
Hati Dewi merasa sangat hangat mendengar permintaan maaf Tari. Ada mertua yang kalau salah merasa enggan untuk minta maaf karena merasa dituakan. Tari berbeda. Tari tak sungkan untuk minta maaf. Hal yang membuat Dewi merasa makin kagum saja dengan mertuanya tersebut.
"Tak apa, My. Aku tak ambil hati kok. Mommy sangat menghargai keputusanku saja sudah membuat aku senang." jawab Dewi.
"Kamu baik sekali sih, Wi?! Pantas Wira menyukai kamu." ujar Tari sambil tetap asyik memasak.
Tari tak menyadari perubahan wajah Dewi. "Suka? Mm... My, Mommy tau kan kenapa aku sama Pak Wira menikah?"
Tari mengambil sebuah piring dan menyajikan sambal kentang ati yang dibuatnya di atas piring. "Tau. Bisnis ngaco kalian itu kan? Wira sudah cerita semua setelah Mommy menemukan semua buktinya."
"Iya My tapi... Pak Wira menikahi Dewi bukan karena Pak Wira menyukai Dewi, My. Tapi karena desakan adik Dewi, Bahri, agar Wira menikahi Dewi." ujar Dewi.
Tari tersenyum. Ditaruhnya lauk yang sudah matang ke atas meja makan. Dewi juga turun tangan membantu. Ia membawakan masakan Tari yang lain dan ikut menata makanan.
"Mommy tau. Mommy bisa melihat dari sorot mata anak Mommy. Wira tak pernah membawa cewek lain ke rumah. Eh pernah deh sekali tapi bukan Wira yang bawa. Carmen yang mengajak. Mungkin karena temannya Carmen. Mereka waktu itu mengobrol lumayan akrab, tapi tetap saja beda. Saat dengan kamu, Wira bisa jadi dirinya sendiri. Bisa seenaknya berkata pedas tanpa mikirin orang lain. Kalau sama gadis itu, Wira kebanyakan diam, ngomongnya irit. Takut keluar kata-kata pedasnya kali ya?!" Tari tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
"Teman perempuan? Pak Wira enggak jutek sama temannya itu, My?" Dewi lebih penasaran dengan teman Wira. Siapa wanita itu sampai bisa membuat Wira menjaga ucapannya yang terbiasa berkata pedas.
"Itu... Siapa ya, Ce... Cerry! Iya, Cerry namanya! Mommy agak lupa. Dulu hampir setiap hari Cerry datang ke rumah hanya untuk bertemu Wira. Sekarang udah jarang."
"Kenapa jarang, My?" tanya Dewi yang makin penasaran dengan sosok Cerry. Dewi mengambil piring makan dan menatanya di meja makan sesuai instruksi dari Tari.
"Entah. Mungkin karena jadwal kuliahnya sudah berbeda dengan Carmen jadi susah menyesuaikan jadwalnya." Tari tersenyum setelah selesai menyiapkan makan malam untuk keluarganya.
"Udah selesai. Kamu sholah maghrib dulu baru panggil Wira turun ya untuk makan malam." pinta Tari
Dewi mengangguk. "Iya, My."
Dewi berajalan dengan perasaan tak enak. Rasa kesal bercampur cemburu tersemat di dalam hatinya.
Di kamar Wira nampak sudah selesai sholat maghrib dan sedang melipat sajadah. Tercium harum tubuhnya sehabis mandi. Terlihat segar dan makin tampan saja apalagi sudah terkena air wudhu.
__ADS_1
"Kenapa lo? Masuk ke kamar gue mukanya keruh gitu?! Diomelin Mommy? Enggak mungkin ah! Mommy gue tuh baik. Enggak akan ngomelin orang. Atau lo kesal disuruh masak sama Mommy?" tanya Wira dengan kata-kata pedasnya seperti biasa.
"Enggak apa-apa kok." Dewi mengambil baju ganti yang ia bawa dari rumah. Dewi sekarang sudah harus tinggal bersama Wira, karena itu tadi ia sempat membawa sebagian pakaiannya.
"Masa sih? Muka lo kayak ada apa-apa tau! Mau gue tanya sama Mommy ada apaan?" tanya Wira.
Cepat-cepat Dewi mencegah niat Wira. Tak mau Tari berpikir lain tentangnya. "Ish... Dibilang enggak ada apa-apa! Enggak percaya banget sih?!"
"Terus muka lo keruh gitu kenapa?" tanya Wira lagi. Tak mau menyerah sebelum Dewi menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Ya memang saya belum mandi, Pak. Faktor lainnya mungkin memang karena saya jelek kali!" Dewi mengambil baju ganti dan handuk bekas Wira yang diletakkan di atas tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Enggak jelek-jelek banget sih kata gue. B aja." jawab Wira membuat rasa kesal dalam diri Dewi makin bertambah.
Setelah Dewi masuk ke kamar mandi, Wira memutuskan pergi ke kamar Carmen. Wira mengetuk pintu kamar Carmen terlebih dahulu sebelum dipersilahkan masuk.
"Masuk!" teriak Carmen dari dalam kamar.
"Habis olahraga malah ngemil lagi!" omel Wira seraya duduk di samping Carmen.
"Ini enak banget, Bang. Abang mau?" tawar Carmen.
Wira menggelengkan kepalanya. "Ogah. Nanti Abang kenyang pas makan malam. Mommy marah kalau Abang makannya sedikit!"
"Yaudah kalo enggak mau!" Carmen mengambil kembali kue cubit miliknya.
"Dek, pendapat Adek gimana tentang Dewi?" tanya Wira. Ia sadar kalau adiknya sendiri belum ia ajak bicara tentang istrinya.
Carmen reflek duduk tegak. Ia mencibirkan bibirnya sambil matanya menelisik Abangnya. "Bang, Abang hamilin Kak Dewi ya? Makanya Abang udah nikah siri duluan sama Kak Dewi?!"
Wira mengangkat tangannya dan...
__ADS_1
Pletak!
Sebuah sentilan melayang tepat ke kening Carmen.
"Jangan seenaknya kalo ngomong! Adek liat aja tuh perutnya Dewi. Masih rata!" jawab Wira.
"Terus kenapa Abang nikahin Kak Dewi? Dia bukan tipe Abang banget loh, Bang! Iya sih Kak Dewi cantik, bodynya juga bagus. Tapi Kak Dewi bukan tipikal cewek Abang banget!" tanya Carmen.
"Emangnya tipe Abang kayak gimana? Sok tau kamu, Dek!" Wira mengambil novel yang Carmen baca dan membaca judul yang tersemat. "Novel begini kamu baca, Dek. Enggak ada pangeran berkuda lagi tau jaman sekarang!"
Carmen mengambil novel miliknya dari tangan Wira. "Ih biarin aja sih. Berkhayal kan boleh aja. Namanya juga anak perempuan. Memangnya Abang, berkhayal jorok terus?!"
"Heh jawab dulu, memangnya menurut kamu tipikal cewek Abang kayak gimana? Kok kamu bisa bilang kalo Dewi bukan tipe Abang banget?!" tanya Wira seraya memberikan buku yang dipegangnya pada Carmen.
"Tipe Abang tuh yang seksi."
"Dewi juga seksi. Asetnya mantap!" jawab Wira.
"Cantik dan modis!"
"Dewi juga cantik. Kalau modis nanti Abang beliin kalo punya uang. Pakaiannya juga enggak terlalu ketinggalan jaman. Pakaian sederhana. Enggak masalah dong." jawab Wira banget.
"Satu lagi. Dewi tuh enggak kecentilan kayak mantan pacar Abang yang lain!" jawab Carmen dengan yakin.
"Kata siapa? Adek enggak tau aja dia gimana?! Sama Abang tuh dia centil banget, Dek. Suka membujuk dan menggoda Abang sampai Abang tergoda dan-"
"Udah enggak usah dijelasin! Aku udah bosan denger Abi dan teman-temannya ngomongin hal kayak gitu di rumah ini!" potong Carmen.
"Nah itu kamu tau! Berarti Dewi masih masuk dalam kriteria cewek tipikal Abang dong?"
"Tetap saja enggak, Bang. Abang sama Kak Dewi masih suka ketus. Beda kalo sama Cerry. Ngomong sama Cerry tuh lembut banget dan kelihatan groginya. Sama Kak Dewi beda, kayak ngomong sama anak buah. Suka seenaknya Abang!" rupanya Carmen terus memperhatikan Wira dan Dewi meski baru bertemu hari ini. Bagaimana Wira memperlakukan Dewi tak lepas dari pengamatannya meski sedang asyik jajan.
__ADS_1
****