Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
LDM-2


__ADS_3

Matahari begitu menyengat dan terasa seperti berada di atas kepala saat Wira berjalan dari tempat parkir mobil menuju cafe milik Mommy yang terbakar. Pemilik tempat yang Mommy sewa sudah melakukan pembersihan puing-puing bekas kebakaran.


Hanya tersisa sedikit puing-puing yang belum dibersihkan. Mungkin karena waktu pengerjaan yang sebentar. Rupanya pemilik tempat bekerja cepat merapikan dan berniat untuk membangun kembali lokasi yang terbakar. Urusan dengan pihak kepolisian juga sudah beres.


Wira sempat berbicara sebentar dengan pemilik tempat. Rencananya tempat tersebut akan dibangun kembali namun dengan konsep yang berbeda. Pemilik tempat tersebut menjelaskan pada Wira dan ternyata setelah dipikir-pikir konsep yang baru tidak sesuai dengan cafe milik Mommy.


Pemilik tempat akan menyewakan cafe dengan konsep klub malam yang banyak diminati oleh para wisatawan asing maupun lokal. Namun, konsep cafe milik Mommy adalah cafe keluarga. Tentu saja tidak cocok. Mommy pasti akan menolak membangun cafe di tempat seperti itu.


Dengan sangat menyesal Wira akhirnya memutuskan kerjasama mereka. Pemilik cafe meski agak kecewa namun bisa maklum. Ia memang berencana mengembangkan tempat usaha miliknya menjadi lebih menjual lagi. Tidak apa-apa, Wira bisa mencari tempat yang baru.


Untuk sementara, barang-barang yang tersisa dari kebakaran akan ditaruh di salah satu rumah yang sudah disewa khusus untuk menaruh barang-barang. Karyawan pun untuk sementara diliburkan sampai Wira menemukan tempat baru yang cocok untuk cafe milik Mommy.


Saat hendak pergi dari cafe yang lama, Bapak yang semalam menemani Wira datang menghampiri. "Bapak Wira!" panggil Bapak tersebut.


"Iya Pak Budi!" sahut Wira. "Kebetulan sekali Bapak datang. Saya baru saja mau menghubungi Bapak."


"Semalam saya bilang sama Bapak kalau saya akan datang lagi. Sejak tadi saya tunggu Bapak Wira belum datang. Jadi, saya makan siang dulu di warteg dekat sini." ujar Bapak Budi dengan ramah.


"Oh... Maaf ya, Pak. Saya ketiduran. Baru bangun tadi habis adzan shalat dzuhur. Karena Bapak udah makan, Bapak mau nggak menemani saya mencari lokasi yang baru untuk cafe?!" ajak Wira.


"Lokasi baru, Pak? Jadinya pindah? Enggak lanjut di sini lagi setelah renovasi?" tanya Pak Budi.


"Niatnya sih pengen tetap di sini, Pak. Namun, ternyata pemilik tempat ini mau mengubah konsep cafe. Biasalah, mau bikin cafe yang bisa sekaligus tempatnya dugem. Konsepnya nggak cocok Pak dengan cafe milik Mommy. Cafe kita kan konsepnya cafe keluarga. Lebih baik saya cari lagi tempat yang baru, yang pemandangannya lebih enak dan juga lokasinya lebih strategis. Siapa tahu di tempat baru penjualan kita lebih banyak!"


"Betul, Pak. Ayo kita pergi sekarang! Nanti, saya ajak muter-muter siapa tahu kita nemu yang cocok!" ajak Pak Budi.


"Ayo! Bapak yang orang sini pasti lebih tahu dong daerah yang strategis dan bagus?! Kita naik mobil saya aja ya Pak?!" ajak Wira.


Wira lalu mengajak Pak Budi mencari lokasi tempat cafe yang baru. Beberapa tempat yang disewakan dia datangi.

__ADS_1


Ada yang tidak cocok viewnya. Ada yang tempatnya kurang bagus. Ada yang bagus namun harganya sangat mahal. Ada juga yang harganya murah namun lokasinya kurang strategis.


Rupanya mencari tempat untuk cafe baru tidak semudah yang Wira bayangkan. Wira baru kembali ke hotel di malam hari. Tentunya setelah ia mengantarkan Pak Budi pulang terlebih dahulu.


Rasanya seluruh tubuh Wira begitu lelah. Kurang tidur dan harus muter-muter dari satu tempat ke tempat lain. Udara yang panas membuat Wira kelelahan. Sehabis mandi dan menunaikan shalat Wira langsung tertidur. Wira lupa kalau ia harus mengabari istrinya Dewi.


****


Dewi menatap handphone miliknya yang sejak tadi sunyi. Sudah puluhan pesan ia kirimkan kepada Wira, namun tak ada satupun yang dibaca. Dewi ingin menelpon, namun tak ingin mengganggu Wira yang pasti sedang sibuk bekerja nan jauh di sana.


Dewi yang khawatir memikirkan bagaimana keadaan suaminya. Apakah sudah makan? Apakah kondisinya baik-baik saja? Ataukah suaminya kelelahan?


Dewi jadi tak berselera untuk makan. Meskipun Wira sudah menyediakan banyak stok capcay kesukaannya, Dewi tak berselera. Dewi terus kepikiran tentang Wira.


Keadaan Dewi yang tak lagi bekerja membuatnya hanya semakin memikirkan Wira. Membantu di laundry juga tidak seberapa, malah Ibu menyuruh Dewi hanya mencatat pesanan saja. Membuat Dewi bosan dan malah kepikiran suaminya.


"Kamu enggak kerja lagi, Wi?" tanya Ibu penyuka kangkung yang hendak laundry karpet miliknya yang ketumpahan kuah soto saat arisan di rumahnya.


"Iya sih. Kamu mah enak. Punya suami kaya, tinggal duduk manis terima duit aja!" cibirnya.


Dewi menanggapinya dengan senyum malas. Hati Dewi sebenarnya kesal dengan orang-orang sok tau macam tetangga ibunya ini. Dia tak tahu bagaimana susahnya Wira membangun bisnis miliknya.


"Suami kamu mana, Wi?" tanya Ibu penyuka kangkung lagi.


"Lagi pergi ke Bali! Ngurusin bisnis Mommy-nya yang kebakaran." jawab Ibu menggantikan Dewi.


"Ke Bali? Wah enak bener ya! Saya pengen banget ke Bali tapi belum kesampaian. Pengen lihat bule ganteng. Wah suami kamu pasti puas-puasin ngelihat bule cantik yang matanya biru ya Wi? Kamu enggak diajak, Wi?" ujar Ibu penyuka kangkung tanpa memikirkan perasaan Dewi.


Dewi hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.

__ADS_1


"Kenapa enggak ikut? Nanti suami kamu bisa senang-senang sendirian loh di sana, Wi!" ujarnya mengompori.


"Hush! Dijaga omongannya!" omel Ibu. "Nak Wira ke sana untuk kerja! Jangan suudzon dulu, dosa!"


"Bukan suudzon, Bu. Di Bali kan memang terkenal sebagai tempat bersenang-senang. Banyak orang liburan ke sana untuk menghilangkan stress. Apalagi banyak bule yang suka berjemur tanpa memakai busana lengkap. Nak Wira kan tampan, bule di sana pasti suka sama cowok Indonesia yang wajahnya seganteng Nak Wira." makin mengompori saja ibu penyuka kangkung ini.


"Sudah jangan malah bikin Dewi kepikiran! Ini nota-nya. Tiga hari lagi diambil ya!" ujar Ibu secara halus mengusir Ibu penyuka kangkung.


Sayangnya, meski ibu penyuka kangkung sudah pergi kata-kata yang ia katakan terlanjur membekas dalam pikiran Dewi. Ia jadi tambah kepikiran suaminya.


Kata-kata ibu penyuka kangkung kembali terngiang di kepalanya, "Nak Wira kan tampan, bule di sana pasti suka sama cowok Indonesia yang wajahnya seganteng Nak Wira."


Hati Dewi makin tak tenang kala seharian Wira tak memberinya kabar sama sekali. Mau makan tak selera. Tetap saja memikirkan Wira.


Akhirnya malam hari Dewi memberanikan diri menelepon Wira. Ia berpikir Wira pasti sudah pulang.


Sayangnya, Wira tak mengangkat telepon Dewi. Wira sudah terlelap dan masuk ke alam mimpi, sementara Dewi terus kepikiran suaminya.


Ratna yang menginap di ruko melihat kakaknya yang begitu cemas. Ratna berusaha menenangkan Dewi.


"Percaya sama Kak Wira, Kak. Kak Wira pasti akan menjaga diri dan kepercayaan Kakak. Sudah malam, Kakak belum makan bukan sejak tadi?" tanya Ratna.


"Kakak tidak selera. Kamu tidur aja, Dek!"


****


Hi Semua!


Yuk mampir di novel baru aku, langsung add favorit dan baca ya 🥰

__ADS_1



__ADS_2