Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Selametan


__ADS_3

Sehabis dzuhur, acara selametan pun dimulai. Karena yang diundang adalah ibu-ibu pengajian, tentu yang hadir sangat banyak.


Ibu Sari tak tanggung-tanggung, mengundang pengajian dari pengajian hari senin sampai hari minggu. Lapangan volly saja sampai penuh dengan ibu-ibu.


Untunglah Ibu Sari sudah meminta besannya menyediakan banyak nasi box. Ia sudah menduga kalau yang datang akan membludak.


Wira dan para kaum lelaki hanya bisa melihat dari kejauhan karena suasana sudah sangat ramai. Untunglah Dewi keluar dan membawakan makanan serta minuman untuk mereka, jadi tidak bosan mendengarkan pengajian.


Acara pengajian dibuka dengan suara rebana yang mengalun bersama suara vokalis yang melengking tinggi saat menyanyikan lagu Magadir. Ibu Dewi tersenyum puas bisa mengadakan pengajian sampai memanggil group kosidahan Ridho Ilahi yang terkenal di lingkungannya.


Rasa bangga bisa memiliki besan keluarga terpandang membuatnya menikmati alunan rebana dengan senyum lebar di wajahnya. Sesekali ia menyalami ibu-ibu yang baru datang dengan senyum lebarnya.


Tari yang selalu dikenalkan kepada para ibu pengajian sampai pegal karena harus sering tersenyum. Dewi sampai beberapa kali membisikkan kata maaf di telinga Tari, mewakili ibunya yang terlalu riya.


"Enggak apa-apa, Sayang! Ini kebanggaan buat Ibu kamu! Jangan merusak kebahagiaannya. Mommy sudah biasa kok. Kamu lupa bagaimana kelakuan Abi kamu? Tebar pesona dimana saja! Ini sih belum seberapa. Hanya pegal sedikit aja wajah Mommy karena kebanyakan senyum!" bisik Tari.


"Makasih ya My atas pengertiannya." ucap Dewi.


"Iya, Sayang!"


Acara selanjutnya adalah ceramah yang dipimpin oleh salah satu ustadzah yang sering mengisi pengajian mereka. Isi ceramah adalah pesan untuk kedua mempelai dan jamaah yang hadir untuk menghargai arti sebuah pernikahan. Lalu ustadzah tersebut pun mendoakan pernikahan Dewi dan Wira agar langgeng selalu sampai mau memisahkan.


Acara ditutup dengan mendengarkan kosidah sambil dibagikannya nasi box. Ibu-ibu yang di depannya ada piring kue mulai memasukkan kue di depannya ke dalam bungkus nasi box.


"Buat anak saya di rumah!"


"Suami saya suka nih cemilan kayak gini!"


"Risolnya enak banget ya! Buat saya makan nanti sore lagi ah!"


Padahal di dalam nasi box sudah dimasukkan semua cemilan tersebut.


"Mubazir. Enggak ada yang makan!"


Sebelum adzan ashar, pengajian sudah selesai. Waktunya Wira dan para kaum pria bekerja. Menyapu sampah bekas daun pembungkus lontong yang dibuang sembarangan, kulit jeruk dan plastik bolu kukus.


Wira bagian membuang sampah, sementara Bahri yang menyapunya. Enak di Wira, hanya mengangkat pengki yang sudah diisi sampah yang di sapu Bahri dan membuangnya ke plastik sampah di dekatnya. Pintar sekali dia membodohi adik iparnya yang katanya pintar itu.


Abi datang dan membisikkan sesuatu di dekat Wira. "Jangan dekat-dekat Mommy! Sejak tadi Mommy belum menyadari muka kamu yang bengkak! Jangan sampai Mommy tau!" pesan Abi.


"Iya, Bi. Udah sana, Abi bawa pulang aja Mommy! Karyawan Mommy udah datang tuh buat bantu beresin!" usir Wira.


"Ih dasar anak songong! Kalo Mommy mendekat, kamu buang badan. Pokoknya jangan sampai Mommy lihat! Awas ketahuan!"

__ADS_1


"Iya. Bawel banget ya bapack-bapack!"


Tari terlihat keluar dari rumah Dewi. Nampak Tari celingukan mencari Wira yang sejak tadi belum ia temui.


"Tuh, Mommy ke sini! Sana kamu ke warung kek bilang mau beli rokok! Cepetan!" usir Abi.


Wira menaruh pengki yang ia pegang lalu pergi ke warung. Tari memanggil namun Wira acuh.


"Bi, Wira kemana? Mommy panggil kok malah pergi sih?" tanya Tari.


"Beli minuman dingin! Haus banget katanya. Kita pulang yuk, My!" ajak Agas.


"Nanti dulu. Mommy mau ketemu Wira dulu." tolak Tari.


"Nanti aja tuh anak juga ke rumah-" belum selesai Agas bicara, handphone miliknya berbunyi.


My Boy Calling...


"Kenapa?" tanya Agas.


"Enggak bawa duit, Bi. Cuma ATM kosong doang nih!" alasan Wira.


"Bohong!" jawab Agas.


"Jangan!" Agas lalu berbalik badan dan berbicara sambil berbisik agar Tari tak mendengar. "Abi transfer."


"Oke. Sepuluh juta ya, Bi!" jawab Wira seenaknya.


"Enak aja kamu!" ujar Agas dengan nada tinggi.


"Siapa, By?" tanya Tari.


"Bukan, My. Ini, Damar!" bohong Abi dan Tari percaya saja dengan kebohongan yang suaminya buat.


"Oh..."


Agas kembali menerima teleponnya. "Cepet, By!" tagih Wira.


Agas menghela nafasnya. Anak bangornya kembali mengerjainya. Kalau Tari sampai melihat wajah bengkak Wira, pasti akan sedih. Agas tak mau itu. "Oke. Tunggu aja!"


Agas mematikan sambungan telepon lalu membuka mobile banking. Dikirimkannya uang sepuluh juta pada anak bangornya tersebut.


Wira tersenyum melihat saldo tabungannya bertambah. "Lumayan!" ujarnya sambil tersenyum lebar. "Cinta bener ya Abi sama Mommy. Cuma karena enggak mau Mommy khawatir dan sedih, keluar deh uang sepuluh juta. Lumayan buat beliin Dewi mukena dan baju baru!"

__ADS_1


"Ayo, My. Kita pulang. Abi ngantuk nih! Semalam Abi begadang di pos kamling." Agas merangkul bahu Tari dan mengajaknya menjauhi lapangan volly. Takut Wira kembali mengancamnya.


"Abi sih begadang terus! Nanti kerutannya nambah loh!" omel Tari.


"Tambah ganteng dong Abi kalau banyak kerutan?" goda Abi.


"Iya dong! Abi laki-laki paling ganteng sedunia, setelah Wira tapinya." goda Tari.


Agas hanya memanyunkan bibirnya. Kalah dengan putranya sendiri. Tari lalu pamit pada keluarga Dewi.


"Terima kasih banyak Ibu Tari dan Pak Agas sudah mengadakan pengajian ini. Semoga anak-anak kita pernikahannya langgeng dan bahagia sampai maut memisahkan." ujar Ibu Sari.


"Aamiin!" jawab Tari dan Agas kompak.


****


Wira melihat mobil Tari keluar dari parkiran Indo Juli. Wira pun keluar dari persembunyiannya sambil meminum teh botol dingin.


Langkahnya ringan kembali ke rumah Dewi meski ia membawa sekantong minuman dingin untuk dibagikan. "Itung-itung bayar zakat. Sepuluh juta... oh sepuluh juta... Gimana lagi ya cara ngerjain Abi biar keluar duit sepuluh juta." batin Wira.


Sedang merencanakan ide baru, Wira melihat Dewi sedang membantu membereskan rumahnya. Wira menghampiri dan memberikan kantong plastik yang ia bawa.


"Apaan ini?" tanya Dewi, lalu melihat isi kantong.


"Bagiin sama keluarga dan tetangga lo yang udah bantuin."


"Banyak banget?!"


"Bagi karyawan Mommy juga!"


"Iya. Baik bener deh suamiku ini." puji Dewi.


Wira tersenyum. "Baru dapat uang kaget dari Mister Agas. Gue ke lapangan dulu! Mau bantuin lagi!"


"Iya." Dewi menatap suaminya yang melempar botol bekas teh yang ia minum ke dalam plastik sampah. Bahri bersorak saat lemparan Wira tepat sasaran.


"Golllllllll!" teriak Wira dan Bahri kompak.


Dewi tersenyum. Ia sangat bersyukur memiliki Wira. Suami yang ia cintai juga mencintainya dengan caranya sendiri.


"I love you, Pak." batin Dewi.


****

__ADS_1


__ADS_2