Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
LDM-1


__ADS_3

Sesampainya di Bali, Wira langsung menuju salah satu hotel milik nenek uyutnya. Mommy Tari sudah menghubungi karyawan di sana agar menerima kedatangan Wira.


Wira hanya sebentar berada di hotel, menaruh barang-barang miliknya dan langsung pergi ke cafe yang mengalami kebakaran. Sebuah mobil sudah disiapkan dari pihak hotel untuk keperluan Wira selama di Bali.


Wira langsung menuju ke TKP, keadaan cafe sudah porak-poranda habis di lahap si jago merah. Hanya tersisa beberapa barang yang berhasil diselamatkan. Sisanya, semua habis terbakar.


Dalam sekali lihat, Wira sudah menduga kalau kerugian yang diderita oleh Mommy-nya sangat besar. Meskipun cafe tersebut hanya menyewa pada pemilik tempat, namun semua perabotan yang hancur dan hangus terbakar itu bernilai mahal dan kebanyakan adalah aset milik cafe Mommy. Untung saja Mommy sudah mengasuransikannya, namun tetap saja hanya beberapa persen saja yang dicover.


Wira dihampiri oleh salah satu karyawan cafe yang menjabat sebagai supervisor. Laki-laki tersebut terlihat kelelahan sehabis membantu memadamkan api dengan menggunakan ember sebelum petugas pemadam datang. Seragamnya sudah kotor dan wajahnya terlihat amat letih dan agak mengantuk.


Karyawan tersebut memperkenalkan diri dan menyapa Wira dengan sopan dan hormat.


"Jam berapa kebakaran terjadi, Pak? Bagaimana keadaan cafe saat itu?" tanya Wira yang mulai menyelidiki penyebab terjadinya kebakaran. Wira ingin mendengar penyebab kebakaran langsung dari karyawannya.


"Kejadiannya sekitar jam 07.00 malam. Saat terjadi kebakaran, cafe sedang lumayan ramai. Ada banyak pesanan dan kita semua sedang sibuk melayani pengunjung." jawab karyawan tersebut.


"Asal muasal terjadinya kebakaran dari dapur, Pak?" tanya Wira lagi.


"Bukan, Pak. Awalnya dari ruang tengah, sepertinya konsleting listrik lalu mulai ada percikan api. Pengunjung mulai panik dan kami semua langsung mengevakuasi pengunjung yang datang. Api cepat sekali membesar karena cafe ini kebanyakan terbuat dari bahan kayu. Hanya beberapa yang bisa kami selamatkan, Pak. Sisanya, semua hangus terbakar. Maafkan kami ya, Pak!" ujar pegawai tersebut dengan penuh rasa penyesalan.

__ADS_1


Pasti pegawai tersebut sudah berusaha untuk memadamkan api. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi apa daya, api cepat membesar ditambah dengan cafe yang memang didesain serba kayu jadi mudah terbakar. Beruntung tidak ada korban jiwa.


Wira menepuk bahu pegawai tersebut. "Tak apa, Pak. Semua sudah terjadi. Kita semua pasti nggak ingin semua ini menimpa kita. Bapak juga sudah sampai kelelahan begitu untuk membantu memadamkan api. Maaf, saya nggak bisa langsung datang dan kedua orang tua saya juga nggak bisa datang karena ada kesibukan. Lebih baik Bapak pulang dulu. Ini sudah hampir pagi. Istirahatlah, Bapak pasti sangat lelah."


"Saya belum mau pulang sebelum Bapak datang. Saya harus jelasin semuanya sama Bapak tentang apa yang terjadi. Karyawan yang lain, sudah saya suruh pulang. Saya yakin sesampainya Bapak di Bali, pasti akan langsung ke TKP. Oleh karena itu, biar saya yang menunggu kedatangan Bapak." jawab karyawan itu dengan jujur.


Ia kini tahu kenapa orang tersebut dipilih menjadi supervisor cafe oleh Mommy Tari. Mommy Tari memang pandai menilai seseorang. Bapak di depannya adalah seorang karyawan yang mulanya berasal dari pelayan cafe. Kini beliau menjabat sebagai supervisor dan bertanggung jawab atas cafe tempat dirinya bekerja.


Pekerjaan Bapak tersebut bagus dan dinilai sangat bertanggung jawab, karena itu Mommy memberikan kepercayaan padanya untuk menjadi supervisor. Tak sia-sia kepercayaan yang Mommy diberikan. Bapak ini benar-benar menjaga cafe milik Tari, bahkan sampai kelelahan hanya untuk membantu memadamkan api.


"Terima kasih ya Pak, Bapak sudah membantu menjaga cafe Mommy. Bapak nggak usah khawatir, seluruh properti cafe ini sudah diasuransikan oleh Mommy. Nanti saya tinggal membuat perhitungan biayanya dan klaim ke pihak asuransi. Bapak istirahat saja dulu di rumah." Wira melihat jam di tangannya. Sudah hampir pagi. "Nanti siang Bapak bisa membantu saya mencari lokasi yang tepat untuk cafe selanjutnya."


"Siap, Pak Wira! Saya akan membantu Bapak sebisa mungkin! Saya pamit pulang dulu ya, Pak! Untuk barang-barang ini, sudah ada petugas keamanan yang saya tugaskan untuk mengawasi agar jangan sampai ada yang diambil orang."


Setelah Bapak itu pergi, Wira masih melihat-lihat kondisi cafe seraya mengambil foto untuk dokumentasi. Benar-benar hanya sedikit yang bisa diselamatkan.


Untunglah, Mommy mengasuransikan semua properti miliknya. Mommy tak mau ambil resiko jika terjadi kebakaran seperti ini. Benar apa yang Mommy perkirakan, saat terjadi musibah seperti kerugian yang diderita tak akan terlalu besar karena sebagian sudah dicover oleh asuransi.


Hari sudah menjelang pagi ketika Wira berniat kembali ke hotel miliknya. Wira sangat mengantuk dan sesampainya di hotel ia langsung tertidur pulas. Tubuhnya sangat lelah dan letih seharian bekerja. Wira baru terbangun setelah adzan zuhur berkumandang.

__ADS_1


Rasanya malas sekali bagi Wira untuk beranjak dari tempat tidur nyamannya. Namun, ia harus kembali bekerja jika ingin segera pulang ke Jakarta.


Wira mengecek handphone miliknya yang semalam ia silent. Rupanya, ada banyak panggilan masuk di handphone miliknya.


Abi dan Mommy beberapa kali menelepon dan tak Wira angkat. Tentunya, Dewi yang paling banyak menelpon, bahkan tengah malam pun Dewi menelpon hanya untuk menanyakan apakah Wira sudah sampai di Bali atau belum.


Wira merasa tak enak hati, dia bisa tertidur pulas sementara istrinya terus menanyakan keadaannya. Wira pun lalu menghubungi Dewi, hanya dalam dua kali dering telepon langsung diangkat oleh pemiliknya.


"Assalamualaikum, Sayang! Kamu udah sampai? Kamu di mana sekarang? Keadaan cafe gimana? Kamu nginep di mana?" Dewi langsung mengajukan pertanyaan beruntun kepada Wira. Terlihat sekali betapa ia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya yang berada jauh darinya.


Wira Senyum, ia bisa membayangkan bagaimana reaksi Dewi saat berbicara tanpa henti seperti itu. Pasti sangat mengkhawatirkannya. Salah satu bentuk perhatian dari Dewi yang sangat Wira sukai. "Aku udah sampai semalam. Maaf aku nggak langsung menghubungi kamu, aku langsung ke TKP dan mengurus cafe yang sudah berantakan karena dilahap si jago merah. Hanya sedikit yang bisa diselamatkan, sisanya semua hancur dan menjadi puing. Aku menginap di hotel milik Nenek Uyut aku. Rencananya nanti siang aku baru kembali lagi ke cafe dan mengurus semuanya yang ada di sana."


"Kasihan sekali kamu. Pasti kamu capek ya? Kamu udah sarapan belum? Jangan lupa minum vitamin! Kamu harus jaga kondisi tubuh kamu. Kamu tidur jam berapa?" tanya Dewi bertubi-tubi. Baru kali ini ia dan Wira LDM alias Long Distance Marriage.


"Aku tadi tidur sehabis shalat subuh, sekarang udah lumayan segar. Aku mau shalat zuhur dulu nanti baru sarapan ya."


"Itu sih namanya makan siang, bukan sarapan lagi Sayang! Ya udah, makan yang banyak! Jangan lupa makan sayur juga! Oh iya, kemarin aku masukkin vitamin di tas kamu, diminum ya! Harus jaga kondisi kesehatan biar kamu tetap sehat selama berada di sana!"


"Siap Bu Bos! Aku mandi dulu ya! I miss you! "

__ADS_1


"I miss you too! "


****


__ADS_2