
Wira mengantar Dewi sampai dekat cafe lalu pulang dengan membawa tas baru milik Dewi. Dewi yang meminta agar tasnya dibawa pulang terlebih dahulu agar teman-temannya tidak menaruh curiga.
Setelah kejadian Wira menegur manager cafe, teman-teman Dewi tak lagi bersikap menyebalkan seperti sebelumnya. Dewi sudah mulai bisa membaur dengan teman-temannya dan ikut makan bersama jika waktunya telah tiba. Ia tak lagi makan seorang diri namun ada teman yang menemani.
Jam enam sore adalah jadwal Dewi beristirahat. Ia dapat istirahat kedua bersama senior dan rekan kerja yang dulu sempat menyebarkan rumor negatif tentangnya.
"Makan kamu enak banget, Wi. Apa karena lagi gajian kamu makan yang enak-enak?" tanya si rekan julid.
Dewi tak mau berkata jujur, nanti mereka akan menyebarkan fitnah yang lebih lagi terhadap dirinya "Iya, Kak. Sekali-kali aku juga pengen menikmati uang gaji aku. Aku ingin makan yang enak, nggak hanya selalu memikirkan tentang keluargaku saja."
"Memangnya kamu udah nggak punya utang lagi, Wi? Habis dapat warisan ya?!"
Dewi tertawa mendengarnya. "Warisan? Warisan dari mana Kak?! Rumah aku aja masih ngontrak!"
"Lalu kamu dapat uang dari mana sampai bisa melunasi utang kamu?" tanya si rekan julid.
Dewi sadar sejak tadi temannya sengaja mengorek informasi darinya. Bagaimana ia bisa melunasi hutang dalam waktu singkat.
"Kata siapa utang aku lunas, Kak?" tanya balik Dewi. "Aku tuh cuma memindahkan beberapa utang ke satu tempat saja. Yang semula utang aku beberapa tempat, kini aku jadikan satu. Tinggal aku nyicil deh ke satu tempat tersebut."
"Bisa kayak gitu? Enak dong!" cibir si julid.
"Enak dari mana sih, Kak? Yang namanya punya utang tuh enggak enak. Tidur kepikiran. Kerja kepikiran. Mau jajan kepikiran. Utang kan harus dibayar, Kak. Meskipun terlihat lebih ringan namun tetap harus dibayar. Aku enggak mau saat aku meninggal nanti ditagih sama Allah karena belum bayar utang. Banyak loh orang yang punya utang tapi abai. Enggak sadar aja dia kalau utang itu yang pertama ditagih di akhirat!" ceramah Dewi sekalian ajang menyindir kedua temannya.
"Iya sih." si julid kini tak lagi banyak bertanya. Dewi tersenyum, rupanya sesekali berkata pedas ada gunanya juga. Dua orang julid ini saja sampai diam, apalagi kalau mereka mendengar ucapan pedas setiap hari seperti yang Dewi dengar dari mulut Wira?
Dewi menyelesaikan pekerjaannya dengan hati riang. Jam sepuluh cafe sudah tutup. Pendapatan cafe kalau hari kerja tak terlalu banyak. Jangan tanya saat weekend nanti. Bisa pegal betis Dewi bolak balik mencatat dan mengantar pesanan yang masuk.
Dewi menunggu ojek di halte dekat cafe. Baru saja sampai halte sudah ada klakson dari motor sport yang ia kenal. Dewi melirik kiri dan kanan takut ada yang melihat.
Dewi tidak berniat menyembunyikan pernikahannya. Dewi hanya tak mau dianggap menikahi Wira karena uang semata, meskipun alasan itu benar adanya.
__ADS_1
Merasa aman dan tak ada yang melihat, Dewi pun menghampiri Wira. Wira memberikan helm pada Dewi lalu mereka pergi meninggalkan halte.
"Bapak dari mana?" tanya Dewi.
"Dari showroom Abi. Niatnya mau cari bahan audit tapi semua aman terkendali yaudah ke cafe yang lain aja." jawab jujur Wira.
"Bapak pasti kesulitan uang ya karena enggak ada kerjaan audit?" tanya Dewi agak sedih.
"Kesulitan sih enggak. Cuma gue butuh uang buat modal usaha. Gimana caranya gue bisa nyewa ruko sambil tetap tinggal di apartemen." Wira berhenti di salah satu warung pecel ayam. "Kita makan dulu. Gue laper!"
"Memangnya Bapak belum makan?" tanya Dewi seraya turun dari motor Wira.
"Belum. Cuma ngemilin risol aja di cafe."
"Dari tadi siang belum makan lagi?" tanya Dewi lagi.
"Iya, bawel! Enggak usah ceramah! Ayo masuk, gue udah laper!" Wira masuk ke dalam tenda dan memesan dua porsi pecel ayam dan tambahan nasi putih satu lagi.
"Bagus dong. Berarti kalo sama saya bawaannya laper terus." jawab Dewi.
"Iya. Perut atas sama dibawah perut bawaannya laper terus kalo sama lo!" ujar Wira seraya menahan senyumnya.
"Tuh... Mulai duluan ya bahas kayak gitu!"
Wira tersenyum dan memakan pecel ayam miliknya. Selesai makan Wira mengajak Dewi ke SPBU. Selain mengisi bensin motornya, Wira mengajak Dewi ke ATM yang terdapat di SPBU.
Wira memasukkan ATM miliknya lalu menekan pin. Wira memilih transfer ke rekening sesama bank. "Nomer rekening lo berapa?"
"Nomor rekening saya? Buat apa?" tanya Dewi bingung.
"Cepetan jawab aja! Nomor lo ada di mobile banking gue. Ribet. Cepetan!"
__ADS_1
"Iya!" Dewi pun menyebutkan nomor rekening miliknya.
Wira menekan nomor yang Dewi sebutkan lalu mentrasfer lima juta rupiah ke rekening Dewi.
"Banyak banget, Pak. Buat apa?" tanya Dewi.
Wira memasukkan kartu ATM miliknya ke dalam dompet lalu berjalan keluar dan naik ke atas motornya. "Ya buat nafkahin lo lah! Sekalian buat masakkin gue. Lo tau kan makanan di lemari es mulai habis? Mommy enggak akan kirimin stok makanan lagi. Lo atur deh supaya uang yang gue kasih cukup. Untuk listrik dan lain-lain itu tugas gue. Kalo kurang, bilang."
"Saya akan ngatur supaya enggak kurang, Pak. Bapak tenang saja. Ini bahkan jauh lebih besar dari uang gaji saya." ujar Dewi dengan senang hati. Ia merasa kini benar-benar menjadi istrinya Wira.
Wira mengusap lembut rambut Dewi. "Bagus! Gue percaya sama lo! Cepetan naik! Udah malam!"
Dewi naik ke atas motor dan mereka pun pulang ke apartemen mereka.
"Wi!" panggil Wira seraya menghentikan langkah Dewi yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa, Pak?"
"Mau nyobain meong meong di kamar mandi enggak?" tanya Wira seraya memainkan kedua alisnya.
Tak mungkin Dewi bisa kuat menahan senyum mendengar perkataan Wira. "Kalau saya berisik kayak kucing meong meong gimana, Pak?" goda Dewi.
"Oh tenang saja! Apartemen ini gue beli karena kedap suaranya. Aman! Lets go!"
Wira mengajak Dewi masuk ke kamar mandi. Acara mandi yang biasanya hanya sepuluh menit menjadi setengah jam lebih.
Dewi keluar dari kamar mandi dengan wajah kelelahan sehabis melayani suaminya, sementara Wira tersenyum puas.
"Pasti lo tidur pulas deh malam ini! Setelah memengang bagian terlembut dalam diri gue!" goda Wira. "Enggak sia-sia ya ilmu yang lo kasih tau ke gue!"
Dewi mencibirkan bibirnya. Wira benar-benar menguras tenaganya. Suaranya serak dan tubuhnya lelah. Entah minum apa Wira sampai bisa kuat seperti itu.
__ADS_1
****