
Langit mulai berwarna orange ketika Wira dengan wajah kesalnya mengemudikan mobil baru keluar dari parkiran mobil showroom. Wajahnya seakan tak ikhlas diberi mobil dengan plat nomor super aneh nan nyeleneh khas Abi.
"Enggak suka jalan-jalan sama aku?" sindir Dewi.
"Oh enggak kok, Sayang! Suka! Aku suka banget! Kamu tahu kan kenapa wajah aku bete kayak begini?! Aku pikir akan dibelikan Mini Cooper atau minimal CR-V lah. Kenapa jadi mobil ini yang dikasih?!" gerutu Wira.
"Ya itu namanya rejeki kamu cuma segini. Terima saja. Belum tentu kamu dapat Mini Cooper rejeki kamu seperti Mini Cooper. Berpikir positif saja, siapa tahu kamu dapat mobil ini tapi rejeki kamu seperti mendapat Mini Cooper." nasehat Dewi.
"Iya juga ya?! Kamu bijak sekali, Sayang!" puji Wira seraya mengusap kepala Dewi dengan penuh kasih. Wajahnya kini sudah tersenyum, tak lagi sedih seperti tadi.
"Aku bijak karena banyak bergaul sama Mommy kamu. Mommy yang mengajarkan aku untuk lebih bijak menghadapi cobaan hidup. Aku sangat beruntung memiliki Mommy sebagai mertua aku. Banyak cerita tentang mertua kejam, pedas mulutnya, jutek dan pelit. Namun semua itu tak ada dalam diri Mommy." puji Dewi.
"Betul itu. Kamu tau enggak kenapa?" tanya Wira.
Dewi menggelengkan kepalanya, "Kenapa?"
"Karena Mommy pernah hidup susah dulu. Mommy juga diperlakukan dengan jutek dan sempat tak direstui sama Nenek aku, yang tak lain mertua Mommy sendiri. Mungkin hal itu yang membuat Mommy tak mau dirinya menjadi seperti Nenek dulu." cerita Wira.
"Serius? Aku juga enggak mau jadi mertua yang kejam ah untuk anakku!" Dewi mengusap perutnya dengan penuh kasih.
"Kalau begitu aku akan menjadi mertua yang kejam pada menantuku nanti. Agar menantuku tak akan pernah berani menyakiti anakku, karena takut duluan sama mertuanya yang segalak aku!" Wira ikut mengusap perut Dewi. Hatinya terasa hangat setelah mulai menerima kenyataan kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Jangan dong! Nanti kalau anak kita perempuan, enggak ada cowok yang berani deketin dong?! Terus kalau anak kita cowok, enggak ada cewek yang mau jadi menantu aku dong?" protes Dewi.
"Hmm... Kalau anaknya baik, aku akan baik. Kalau yang deketin punya niat enggak bener, langsung aku skak mat di tempat. Pokoknya aku akan mengawasi anakku dengan ketat!"
Dewi tertawa mendengar perkataan Wira. "Kita sudah berkhayal terlalu jauh ya? Padahal anak kita saja paling baru sebesar kacang polong!"
"Ini bukan berkhayal, Sayang. Ini tuh namanya perencanaan masa depan. Kita rencanakan mulai sekarang demi kebahagiaan di masa depannya. Oh iya, aku mulai sekarang akan menyisihkan gaji aku untuk uang asuransi pendidikan anak kita. Aku juga akan membuat asuransi plus investasi juga."
Dewi terkejut dengan rencana Wira. "Kamu memikirkan sampai sejauh itu?"
__ADS_1
"Iya dong! Saat kamu nyuekkin aku, aku menyibukkan diri dengan bekerja dan mikirin masa depan. Aku mau anak kita sekolah yang tinggi dan tak perlu memikirkan masalah biaya. Aku sudah siapkan sejak sekarang. Tujuan lainnya adalah agar jika aku sudah tiada, pendidikannya akan terus dilanjutkan. Tak perlu terkendala masalah biaya."
Dewi semakin terpesona dengan pemikiran Wira yang sangat dewasa. Ternyata di balik sikapnya yang kadang kekanakkan, pemikiran Wira jauh lebih dewasa dari yang seusianya.
"Kok kamu bisa punya pikiran sejauh itu sih? Aku enggak sampai kepikiran seperti itu loh!" puji Dewi.
"Jelas. Kalau kata Mommy, aku tuh sudah matang sebelum waktunya alias sudah pintar sebelum waktunya. Waktu aku kecil, Abi tak sabar ingin memasukkanku ke sekolah swasta unggulan. Pokoknya aku harus lebih dari Zaky. Jadilah aku sudah masuk SD saat umurku belum genap 6 tahun. Waktu itu masih boleh, kalau sekarang sih sudah enggak bisa ya,"
"Aku sudah sekolah di saat teman-temanku sedang asyik bernyanyi di taman kanak-kanak. Rupanya Om Damar tak mau kalah, dikirimlah Zaky ke luar negeri. Ujung-ujungnya kami lulus bersamaan." cerita Wira.
"Kenapa kamu enggak kuliah di luar negeri saja?" tanya Dewi penasaran. "Aku rasa Mommy dan Abi mampu membiayai kamu kuliah di sana."
"Untuk apa? Kuliah di Indonesia juga banyak yang bagus kok?! Abi dan Mommy tak mau aku mengikuti budaya luar yang bebas." ujar Wira seraya membelokkan mobilnya menuju sebuah taman yang ramai pengunjung. Rupanya ada pasar malam dan ada wahana kincir anginnya.
"Kita ke sini?" tanya Dewi.
"Iya. Aku bosan ke Mall terus. Takut kamu minta jajan!" goda Wira.
Wira menunggu antrian mobil untuk masuk ke dalam taman sambil melanjutkan pembicaraan sebelumnya. "Padahal tanpa kuliah di luar juga aku sudah hidup bebas."
"Tumben sadar!"
Wira mencubit pipi Dewi dengan gemas. "Sadar dong, Cinta. Tapi sekarang udah enggak lagi!"
"Ih lepas ah! Sakit tau!" keluh Dewi seraya mengusap pipinya yang bekas dicubit Wira. Tidak terlalu sakit sebenarnya namun Dewi sengaja membohongi Wira.
"Sakit? Sini aku cium biar hilang sakitnya!" Wira memajukan bibirnya namun langsung dihalangi oleh telapak tangan Dewi.
"Banyak orang! Jangan macam-macam deh!"
Wira tersenyum mendengar omelan Dewi. "Kok jadi kamu sih sekarang yang suka ngomel? Aku tambah yakin yang ada di perut kamu adalah Wira Junior sejati."
__ADS_1
Wira berhasil dapat tempat parkir. Ia mematikan mesin mobil dan membuka seat beltnya.
"Asal jangan pedasnya mirip sama kamu saja!" ujar Dewi.
"Kalau tampannya boleh kan?" goda Wira.
Dewi mencibirkan bibirnya. "Iya deh calon Daddy yang narsis!"
Wira sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dewi. "Silahkan tuan putri!"
"Lebay deh!"
"Bukan lebay. Ini namanya memanjakan istri. Mulai dari hal kecil sampai hal besar. Kita mulai dari hal kecil dulu ya!"
Dewi turun dari mobil dan menggenggam uluran tangan Wira. "Jangan jauh-jauh, takut kita terpisah. Sudah cukup sebulan ini kita terpisah jarak. Sampai membeku cairan milikku karena tidak dilampiaskan!"
Dewi menahan tawa mendengarnya. "Wah akan lebih membeku lagi dong karena kalau aku hamil enggak bisa terlalu diforsir kalau lagi meong-meong."
"Enggak bisa diforsir bukan berarti enggak bisa dipergunakan bukan?" Wira tersenyum penuh maksud.
"Entah! Ayo kita cari makanan! Aku mau jajan yang beda. Nanti foto aku ya, biar Carmen ngiler!"
"Oke! Itu kayaknya rame deh. Kamu tunggu di...." Wira mencari tempat yang aman untuk Dewi duduk. "Nah ada tempat duduk tuh. Ayo, kamu duduk di sana tunggu aku antri beli makanan yang ramai itu. Inget ya, jangan kemana-mana! Takut ketabrak orang!"
Dewi menurut. Wira mengantarkan Dewi ke tempat duduk. Baru saja berjalan beberapa langkah, Wira kembali lagi.
"Kenapa lagi?" tanya Dewi.
Wira melepaskan jaket yang dikenakannya dan menyampirkannya ke bahu Dewi. "Takut kamu kedinginan. Aku antri dulu ya!"
****
__ADS_1