Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Kado


__ADS_3

"Tante kasih kamu uang jajan aja ya buat ajak istri kamu makan di Mall?" Tara lalu mengeluarkan Hp miliknya dan mentransfer uang ke rekening Wira.


"Beneran, Tante?! Asyik deh kalo begitu. Enggak akan Wira tolak!" Wira tersenyum senang akan dapat uang jajan dari Tante Tara.


"Oke. Sudah masuk ya. Bisa kamu cek!"


Cepat-cepat Wira mengambil Hp miliknya dan memeriksa saldo mutasi rekeningnya. Dua digit uang jajan sudah ditransfer oleh Tara sebagai kado untuk Wira.


Wira menghampiri Tara dan memeluknya. "Makasih, Tante. Tante Tara memang the best deh!"


"Heh! Jangan meluk Mama gue sembarangan!" omel Zaky seraya memisahkan Wira dari Mamanya.


Wira melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tempatnya semula. "Pelit lo! Mama lo 'kan seneng dipeluk anak muda tampan kayak gue!" cibir Wira.


"Dih ngaku-ngaku! Ada juga gue lebih ganteng dari lo! Iya enggak Baby?" tanya Zaky pada Carmen.


"Iya dong! Mas Zaky paling keren dan ganteng sejagat raya!" puji Carmen.


"Heh Dek! Kok kamu malah lebih memihak Zaky sih!" omel Wira.


"Habisnya Abang tukang pamer. Jajan makanan enggak kirimin ke aku! Kalau Mas Zaky kan selalu bawain aku jajanan! Enggak pelit kayak Abang!" Carmen menjulurkan lidahnya meledek Wira.


"Dek kalau kamu muji dia terus, nanti kamu jatuh cinta loh sama Zaky! Masa sih nanti dia jadi adik iparnya Abang?!" ujar Wira.


"Wira! Sudah ya sindir-sindirannya!" tegur Tari.


"Iya, My." ujar Wira dengan patuh. "Mana nih kado buat aku lagi? Om Damar mana?"


"Udah sekalian sama Tante kamu!" jawab Damar yang sejak tadi diam saja sambil sesekali menertawai interaksi Wira dan Zaky.


"Yah... Kirain dapat double!" gerutu Wira. "Om Bastian, mana kadonya!"


"Udah mau jadi bapak, masih aja minta kado!" gerutu Bastian seraya mengeluarkan paper bag dan memberikannya pada Wira. "Nih!"


Wira mengambil paper bag yang Bastian berikan dan tersenyum kegirangan mendapat kado dari Bastian. "Makasih Om! Baik bener deh Om Bastian sama aku! Tau aja kalau aku pengen beli game terbaru ini! Love you deh, Om!"


"Bisa aja nih anak!" Bastian lalu bicara pada Agas. "Anak lo ajaib, Gas!"


"Yoi! Tau mirip siapa!" ledek Agas.

__ADS_1


"Mirip kecebong Abi-lah! Makanya ajaib!" balas Wira.


Wira kini melihat dua om kesayangannya yang sedang asyik makan cake wortel buatan Mommy Tari dengan tatapan tajam. "Jangan pura-pura enggak tau deh, Om! Mana kado buat aku!" tagih Wira.


"Udah tadi. Jadi setan-setanan buat kamu!" balas Sony.


"Eh malah dibales jadi kayak gini!" tambah Riko.


"Cepetan! Mana kadonya!" tagih Wira lagi.


"Pilih kado 1, kado 2 atau kado 3?!" Sony mengajukan 3 pilihan pada Wira.


"Kado 1 apa?" tanya Wira penasaran.


"Kado 1 adalah koleksi blue film warisan punya kita berdua." jawab Sony penuh kebanggaan.


"Ogah! Pemainnya udah pada tuwir sekarang! Gambarnya juga masih burem! Enggak menarik!" tolak Wira.


"Wuih songong nih anak! Enggak tau aja gimana susahnya kita dapat koleksi ini pada jaman kita dulu!" cibir Riko.


"Udah lama ah! Kado 2 apaan?" tanya Wira lagi.


"Kado 2 adalah... obat kuat dan beberapa alat yang bisa membuat hubungan kamu dan Dewi makin hot!" ujar Sony sambil memeletkan lidahnya. Sontak semua yang ada di ruangan tertawa karena ulahnya.


"Kado 3 apaan? Enggak menarik juga awas ya!" ancam Wira.


"Weits, jangan katakan kedua gurumu ini tidak punya ide cemerlang! Kamu saja sampai hampir pipis di celana karena ide kita ngerjain kamu yang lain dari yang lain!" ujar Riko.


"Yaudah cepet, apaan kadonya!" tagih Wira lagi.


"Kado ke 3 adalah... Voucher pijit plus plus untuk Abang Wira! Yey..."


Wira tersenyum mendengarnya. "Boleh ju-"


Belum selesai Wira bicara, Dewi sudah mencubit pinggangnya. "Aww! Sakit Sayang! Kamu jangan marah dulu dong! Aku belum selesai bicara!"


Wira memegang pinggangnya yang terasa panas bekas cubitan Dewi. Sementara itu Riko dan Sony tertawa puas melihat Wira yang takut pada istrinya.


"Yah... Bangor udah makin mirip Abi-nya! Udah takut sama bini! Enggak seru ha...ha...ha..." ledek Sony, bersama Riko mereka pun menertawai Wira.

__ADS_1


"Bukan takut Guys. Menghargai istri. Banyak orang bilang takut bini lo ya? Padahal bukan karena takut. Kita hanya menghargai perasaan istri yang sudah banyak berkorban demi kita. Betul tidak?" tanya Abi.


"Betuuuul!" jawab semuanya kompak.


"Maka lebih baik kita mengalah demi istri. Betul tidak?" tanya Abi lagi.


"Betuuul." jawab semuanya lagi dengan kompak.


"Stop, Bi! Jangan main Rhoma-Rhomaan sekarang! Aku jelasin dulu sebelum Dewi marah karena salah paham!" potong Wira. "Jadi, aku tadi tuh belum selesai menjawab,"


"Mengenai tawaran Om Riko dan Om Sony, tadi aku mau jawab begini: Boleh juga kalau aku masih single dan belum menikah. Kalau sekarang pasti aku tolak. Kenapa? Karena aku tak mau mengecewakan istriku tercinta!" Wira mencolek dagu Dewi, membuat Dewi yang awalnya menekuk wajahnya kini tersenyum. "Alasan lainnya adalah, ngapain aku ke pijat plus plus? Toh istriku ini bisa mijat sekaligus diajak plus plus juga kok! Lebih enak lagi!" pamer Wira.


"Jadi, daripada ketiga kado Om Sony dan Om Riko aku tolak, bagaimana kalau kadonya diubah saja dalam bentuk dana cair. Ya semacam transfer antar bank gitu?!" Wira membuka telapak tangannya dan menagih Sony dan Riko.


"Yah... Kasih nih anak uang jajan dong!" keluh Riko.


"Gue yang transfer aja!" Sony lalu berbisik pada Riko. "Jangan lupa transfer lo!"


"Iya, bawel!"


Sony lalu mengeluarkan Hp miliknya dan mentransfer uang ke rekening Wira. "Udah tuh! Selamat menikmati."


Wira cepat-cepat mengecek rekeningnya dan tersenyum melihat transferan uang masuk. "Alhamdulillah. Makasih Om!"


Tari kembali menunduk malu melihat ulah anaknya yang kalau sudah memalak orang hanya membuat dirinya tambah malu saja.


"Sekarang Carmen! Mana kado kamu, Dek?!" tagih Wira pada adik perempuan satu-satunya tersebut.


"Masih butuh kado dari aku?" tanya Carmen.


Wira cepat-cepat mengangguk. "Butuh dong adikku cantik!"


Carmen lalu mengambil kado dari kamar Abi dan memberikannya pada Wira. "Ini buat Abang!"


Wira mengernyitkan keningnya dalam. Bentuk kadonya kotak. Pasti isinya buku! Wira sudah menebaknya.


Dengan malas Wira membukanya dan ternyata benar sebuah buku. "Yah... Abang disuruh belajar lagi ini mah!" keluh Wira.


"Baca dulu dong buku apa! Jangan langsung mengeluh!" protes Carmen.

__ADS_1


Wira lalu melihat judul buku dan tersenyum. "Cara menjadi orang tua yang baik." Wira membaca judul buku pemberian Carmen. "Wah... Kalau ini pasti Abang baca! Makasih ya Dek!"


****


__ADS_2