Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Morning Sick


__ADS_3

Suara flush dari toilet terdengar, tak lama Wira keluar dengan wajahnya yang terlihat tidak baik-baik saja. Sudah ke empat kalinya ia ke toilet hari ini.


"Ke dokter aja yuk! Daripada kamu lemas kayak begitu!" ajak Dewi.


"Enggak usah! Mana air mineral aku?" Wira menerima botol air mineral yang Dewi berikan dan meneguknya banyak-banyak agar tidak dehidrasi.


"Lain kali, kalau tidak kuat pedas jangan dipaksa habiskan! Ya... Walau aku yang suruh kamu sih!" ujar Dewi tak enak hati. Karena ceker mercon yang ia beli dan suruh Wira memakannya, suaminya tersebut jadi sakit perut dan bolak-balik ke toilet sejak tadi.


"Awalnya memang aku enggak mau makan, tapi ternyata enak yaudah aku habiskan! Bukan salah kamu juga sih!" Wira tak mau Dewi merasa bersalah.


Dewi mengambil minyak kayu putih yang sudah ia sediakan lalu membalurkan ke perut rata milik Wira. "Maafin aku ya! Jangan selalu mengikuti kemauan aku, kamu sendiri yang menderita nanti."


Wira sampai bersendawa saat dipijat oleh Dewi. "Enggak, kok. Yang penting kamu senang dan keinginan baby kita terpenuhi."


Wira menaruh kepalanya di pangkuan Dewi. "Sabar ya, nanti aku akan kerja keras demi keluarga kita. Mulai besok, aku akan mengerjakan bisnis baru aku. Kamu fokus saja mengawasi bisnis laundry ini, aku yakin kamu bisa kok. Kamu 'kan hebat. Aku tinggal ke Bali saja kamu bisa handle dan membuat bisnis ini maju."


"Kamu seyakin itu sama aku?" tanya Dewi.


"Iya dong! Tak ada sedikit pun keraguan aku sama kamu. Yakin seyakin-yakinnya."


Dewi tersenyum mendengarnya. "Kamu kenapa jadi manis banget sih semenjak pulang dari Bali? Kebanyakkan makan pie susu ya?"


"Hmm... Mungkin karena aku kebanyakan memikirkan kamu. Kata-kata manis mulai tercipta dan membuat aku menghafal semuanya. Sekarang tak ada lagi Wira si judes, berganti menjadi Wira si manis lidah."


"Bisa aja kamu! Masih sakit perut enggak?" tanya Dewi.


"Udah enakkan. Memang tangan kamu adalah obatnya." puji Wira yang mulai mengantuk. Hari ini begitu melelahkan baginya. Bangun pagi hanya untuk dapat pesawat yang bisa sampai ke Jakarta sebelum siang. Mendatangi showroom untuk mengambil mobil menyebalkannya dan jalan-jalan ke taman. Kini, perutnya mules bak diaduk-aduk dan rasa kantuk mulai menyergap.


Wira mengangkat kepalanya dan memindahkannya di atas bantal empuk. Tangannya memeluk Tari, seakan tak mau ia lepas sedetik pun. Wira pun terlelap dan suara dengkuran halus mulai terdengar.


Dewi yang belum bisa tertidur. Kasihan pada suami yang jadi menderita karena menuruti keinginannya.


Dewi memeluk Wira lebih erat. Tak ada wangi parfum maskulin yang tercium, melainkan wangi minyak kayu putih yang ia balurkan tadi. Namun kehangatan itu masih tetap sama.


Perlahan rasa kantuk mulai menguasai Dewi. Ia pun ikut terlelap dan saat terbangun suaminya sudah tak ada di sisinya.


Dewi melirik jam di dinding. Jam setengah enam pagi, hampir saja Dewi kesiangan sholat subuh. Dewi heran kenapa Wira tak membangunkannya?

__ADS_1


Dewi pun melaksanakan sholat subuh kemudian mencari keberadaan suaminya. Di dapur tak ada. Mungkin di bawah?


Baru saja Dewi hendak turun tangga, ia mendengar suara langkah kaki menaiki tangga.


"Kamu sudah bangun? Maaf aku ninggalin kamu. Aku habis olahraga sekalian nyari sarapan." Wira naik ke atas dan mencuci tangannya. Diletakkannya plastik berisi makanan di atas meja makan.


"Hampir aku kesiangan sholat subuh. Kenapa enggak bangunin dan ngajak aku sih?!" protes Dewi.


"Maaf, Sayang! Jauh aku olahraganya. Sudah lama enggak lari pagi, nih perut aku mulai buncit! Udah berkurang six packnya jadi four pack."


"Memangnya sudah enggak sakit perut lagi kayak semalam?" Dewi mengambil dua buah piring dan menghidangkan makanan yang Wira bawa. Nasi uduk, terlihat menggugah selera.


"Udah enggak dong! Semua berkat pijitan kamu yang sakti!" Wira mengambil piring berisi bungkusan nasi uduk miliknya dan mulai memakannya. "Ayo makan, Sayang! Kita sarapan bareng! Aku lapar berat semalam habis bolak balik ke toilet."


"Alhamdulillah kalau sudah tidak sakit lagi. Semua karena izin Allah, bukan karena pijitan aku saja! Aku mau tapi setengah aja ya nasinya?!" Dewi mau membagi dua nasinya namun Wira tolak.


"Jangan, Sayang! Sia-sia nanti olahraga aku kalau makannya nambah!" tolak Wira.


"Yah... Mubazir dong! Kita enggak boleh buang-buang makanan sementara banyak orang yang-"


"Oke! Aku habiskan!" potong Wira. Bukan karena takut Dewi marah atau mendengarkan ceramah Dewi, tapi karena mata Dewi yang terlihat sedih.


"Mmpph-"


Dewi pun berlari ke toilet dan...


"Hueeekk... Hueeekkk...."


Wira meninggalkan makanannya dan ikut berlari di belakang Dewi. Ia memegangi rambut Dewi agar tak kena muntahan dan memijat tengkuknya. Rasa hangat dan lega mulai menjalari Dewi, membuat rasa mual mulai hilang.


Dewi membasuh mulutnya dan mencuci mukanya. Sudah selesai muntahnya setelah semua yang ia makan keluar.


Wira mengambilkan air hangat dan memberikannya pada Dewi. "Kamu begini terus setiap hari?" tanya Wira sambil menatap wajah Dewi dengan lekat.


Wira terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya. Wajahnya lebih tirus dan tubuhnya juga lebih kurus.


Dewi mengangguk. "Biasa, morning sick bagi orang hamil memang seperti ini."

__ADS_1


"Udah periksa ke dokter?" Wira mengambilkan minyak kayu putih dan membalurkannya di tengkuk Dewi.


"Udah sama Mommy, makanya aku tahu kalau aku hamil. Kamu yang suruh bukan?!"


"Selain itu, belum pernah ke dokter lagi?!"


Dewi menggelengkan kepalanya. "Belum jadwalnya kontrol sih. Masih sebulan lagi. Disuruh minum obat dan vitamin aja."


"Kalau enggak mau makan nasi uduk, kamu mau makan apa?" tanya Wira.


"Udah kenyang." tolak Dewi.


"Kenyang dari mana? Kamu muntahin semua kayak gitu! Dari mana asupan nutrisinya kalau kamu muntahin? Kamu mau capcay? Aku pesankan sekarang!"


Dewi tersenyum. "Aku baik-baik saja. Nanti kalau agak siang biasanya rasa mual mulai hilang. Aku minum susu hamil saja deh biar kamu enggak khawatir!"


"Dimana susunya?"


"Di tempat susu warna ungu!" Dewi menunjuk tempat susu hamil yang sudah ia buka dan taruh di wadah plastik.


"Aku saja yang buatkan!" Wira mengambil cangkir dan menuangkan beberapa sendok susu sesuai takaran lalu menambahkan air panas setengah cangkir dan mencampurnya dengan air dingin.


"Habiskan!" Wira memberikan susu buatannya untuk Dewi. "Pakai roti tawar ya biar kenyang!"


Dewi menolaknya. "Ini aja cukup. Nanti aku akan makan kalau sudah tidak mual."


Wira mengambil Hp miliknya dan mentransfer uang bulanan untuk Dewi. "Aku udah transfer ya. Uang bulanan dan uang gaji kamu. Nanti kamu pesan makanan online saja. Yang penting kamu makan."


"Uang gaji?" Dewi mengernyitkan keningnya heran.


"Iya. Kamu 'kan sudah tidak bekerja lagi, jadi aku yang gaji. Pakai buat bayar kontrakkan Ibu dan sekolah Ratna. Untuk uang gaji Ibu, Ratna dan karyawan kita sudah aku siapkan."


"Memangnya cukup uang kamu untuk ini semua?"


Wira tersenyum. "Alhamdulillah cukup. Bisnis laundry kita lumayan untungnya! Kamu doakan saja bisnis baru aku bisa lebih maju lagi!"


"Aamiin!"

__ADS_1


****


__ADS_2