Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Happy Birthday Bangor!


__ADS_3

Wira yang merasa takut semakin ketakutan saat kakinya ada yang memegang.


"Huaaa! Ya Allah... Astaghfirullah!" Wira pun membaca ayat kursi sambil memejamkan matanya.


"Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah..."


Kaki Wira terasa lemas, apalagi cengkaraman di kakinya sangat kuat.


"Sayang! Tolong aku!" teriak Wira memanggil Dewi.


"Ya Allah mana Dewi lagi di kamar mandi lagi!" Wira mulai panik.


Kakinya kembali ditarik, reflek Wira berteriak kencang.


"Wuaaahhhhh!" Wira terus membuka gagang pintu yang seperti dikunci dari luar.


Lalu sosok yang berdiri di kamar mandi berjalan mendekatinya.


"Ampun! Ampun! Nanti gue kasih kemenyan deh! Jangan ganggu gue pliss!" Wira malah nego dengan hantu berbaju putih yang berjalan mendekatinya.


Wira kembali menutup matanya untuk menyembunyikan ketakutannya. Ia pun kembali membaca doa.


Pintu yang sejak tadi ia coba buka pun terbuka. Cahaya terang dari luar ruangan langsung menyambutnya.


Nampak Mommy, Abi dan Dewi berdiri di depan kamarnya bersama Carmen, Om Bastian, Om Damar, Tante Tara dan Zaky. Semua kompak berteriak:


"Happy Birthday Abang!"


Carmen membuka tembakan surprise dan keluarlah kertas kertas kecil dari dalamnya. Zaky meniup terompet yang membuat suasana makin meriah.


Wira mengerjapkan matanya beberapa kali. Tak percaya kalau sejak tadi ia dikerjai oleh keluarganya, termasuk istrinya sendiri yang ikut bersekongkol.


"Kalian!" Wira menunjuk semua orang dengan geram.


"Tiup lilinnya dulu dong, Bang!" pinta Mommy. "Make a wish!"


Masih dengan kesal, Wira berdoa dalam hati lalu meniup lilin.


"Yey! Selamat ulang tahun Abang!" Mommy dan yang lainnya hendak maju dan mengucapkan selamat ulang tahun namun Wira menghentikan semuanya.


"Stop dulu! Nanti aja ngucapinnya!" Wira lalu berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya. "Pasti ini si bujang dan telat nikah yang ngerjain deh!"


Wira membuka pintu kamar dengan lebar agar ada cahaya yang masuk. Ia pun menyalakan lampu di atas nakas lalu mencari dua orang yang mengerjainya tadi habis-habisan.


Wira menunduk dan melihat Sony berpakaian serba hitam sedang ngumpet di kolong meja belajarnya. "Oh... Ini tuyul item burik yang tadi narik-narik kaki aku? Hmm... Keluar sekarang!"

__ADS_1


Sony bagai anak kucing yang kedapatan mencuri dengan patuh keluar dari persembunyiannya. "Happy birthday Bangor! Gimana, suka enggak dengan surprise dari Om Sony?"


Wira mengambil spidol dari meja belajarnya dan mencoret wajah Sony. Di keningnya ditulis: Tuyul Burik dan menggambar beberapa gambar di wajah Sony yang pasrah menerima nasibnya.


"Terima kasih loh Om surprisenya! Hampir saja aku pipis di celana!" sindir Wira.


Sony menghela nafas lega saat Wira melepaskannya. Ia pikir Wira akan memberinya bogem mentah, ternyata tidak.


Namun langkah Wira berhenti sebelum sampai kamar mandi dan berbalik badan. "Itu spidol permanen! Selamat menghapusnya ya, Om! Semoga enggak panas di wajah!"


"Hah? Mati gue!" cepat-cepat Sony keluar kamar dan mengomeli Agas.


"Lo sih! Si Bangor dikerjain! Kena balik gue dikerjain sama dia!" omel Sony. "Kaca mana kaca? Micellar water mana? Mati gue kalo enggak bisa hilang sampai besok!"


Carmen mengambilkan kapas dan micellar water untuk membantu Sony dari dalam kamarnya.


Sementara itu Wira yang masih dilanda rasa kesal mencari pelaku yang mengerjainya satu lagi di kamar mandi. Dibukanya pintu kamar mandi dan didapatinya Riko sedang melambaikan tangan padanya.


"Oh... Ini lagi kunti dekil! Hem... Enaknya diapain ya nih orang satu?!" ujar Wira dengan tatapan mata penuh ancaman.


"Bangor ganteng... Happy birthday ya! Om Riko berhasil ya buat kamu ketakutan? Piss dulu ah! Tadi katanya kamu mau kasih om sesajen? Kopi pahit boleh deh!"


Wira tersenyum. "Oke. Aku kasih sesajen buat Om!"


Wira keluar dari kamar mandi dan mengeluarkan kopi miliknya yang berada dekat mesin pembuat kopi. Ia lalu kembali lagi ke kamar mandi.


"Enggak ada airnya Bang? Enggak enak kopi aja tanpa air. Seret!" protes Riko.


"Tuh air di keran banyak! Pakai aja! Ada air panasnya juga lagi!"


"Gelasnya mana?"


"Enggak ada! Cepetan buka mulut! Om minta sesajen bukan? Nih Wira kasih!"


Riko tak semudah itu menyerah. Ia merapatkan mulutnya agar tidak diberi kopi oleh Wira.


"Kalo enggak mau buka mulut, Wira telepon Tante nih kasih tau kalau Om Riko masih suka bo (booking online) di aplikasi sayachat." ancam Wira.


"Ah lo mah enggak asyik! Jangan kasih tau bini gue dong! Itu cuma selingan aja dikala bini gue lagi datang bulan. Enggak beneran gue booking, cuma bantu keluarin aja biar enggak beku cairan gue!" ujar Riko.


"Mau buka mulut atau mau aku bocorin?!" ancam Wira.


"Iya deh, Om kalah. Jangan banyak-banyak kopinya! Aduh mana merk itu pahit banget lagi rasa kopinya!" Riko lalu berteriak. "Agas! Anak lo rese nih! Lebih-lebih dari bapaknya!"


"Udah cepetan ah! Berisik!" omel Wira yang tak sabar ingin menuangkan kopi pahit ke dalam mulut Riko.

__ADS_1


"Heh, ngerjain orang tua dosa loh!" ancam Riko.


"Lebih dosa mana sama selingkuhin istri? Hayo?!" ancam balik Wira.


"Ah lo mah enggak asyik! Lebih serem dari baba lo!"


"Lama banget sih! Cepetan enggak!" ancam Wira.


"Iya... iya..." dengan terpaksa Riko membuka mulutnya.


"Jangan ditutup sebelum aku kasih ijin ya! Awas kalo ditutup aku ulang dari awal!" ancam Wira.


"Iya udah cepetan!"


Riko pun membuka mulutnya. Dengan senyum jahil Wira menuangkan kopi sampai mulut Riko penuh. "Habisin! Jangan dibuang! Kopi mahal tuh!"


Wira keluar dari kamar mandi dengan senyum kemenangan di wajahnya. Sementara Abi terlihat cemas dan cepat-cepat mengecek keadaan sahabatnya.


"Abang!" omel Abi saat melihat mulut Riko berwarna cokelat dengan serbuk kopi dimana-mana. "Ya Allah si Bangor ya!"


Wira tersenyum dan memeluk Dewi. Ialu menjauh tubuhnya dan mencubit hidung Dewi. "Kamu nakal ya ngerjain aku!"


"Aku-"


Wira kembali memeluk Dewi dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Nanti malam hukuman kamu adalah meong-meong!"


"Kamu enggak ngucapin selamat ulang tahun sama aku?" tanya Wira membuat Dewi yang terdiam cepat-cepat memberi selamat pada suaminya.


"Selamat ulang tahun suamiku tercinta! Semoga panjang umur dan makin sukses!" Dewi mencium pipi Wira yang disambut tepukan tangan oleh yang lain.


Kini gantian Wira menghampiri Mommy dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Selamat ulang tahun ya, Nak! Semoga Allah selalu melindungi kamu dan memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga kamu."


"Aamiin. Makasih doanya ya, My!"


Wira lalu memeluk Carmen dan mendapat ucapan selamat dari adiknya tersebut. "Selamat ulang tahun ya, Bang! Semoga abang sehat dan bahagia selalu!"


"Aamiin. Makasih ya Baby!"


Wira juga mendapat ucapan selamat dari Om Bastian, Om Damar, Tante Tara dan Zaky tentunya. Meski sempat kesal karena dikerjai, namun melihat banyak yang masih peduli padanya membuat rasa kesal dalam diri Wira menghilang.


"Bangor! Happy Birthday!" ucap Sony dengan wajahnya yang masih ada bekas spidol.


"Happy birthday bangor!" ucap Riko dengan senyum lebar yang berisi bekas kopi.


Wira tertawa puas namun memeluk kedua om yang sudah mengajarinya pelajaran aneh dalam hidup.

__ADS_1


****


__ADS_2