Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Pecel Ayam Super Pedas


__ADS_3

Tak lama setelah Ratna memanggil, ibu datang dengan baju dasternya yang agak basah sehabis mencuci di rumah orang. Ia tak jadi membawa cucian pulang dan memilih mencuci di rumah si pemilik cucian.


"Eh ada Nak Wira?!" Ibu menyambut kedatangan Wira dengan senyum hangat.


Wira berdiri dan salim pada mertuanya. "Kenapa Wi panggil Ibu?"


Dewi mengeluarkan uang yang sudah ia siapkan. "Buat bayar kontrakkan dan masak. Lalu ini buat uang jajan Ratna."


Dewi memberikan uang yang sudah ia masukkan dalam amplop dan ditulis fungsinya untuk apa. Semua agak ibu tak boros dan bisa mengatur uang pemberiannya.


"Alhamdulillah. Ibu pemilik kontrakkan sudah nagih Ibu. Nanti langsung ibu bayarkan, biar enggak diomongin." ujar Ibu seraya menerima uang pemberian Dewi.


"Satu lagi, Bu. Lusa Dewi dan Pak Wira akan pindah ke ruko dekat IndoJuli." beritahu Dewi.


"Hah? Kamu mau pindah? Kenapa? Diusir?" tanya ibu yang sangat terkejut dengan pemberitahuan dari Dewi.


"Bukan, Bu. Rencananya Pak Wira dan Dewi mau membuka bisnis laundry. Kami sudah menyewa ruko, tinggal membeli peralatan laundry saja. Ibu mau kan bekerja di laundry milik Pak Wira?" tanya Dewi.


"Yang benar? Wah Ibu mau sekali, Wi. Pasti kalau di laundry tidak akan secapek kalau kerja di rumah orang." jawab Ibu dengan antusias.


Wira dan Dewi tersenyum senang. Ibu mendukung rencana mereka. "Yaudah, nanti Dewi bicarakan lagi ya, Bu. Dewi harus pergi kerja dulu!"


"Iya... iya... Nanti kamu telat. Pergilah! Nanti Ibu akan bilang sama semua pelanggan Ibu. Mereka pasti senang kalau ada usaha laundry di dekat sini."


"Kalau gitu Dewi berangkat dulu ya Bu!" pamit Dewi seraya salim dengan ibunya.


Wira melakukan hal yang sama. Bahri mengucapkan terima kasih lagi pada Wira sebelum mereka pergi.


****


Hari ini Wira tidak menjemput Dewi. Sepulang kerja, Wira langsung ke apartemen miliknya dan mempacking barang-barang untuk pindahan ke ruko.


Meski berat melepas apartemen kesayangannya, namun Wira berusaha ikhlas. Memulai bisnis berarti harus ada yang dikorbankan. Salah satunya adalah apartemen impiannya.


Wira juga merapihkan baju Dewi. Apapun yang bisa ia packing maka ia packing sekarang. Rasa kasihan terhadap Dewi yang sudah lelah bekerja membuatnya merasa harus melakukannya sendiri.


Sedang asyik mempacking, Dewi masuk ke dalam apartemen sambil mengucap salam. "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam." jawab Wira.

__ADS_1


"Wah... wah... wah... Bapak Wira ini jago sekali ya membuat seisi rumah berantakan?" goda Dewi.


"Iyalah. Gue kan spesialis pembuat kapal pecah." jawab Wira dengan bangganya.


"Pasti Bapak belum makan kan? Saya beli makanan kesukaan Bapak Wira, pecel ayam. Nasinya dua. Benar bukan?!" Dewi meletakkan bungkus plastik berisi pecel ayam yang ia beli sepulang kerja.


"Tau aja. Wah gue bisa tambah gendut nih kalo makan pecel ayam terus!" Wira mencuci tangannya di washtafel karena wangi pecel ayam sudah sangat menggoda. Membuat perutnya berbunyi minta diisi.


"Olahraga dong! Biar perut tetap sixpack." jawab Dewi seraya ikut mencuci tangan dan bergabung untuk makan bersama.


"Olahraga yang enggak capek dan enak ya? Olahraga malam sambil meong meong ha...ha...ha..."


"Selalu deh tak jauh-jauh dari itu. Kita makannya enggak usah pakai piring ya? Enakkan pakai kertas nasi langsung." Dewi mengambil dua gelas dan menuangkan air putih. "Sedia air sebelum rasa pedas menyerang!"


"Kita lihat siapa yang banjir keringat duluan ya?!" tantang Wira.


"Boleh! Siapa takut!"


Keduanya pun memakan pecel ayam dengan sambal super pedas kesukaan mereka. Keringat di atas bibir sudah mulai terlihat di wajah Dewi.


Wira pun tak kalah pedasnya, sudah terlihat titik-titik keringat di keningnya.


"Wah Bapak mulai kepedesan nih!" goda Dewi.


"Biarin! Makan kayak begini nih lebih enak. Lebih nikmat. Tuh Bapak aja sudah mau nasi kedua. Enak kan? Rekomen nih tukang pecel ayamnya! Nanti saya beli lagi."


"Iya. Tapi dibungkus ya belinya. Males gue makan di sana. Panas, pedas, keringetan. Enggak ganteng nanti gue!" ujar Wira seraya mengelap keningnya yang banyak keringat.


"Ha...ha...ha... Keringat Bapak lebih banyak tuh!" ledek Dewi.


"Lo tuh pake make up waterproof jadi enggak keluar keringetnya!" ujar Wira sambil huh hah kepedesan.


Dewi mengambilkannya minum. "Minum dulu! Mau air hangat enggak?!"


"Enggak usah! Huh... hah... Pedes banget sambelnya. Lebih pedas dari mulut mertua!" ujar Wira seenaknya.


"Mertua? Ibu saya dong!"


"Dih baper!"

__ADS_1


"Tapi memang Ibu terkadang pedas sih kalau ngomong. Untung aja saya lebih mirip Bapak. Coba kalau saya mirip Ibu, wuih seru! Pak Wira ngomongnya pedas, saya juga. Kalo digabung kayak bon cabe level 50 kita ha...ha...ha..."


"Kata siapa gue pedas? Gue mah manis kayak gulali."


"Yakin? Gulali rasa rujak kali!"


"Yeh... Buktinya lo suka kalo gue cium. Nagih melulu. Artinya apa? Tehnik ciuman gue tingkat dewa, bikin lo klepek klepek. Mungkin karena saat nyium gue, lo merasa kayak ada manis-manisnya gitu. Iya kan?"


"Iyalah tingkat dewa, praktek ciumannya udah sama berapa cewek? Tak terhitung bukan?" sindir Dewi.


"Iya sih." dengan bodohnya Wira mengiyakan omongan Dewi. "Maklum, anak legend ya gitu. Terkenal."


Hati Dewi sedikit tercubit mendengarnya. "Ada... Yang Pak Wira suka enggak?"


"Apanya? Pecel ayam?" tanya Wira yang sudah menghabiskan pecel ayam miliknya dan kini sedang mencuci tangannya agar tidak panas.


Dewi membereskan bekas makan mereka dan membuangnya ke tempat sampah. Ia ikut bergabung dengan Wira untuk mencuci tangan. "Rekan praktek ciuman Bapak."


"Suka ya? Hmm... Yang dua kali gue ajak kencan ya lumayan gue suka." jawab jujur Wira.


"Oh... gitu. Sekarang masih ada?" tanya Dewi sambil menahan perasaannya.


"Masih ada apa? Lo kasih pertanyaan menggantung begitu sih!" protes Wira.


"Ya masih ada yang diajak kencan sama Pak Wira enggak?" tanya Dewi lagi. Dewi sudah selesai mencuci tangan dan memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dewi menatap mata Wira dan mencari kebenaran dalam setiap perkataannya.


Wira tidak langsung menjawab. Ia malah mengernyitkan keningnya seraya menatap Dewi balik seperti sedang menyelidik. "Lo cemburu ya?"


Deg...


Dewi seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.


"Eng- Nanya doang!" kini Dewi menurunkan pandangannya. Tak berani menatap Wira langsung.


Wira memegang dagu Dewi dan mengangkatnya. Membuat mata mereka kembali bertemu. "Jawab jujur, lo cemburu ya?"


Jantung Dewi berdegup kencang. Mereka sudah pernah sedekat ini. Sering malah. Lebih dekat lagi juga pernah. Namun saling menatap dalam mata satu sama lain rasanya berbeda. Seperti membuka isi hati sejujurnya tanpa ada yang disembunyikan sama sekali.


"Enggak boleh?!"

__ADS_1


****


Note: Yang mau tau cerita Abi Agas dan Mommy Tari bisa mampir di novel aku judulnya: Duda Nackal ya 😍😍😍


__ADS_2