memutuskan pisah rumah. Jangan ditiru ya! Abi dulu dewasa, membimbing Mommy dan dengan sabar membuat emosi Mommy menghilang. Berbeda dengan Wira yang masih labil dan emosional. Nanti juga Wira akan menyesal. Kamu intinya sabar saja. Karena tak ada yang tak manis hasilnya jika menanam kesabaran."
Dewi mengangguk. "Iya, My. Dewi akan lebih sabar lagi." ujar Dewi dengan sesegukan.
"Bagus! Itu baru menantu hebat Mommy. Percayalah, berada di sisi orang hebat membutuhkan kesabaran yang besar. Hanya kita wanita hebat yang bisa melakukannya!"
****
Wira tak lagi bisa konsentrasi bekerja. Ia akhirnya mempercayakan pada Pak Budi dan karyawannya untuk mencari barang-barang yang harus dibeli. Untuk masalah tempat, akhirnya Wira bisa mendapatkan yang sesuai namun harus sedikit renovasi.
Setidaknya sekarang pekerjaan Wira tak terlalu berat seperti sebelumnya. Hanya cukup mengawasi pekerjaan dekorasi sesuai konsep yang diinginkan.
Wira memutuskan duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah pantai. Angin laut menerpa wajahnya, seakan menertawakannya yang sedang kalut.
Sejak tadi, ia terus menatap layar Hp miliknya yang ia letakkan di meja. Sesekali layar Hp tersebut menyala kala ada pesan yang muncul.
Wira melamun dengan pikirannya yang labil.
"Gue akan menjadi seorang ayah, benarkah?" berulang kali Wira menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Seakan tak percaya kalau semua fakta yang diberikan oleh Tari adalah benar adanya.
"Permisi, Pak!" suara seorang laki-laki menyadarkan Wira dari lamunannya.
"Iya. Kenapa?" tanya Wira agak terkejut.
"Maaf Pak, untuk cat ruang atas sudah selesai. Mungkin Bapak bisa lihat dahulu apakah ada kekurangan?"
"Iya. Akan saya lihat!" Wira pun beranjak dari kursinya dan memeriksa hasil pekerjaan di lantai atas.
Wira kembali fokus bekerja, seakan tak mau rasa khawatir dalam dirinya kembali menguasai. Masih banyak yang harus ia kerjakan jika ingin segera kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Wira benar-benar menghabiskan waktunya dengan bekerja. Sesekali ia mengirimi Dewi pesan, namun tak dibalas oleh Dewi.
Sampai beberapa hari kemudian, Dewi tak juga membalas setiap pesan Wira dan tak mau mengangkat telepon darinya. Wira sadar Dewi masih marah akan sikapnya yang memang sangat menyakitki hatinya.
Untuk mengetahui kabar tentang Dewi, Wira terus menghubungi Bahri atau Ratna yang bertugas sebagai mata-matanya. Meminta Ratna memantau kakaknya apakah makan dengan benar, apakah masih lemas, apakah mual terus menerus?
"Sayang, cafe sudah hampir selesai. Persiapan sudah 90 persen. Doakan semoga pembukaan cafe baru nanti lancar dan ramai pengunjung ya!"
Wira menatap pesan yang dikirimkan sejak pagi hari namun hanya centang biru, yang artinya sudah dibaca namun tak dibalas oleh Dewi. Wira sudah menyesali sikapnya namun sepertinya tak semudah itu Dewi memaafkannya. Rupanya rasa sakit yang dirasakan Dewi sudah begitu membekas. Membuat Wira semakin merasa bersalah saja dan ingin secepatnya kembali ke Jakarta.
"My, tolong bujuk Dewi dong! Jangan marah terus-terusan sama Wira." mohon Wira pada Mommy Tari.
"Enggak mau! Semua karena salah kamu! Siapa suruh istri mengabarkan kehamilan eh ekspresinya malah kayak begitu! Jangankan Dewi, Mommy saja kesal banget dengan sikap kamu!" tolak Tari.
"Tapi ini marahnya sudah berhari-hari, My. Belum pernah Dewi seperti ini sama Wira. Sekalipun marah juga cuma sebentar saja, My! Tolong bantu Wira, My! Wira belum bisa pulang sekarang, kita 'kan harus membuka cafe dulu dan melihat bagaimana kemajuan cafe di tempat baru. Please, My... Bantu anak gantengmu ini!"
"Enggak mau! Udah ah Mommy mau ngobrol sama Dewi!"
"Loh? Mommy memang ada dimana? Kok ada Dewi?"
"Yaudah, tolong bujuk Dewi dong My. Bantuin Wira." pinta Wira dengan sangat.
"Enggak ah. Udah ya, Mommy mau ngobrol sama Dewi dan Zaky." Tari mau menutup teleponnya tapi Wira menghentikannya.
"Tunggu dulu. My. Kok bisa ada Zaky? My, please... Jangan biarkan Dewi dekat dengan Zaky. Please banget, My. Aku mohon..." Wira panik mendengar Dewi yang sedang mengobrol dengan Zaky. Takut Zaky akan mencari kesempatan untuk mendekati istrinya lagi, apalagi sekarang hubungan Wira dan Dewi sedang kurang baik.
"Memangnya kenapa sih? Biarkan saja mereka mengobrol? Mommy lihat Dewi asyik saja tuh mengobrol dengan Zaky. Seperti bicara dengan teman lama." tanya Tari.
"Justru itu, My. Zaky pasti mau ngedeketin Dewi lagi!"
"Lagi? Memang sebelumnya Zaky pernah mendekati Dewi?" Tari terlihat bingung.
__ADS_1
"Pernah. Sudah dua kali, My. Dewi itu cinta pertamanya Zaky. Dewi saja yang lebih memilih Wira dibanding Zaky. Jangan sampai Zaky masuk dalam hubungan Wira dan Dewi yang sedang renggang seperti sekarang."
"Ah masa sih? Anak sebaik Zaky enggak mungkin punya niat sejahat itu! Kamu saja yang terlalu posesif dengan Dewi!"
"Mommy lupa Zaky itu anak siapa? Anaknya Om Damar dan Tante Tara yang pernah mengkhianati Abi. Bukan tidak mungkin Zaky akan mengikuti apa yang kedua orang tuanya lakukan dulu!"
"Astaghfirullah Abang! Tante Tara itu sepupu Mommy! Zaky saudara kamu! Jangan suudzon jadi orang! Kamu bukannya introspeksi kenapa Dewi marah sama kamu eh malah makin seperti anak kecil! Sudah ah Mommy tutup! Pokoknya kamu introspeksi diri baru pulang ke Jakarta!"
Tari menutup teleponnya dengan kesal. Wira yang manja dan Dewi yang keras kepala. Dua anak muda yang akan menjadi orang tua namun masih bersikap kekanak-kanakkan. Itulah mengapa usahakan jangan menikah muda. Pemikiran belum matang, belum bisa mengontrol emosi. Hanya karena tergoda hasrat belaka malah jadi petaka nantinya.
Tari berjalan menghampiri Carmen, Dewi dan Zaky yang asyik mengobrol bersama. Tari sengaja tak memberitahu Wira kalau ada Carmen yang sejak tadi ikut mengobrol. Ia mau memainkan perasaan anaknya agar lebih cepat dewasa. Agar menyadari kesalahannya yang sudah tanpa sadar menyakiti perasaan Dewi.
"Lama banget My teleponnya! Abang ya?" tebak Carmen.
"Iya. Biasa, Abang kamu lagi merengek sama Mommy! Cuekkin aja!" Tari meletakkan buah yang sudah ia kupas di atas meja. "Ayo dimakan buahnya! Zaky juga dimakan masakan Tante!"
"Iya, Tante. Terima kasih." jawab Zaky dengan sopan.
"Mas Zaky, kita jalan-jalan yuk! Carmen bosen nih di rumah terus! Dewi dan Mommy juga ikut! Kita window shopping! Cuci mata!" ajak Carmen.
"Mana pernah kamu cuci mata tanpa beli, Baby?" goda Zaky. Zaky ikut seperti Abi yang suka memanggil Carmen dengan sebutan Baby.
"Yaudah Mas Zaky yang beliin ya?!" ledek Carmen.
"Boleh, Baby mau dibeliin apa?"
"Tas aja! Mas Zaky memang the best deh!"
"Hush Carmen! Jangan begtu!" omel Tari.
"Enggak apa-apa, Tante. Carmen kan sudah seperti adik aku sendiri. Bebas mau minta apa aja!" ujar Zaky.
__ADS_1
Tari hanya geleng-geleng kepala melihat ulah anaknya, yang satu suka minta jajan dan satu lagi begitu curigaan. Huft...
****