
Wira langsung malas melihat dua ibu tukang gosip yang dulu sempat hendak menjodohkannya dengan anak gadis mereka. Dewi langsung mencubit pelan lengan Wira agar bersikap ramah.
"Senyum, Pak. Senyum!" bisik Dewi pelan.
Wira tersenyum malas.
"Kemana aja kamu, Wi? Jam segini baru datang? Sudah rapi rumah kamu. Untung saja ada ibu-ibu yang datang membantu!" omel ibu.
"Maaf, Bu. Dewi kesiangan. Semalam pulang sudah larut." bohong Dewi. Tak mungkin ia katakan kalau ia sudah rapi namun suaminya mengajak ehem ehem dahulu?
"Sudah Bu Sari, biarkan saja! Namanya juga pengantin baru. Kita cukup mengerti saja!" ujar ibu penggemar kangkung.
"Betul. Apalagi suaminya Dewi itu gagah perkasa. Makin malas deh Dewi bangun pagi! Maunya kelonan terus, iya kan Wi?" sindir ibu penggemar kembung.
Ini yang membuat Wira malas. Ibu-ibu sotoy!
Dewi memaksakan senyum di wajahnya. "Apa yang bisa Dewi bantu, Bu?" Dewi mengalihkan pembicaraan. Daripada menimpali dua ibu tukang gosip mengobrol terus, lebih baik menyibukkan diri.
"Ini, Wi. Kue bolunya kamu potong-potong!" perintah Ibu. "Nak Wira, bisa bantu Bahri aja di depan."
"Baik, Bu."
Wira berjalan ke luar dan melihat Bahri yang sedang menggelar karpet. Wira pun membantu Bahri.
"Eh Pak Wira, biar saya saja Pak!" ujar Bahri saat Wira membantunya menggelar karpet.
"Enggak apa-apa. Lebih baik gue bantu di sini dibanding di dalam digodain sama ibu-ibu rempong!" jawab jujur Wira.
Bahri tersenyum mendengarnya. Wira lalu teringat kalau dirinya mau mengajak Bahri bekerja.
"Ri, lo mau kerja mengantar orderan laundry enggak? Rencananya gue dan Dewi mau buka bisnis laundry. Ibu dan Ratna akan membantu sementara sebelum gue mempekerjakan karyawan baru. Nah tugas lo nganterin pesanan ke pelanggan. Kalo lo lagi senggang aja! Ada bayarannya kok!"
"Siap, Pak. Saya pasti bantu. Enggak dibayar juga saya enggak apa-apa, Pak!" ujar Bahri penuh semangat.
"Weits, enggak bisa begitu. Bisnis ya bisnis. Nanti kita hitung-hitung ya lo dapet bayaran berapa! Besok tolong lo bagiin brosur aja ke orang-orang ya!"
"Siap, Pak. Beneran saya enggak dibayar, enggak apa-apa Pak. Saya punya hutang budi sama Bapak banyak. Sampai ngancem nyuruh Bapak nikahin Kak Dewi segala lagi!"
Wira tersenyum dan jadi teringat saat Bahri mengancam dirinya untuk menikahi Dewi dengan video. Aksi yang cukup pemberani untuk anak seusianya.
"Enggak masalah. Mungkin lo adalah penghubung jodoh gue dan Dewi. Malah gue mau bilang makasih sama lo. Berkat lo, gue punya istri yang menerima segala kelebihan dan kekurangan dalam diri gue."
"Serius, Pak?!" Bahri sangat senang melihat Wira yang ternyata malah mensyukuri pernikahannya dengan Dewi.
Wira tersenyum dan mengangguk. "Serius. Meskipun gue sama Dewi terlihat sering cekcok dan adu mulut, tapi kita berdua sebenarnya punya keterikatan. Chemistry. Lo doain aja semoga pernikahan gue sama Dewi bisa langgeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin!" doa Bahri tulus untuk kebahagiaan Wira dan Dewi. "Kak, itu pot bunganya kita dekor yuk di panggung. Biar penceramahnya bagus pas difoto."
__ADS_1
"Oke. Ayo gue bantu!"
****
Jam setengah 12 Agas sekeluarga datang. Kehadiran Agas lagi-lagi menarik perhatian tetangga Dewi.
"Ingat, hari ini jangan tebar pesona! Jangan kebanyakan ngomong enggak penting!" pesan Tari.
"Iya, My. Mommy udah ceramah ribuan kali sejak masih di rumah. Kalau memang Abi sudah diam namun masih ada yang terpesona sama Abi, ya bukan salah Abi dong? Kharisma Abi terlalu besar untuk ditolak, My!"
Tari menghela nafas dalam mendengar suaminya yang narsis abis. Sementara Carmen hanya cekikian saja mendengar percakapan kedua orang tuanya yang lucu.
"Pokoknya, kita harus menjaga nama baik besan! Nama baik keluarga kita juga! Masa depan Wira, tergantung sama Abi!" ancam Tari.
"Iya... iya!"
"Assalamualaikum!" Tari mengucapkan salam saat hendak memasuki rumah Dewi.
"Waalaikumsalam." jawab yang ada di rumah Dewi.
Dewi menghampiri mertuanya dan salim. Agas terlihat langsung ke lapangan voli karena melihat keberadaan putranya di sana.
"Masuk, My!" ajak Dewi.
Ibu Sari menyambut kedatangan Mommy Tari dengan senyum lebar. Bangga memamerkan besannya yang kaya raya pada para tetangga. "Kenalin ibu-ibu, ini Ibu Tari. Besan saya!"
"Iyalah! Ibu Tari pakai skincare mahal. Memang kamu yang cuma pakai krim lima ribuan!" cibir ibu penyuka kembung.
"Lima ribuan tapi cocok lebih baik daripada ratusan ribu tapi malah bikin muka jerawatan!" balas ibu penyuka kangkung.
"Eh sudah ibu-ibu! Malah pada berdebat. Malu saya sama besan. Ayo besan, silahkan duduk!" ajak Bu Sari.
Tari mengajak Carmen duduk namun Carmen menolaknya. "My, aku sama Abi aja ya! Ada tukang jajanan tuh di dekat lapangan!"
Tari lagi-lagi menghela nafas dalam. "Iya."
Carmen pun meninggalkan Tari bersama ibu-ibu tukang gosip. Tari menatap Dewi seakan minta tolong menantunya lolos dari ibu-ibu penuh ingin tahu ini.
"Ibu Tari, punya cafe berapa?"
"Ada karyawan ibu yang bisa dijodohin sama anak saya enggak? Masih perawan tuh anak saya."
"Bu, ada lowongan kerja enggak buat suami saya? Jadi pelayan cafe juga enggak apa-apa deh!"
"Bu, anak ibu yang cewek kira-kira mau sama anak saya enggak? Siapa tau kita bisa jadi besan gitu."
Tari hanya memasang senyum dan menahan rasa kesalnya. "Lebih baik tadi Abi aja deh yang di sini. Enggak apa-apa tebar pesona, dari pada aku yang jadi korban!" batin Tari.
__ADS_1
****
"Bang, saosnya yang banyak ya!" pesan Carmen pada penjual cakwe.
"Iya, Neng."
Carmen lalu memesan kue crepes yang mirip seperti di mall. "Bang, rasa cokelat keju 5 ya!"
"Siap, Neng!"
Carmen pindah ke tukang otak-otak di sebelah tukang crepes. "Bang, beli 10 ribu. Banyakkin bumbu kacangnya ya!"
"Oke, Neng!"
Setelah semua pesanan jadi, Carmen pun membawanya ke lapangan volly. Nampak Abi, Wira, Bahri dan Bapak tengah mengobrol.
"Abi!" panggil Carmen. "Mau enggak?!"
"Wah, kamu bawa apa aja, Cantik?" tanya Agas.
"Banyak. Abi mau yang mana?!"
Abi mencoba segala jajanan yang Carmen beli. Wira hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sementara Bahri...
Bahri menatap Carmen tanpa berkedip.
"Wow... Itu bidadari? Kok bidadari makannya otak-otak ya?!" batin Bahri.
Wira yang sadar kalau sejak tadi Bahri memperhatikan Carmen pun menyenggolnya. Menyadarkan Bahri dari lamunannya.
"Kenapa lo?"
"Itu... Siapa, Pak?" tunjuk Bahri.
"Ya adek gue lah! Lupa lo?" ketus Wira.
"Beda banget kalo pake jilbab begitu. Kayak bidadari!" ujar Bahri tanpa sadar.
"Bidadari kok makan otak-otak! Udah cepet sadar lo, ayo kita tanya sama Ibu apa yang bisa dibantu lagi!" Wira menarik tangan Bahri agar adik iparnya tak terus memperhatikan Carmen.
"Andai kita berdua bukan ipar..." ucap Bahri pelan.
"Andai apa lo? Jangan coba-coba deketin adek gue ya!" ancam Wira.
Bahri langsung takut dengan ancaman Wira. "Iya, Pak. Iya... Galak bener sih?!"
****
__ADS_1