Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Musyawarah-2


__ADS_3

"Tentu saya sangat setuju dengan keputusan dari Bapak Agas." ujar Bapaknya Dewi. "Kami dari pihak perempuan juga tak mau kalau pernikahan mereka hanyalah nikah siri saja. Lebih banyak pihak perempuan yang merugi, apalagi kalau sudah ada anak nanti. Susah untuk mengurus surat-surat dan segala macamnya."


Agas mengangguk. "Betul, Pak. Saya setuju. Sebenarnya malah saya sudah diskusi dengan Wira. Saya menawarkan Wira untuk mengadakan pesta pernikahan, namun Wira menolak. Alasannya karena lebih suka mendaftarkan pernikahan saja tanpa resepsi."


Mendengar anaknya tak akan dibuatkan pesta resepsi, Ibu Sari selaku Ibunya Dewi tak terima. "Tidak ada resepsi? Mereka bukannya orang kaya? Kok pelit sekali sih dalam mengeluarkan uang? Bagaimana tetangga sekitar akan tahu kalau Dewi sudah menikah jika tanpa dipestakan?!" batin Ibu Sari.


"Maaf, Pak. Boleh saya bicara?" tanya Ibunya Dewi meminta ijin.


Seakan tahu kalau istrinya akan protes karena tidak diadakannya pesta, Bapaknya Dewi pun memberi kode dengan mencolek lengan istrinya. Ibunya Dewi acuh, tak peduli dengan protes suaminya. Ia harus menyuarakan isi hatinya. Semua tergantung kemampuannya protes.


"Silahkan, Bu." jawab Agas.


Ibu Sari pun mulai menyampaikan kegelisahannya. "Jadi begini, Pak. Jujur saja saya dan suami saya kecewa karena kedua anak kita menyembunyikan pernikahan mereka. Dewi adalah anak pertama saya. Dewi juga terkenal di lingkungan sekitar sebagai salah satu gadis yang memiliki banyak pengagum,"

__ADS_1


Dewi menatap tak setuju dengan ucapan Ibunya. Ia menggelengkan kepalanya, memberi kode agar Ibunya tak melanjutkan perkataannya lagi. Lagi-lagi Ibunya Dewi tak peduli. Masa depan dan nama baiknya tergantung usahanya kali ini.


"Sudah tentu pernikahan yang disembunyikan tak akan diketahui oleh para tetangga. Sebagai orang yang tinggal di perkampungan padat penduduk, tentu hal tersebut mudah saja berubah menjadi gunjingan. Kalau Dewi hamil, pasti akan dibicarakan, dianggap Dewi hamil di luar nikah. Padahal mereka sudah menikah,"


"Belum lagi para pemuda di sini yang suka datang hendak melamar Dewi. Maklum lah ya, punya anak cantik sulit menolak pesona yang Dewi miliki!" Ibunya Dewi tertawa sombong sambil menutup mulutnya. Tak ada yang ikut tertawa karena memang tidak ada hal yang lucu.


Sekarang gantian Dewi yang merasa malu akan kelakuan Ibu-nya. "Tentu lebih baik kalau pernikahan mereka diketahui oleh orang-orang di sekitar mereka bukan? Tujuannya apalagi kalau bukan menghindari fitnah!"


Wira menghela nafas mendengar perkataan Ibu-nya Dewi. Wira tau tujuan Ibu-nya Dewi adalah mengadakan resepsi pernikahan. Hal yang tak mau Wira lakukan. Wira tak menyukai pesta seperti ini, kalau party di club baru ia suka.


Dewi langsung mendapat tatapan tak suka dari Ibu-nya. Dewi serba salah, antara membela Wira atau memihak ibu-nya. Namun melihat wajah Wira, ia tahu harus memihak pada siapa.


"Memangnya kamu tak mau dibuatkan resepsi, Wi?" sindir Ibunya Dewi.

__ADS_1


"Mm... Itu... Jujur aja, Bu. Tidak. Dewi malu kalau dipestakan seperti itu. Toh Dewi tak punya banyak teman untuk diundang." tolak Dewi.


Wajah Ibu-nya Dewi makin sebal dengan anaknya sendiri. Kini gantian Wira yang membela Dewi.


"Saya juga kurang suka pesta seperti itu, Bu. Sama seperti Dewi, teman saya juga tak terlalu banyak. Cukup update status di sosial media saja dan mereka tau kalau saya sudah menikah. Saya lebih setuju dengan ide Dewi yang ingin mengadakan selametan dengan membagikan makanan kepada para tetangga. Yang terpenting kan doanya, bukan pestanya." ujar Wira membuat Dewi menghela nafas lega. Hampir saja Dewi kalah melawan sikap egois Ibu-nya sendiri.


"Jadi bagaimana ini Pak... Bu?" tanya Tari.


"Saya setuju dengan Nak Wira." akhirnya Bapaknya Dewi buka suara. "Yang terpenting doanya. Bukan pestanya. Kami juga tak mau merepotkan keluarga Nak Wira. Selama ini Nak Wira sudah banyak membantu kami. Tak mau membuat Nak Wira kesulitan lagi. Biarlah pernikahan mereka berdua, mereka yang tentukan akan seperti apa."


Ibu-nya Dewi akhirnya kalah. Ia harus menuruti keputusan imamnya. Niatnya mengadakan resepsi besar-besaran kandas sudah.


"Baiklah kalau itu keputusan dari keluarga Dewi. Biarkan istri saya nanti yang membantu masalah konsumsi. Kami akan mengusahakan agar keluarga Bapak juga tak direpotkan." ujar Agas.

__ADS_1


Semua setuju dengan keputusan Agas dan Bapaknya Dewi, terkecuali Ibu-nya Dewi yang tak bisa apa-apa selain menerima keputusan yang dibuat.


****


__ADS_2