
Wira tersenyum melihat Dewi yang begitu bersemangat. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat senyum dan semangat seperti itu di wajah istrinya. Wira Tahu, Dewi selama ini menyembunyikan kesedihannya. Bekerja dan terus bekerja, mengalihkan diri dari kesedihan yang mendera. Sekarang waktunya Wira mengembalikan keadaan seperti dulu.
Wira menyusul Dewi yang sudah keluar dari mobil menuju sebuah Warkop yang terletak di pinggir jalan. "Tunggu dulu dong, Sayang! Masa sih kamu ninggalin aku?!"
Dewi menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia menaruh kedua tangannya di pinggang seraya berpura-pura mengomeli suaminya tersebut, "Bagaimana sih Bos Wira ini?! Lama banget! Nggak tahu apa kalau Ibu Dewi ini lapar?! Nih, perut aku sampai rata dan kurus. Bapak Wira tahu nggak kenapa? Karena kurang makan mie instan! Jadi, cepetan deh! Eggak pakai lama!"
Wira lalu berdiri tegak seperti layaknya seorang bawahan yang mendapat perintah dari Jenderal. "Siap, bos!" Wira lalu mengangkat tangan untuk hormat dengan posisi tubuhnya yang tegak. Dewi tertawa melihat ulah Wira. "Mari kita makan mie instan kesukaan Ibu Bos!"
Wira berjalan mendekat dan merangkul bahu Dewi. Mereka pun masuk ke dalam Warkop yang kebetulan hanya ada seorang bapak-bapak yang sedang menumpang nonton acara sepak bola sambil minum kopi hitam. Tak lupa, kacang goreng kemasan bungkus ia beli sebagai cemilan dan teman menonton acara bola.
"Bu Bos mau pesan apa?" tanya Wira mendahului pemilik Warkop. Dewi duduk di bangku kayu panjang yang disediakan.
"Tentu saja, mie rebus rasa soto dengan telur dan sayuran sawi. Kuahnya jangan banyak-banyak, biar micinnya terasa!" jawab Dewi.
"Oke! Abang dengar 'kan?" tanya Wira pada pemilik Warkop yang menjawab dengan tersenyum sambil menggangguk. "Kalau saya, pesan mie rebus rasa kari ayam, telur rebusnya dua, pakai potongan cabe, sayur sawi juga, lalu pakai kornet. Kalau nggak muat, pakai mangkuk satu lagi ya Bang!"
"Pakai baskom boleh, Bang?" goda pemilik Warkop pada Wira.
"Boleh! Mau pakai baskom, panci, penggorengan, tampah juga boleh! Yang penting gue makan puas dan enak malam ini!" jawab Wira sambil tersenyum.
"Eh, Bang! Aku juga pakai potongan cabe deh! Yang pedas ya!" ujar Dewi mengoreksi pesanannya.
"Ih... ikut-ikut?!" Wira tersenyum menggoda Dewi. "Boleh kok, boleh. Kalau mau tambah yang lain lagi juga boleh kok. Makan di warkop mah cincay! Modal Rp100.000 juga kamu udah super duper kenyang! Pokoknya Warkop i'm in love deh!" ledek Wira.
"Dih gaya! Enggak usah! Itu aja. Eh, kayaknya roti bakar coklat keju enak deh, terus minumnya ovomaltine campur susu panas biar tambah mantul! Tambah lagi, Bang!" Dewi kembali menambahkan pesanannya.
"Gue juga, Bang! Cukup ovomaltine aja pakai susu panas!" Wira ikut menambah pesanannya. "Roti bakarnya nggak usah, nanti gue minta aja!"
"Ih curang! Ya udah, rotinya yang pinggirannya aja ya! Yang rada-rada pahit gitu!" ledek Dewi sambil tertawa.
Wira pun ikut tertawa mendengar ledekan Dewi. Ia lalu mencubit hidung Dewi dengan gemas dan membuatnya sampai memerah.
"Tuh 'kan, jahil deh! Untung hidung aku bukan hidung hasil operasi plastik, kalau operasi pasti udah meleyot ke sini ke sana enggak jelas! Lagian kamu sih, ngapain coba cubit hidung aku terus? Mancung enggak, merah iya!" omel Dewi.
__ADS_1
"Habis kamu menggemaskan sih!" jawab Wira yang membuat abang pemilik Warkop cengar cengir mendengarnya.
"Kalau baru nikah memang begitu, Bang! Gemesin. Lucu. Nanti kalau udah nikah puluhan tahun ya kayak saya ini! Minta bikinin kopi, alasannya capek. Mau nonton bola dilarang, karena kalah sama bini yang hobby nonton sinetron ikan terbang!" celetuk bapak-bapak di samping Wira.
"Curhat, Pak?!" ledek abang pemilik Warkop.
"Iye!" jawab bapak tersebut sambil menyeruput kopinya sedikit demi sedikit agar tidak cepat habis.
Wira dan Dewi tersenyum mendengarnya. Dewi yang hendak menjawab bapak tersebut diberi kode oleh Wira agar dirinya saja yang menjawab.
"Kita berdua bukan baru menikah, Pak. Udah mau 3 tahun malah. Justru kita makan di Warkop ini untuk menjaga keharmonisan rumah tangga kita, iya enggak Sayang?!" Dewi menjawab pertanyaan Wira dengan mengangguk.
"Oalah, masih muda udah nikah 3 tahun. Awal nikah umur berapa?" tanya bapak itu penasaran. Dilupakannya layar TV dan malah tertarik dengan kisah Wira dan Dewi.
Untunglah abang pemilik Warkop menghentikannya. "Udah jangan ikut campur! Tuh bolanya liatin! Nanti berubah dari bulet jadi kotak situ enggak tau!"
Dewi menahan tawanya mendengar celetukan abang pemilik Warkop. "Silahkan Mas dan Mbak. Cuekkin aja dia mah! Mau kawin lagi dia tapi enggak ada duit, makanya diomelin sama bininya terus!"
Makanan pesanan mereka pun dihidangkan satu persatu. Dewi yang lapar langsung memakan mie miliknya. Wira pun jadi ikut lapar. Dua mangkok mie berisi aneka pesanannya ia makan sampai habis. Lanjut makan cemilan roti dan susu hangat.
"Alhamdulillah! Enak banget makan kayak begini dengan udara dingin ya! Kenyang! Nikmat!" ujar Wira.
"Iya. Kenyang dan enak!" ujar Dewi setuju.
"Kita jalan lagi yuk!" ajak Wira.
"Ayo!"
Wira pun membayar pesanan mereka. Tak lupa memberikan lebihan uang sebagai tip.
Wira membukakan pintu mobil untuk Dewi. Nampak istrinya menggesekkan tangannya di lengan baju. Pertanda udara dingin mulai menusuk kulitnya meski pakai baju panjang.
Wira masuk dari pintu sebelah dan mengambil dua buah jaket yang memang sengaja ia bawa. Ia berikan satu pada Dewi. "Buat kamu! Dingin ya?"
__ADS_1
"Buat kamu ada?"
"Ada dong! Sini deh aku pakaikan!" Wira pun memakaikan Dewi jaket. Membuat Dewi merasakan perhatian Wira yang dulu. Hati Dewi menghangat.
Hal ini yang menghilang di rumah tangga mereka. Kehangatan keluarga. Mereka tetap menjadi suami istri. Melakukan hubungan suami istri sesekali namun semata karena kewajiban. Keduanya sibuk dengan kegiatan mereka yang bertujuan menutupi kesedihan karena rasa kehilangan.
Tanpa mereka sadari, mereka semakin menjauh. Wira yang menyadarinya terlebih dahulu. Ia jarang bertemu istrinya dan Dewi pun tak protes kalau ia sibuk dengan pekerjaannya.
Tak ada waktu untuk sekedar mengobrol lama tentang hal yang tak penting namun berperan menciptakan kehangatan keluarga. Membuat hubungan mereka jadi dingin.
Dewi menyadari keinginan Wira memperbaiki kesalahan mereka berdua. Memperbaiki hubungan yang renggang. Lalu sebulir air mata berhasil lolos.
Wira yang sedang menaikkan resleting jaket melihatnya. Ia terkejut tentu saja melihat istrinya menangis. "Kamu kejepit resleting ya Sayang?"
Membuat Dewi yang semula hendak menangis jadi tertawa terbahak-bahak. "Ha...ha...ha..."
"Ih dia malah ketawa. Kamu Dewi 'kan?" Wira menggoyangkan telapak tangannya di depan Dewi.
"Iya! Aku Dewi! Tapi sumpah kamu lucu banget, Sayang! Ha...ha... ha..." puas tertawa, Dewi pun menjelaskan pada Wira.
"Aku tuh tadinya mau nangis tapi... Kita kesini buat senang-senang bukan?"
Wira menganggukkan kepalanya.
"Oke! Let's go! Kita senang-senang!"
Wira terdiam. "Ini beneran Dewi 'kan?!"
"Iya! Kalau bukan Dewi mana aku tahu kalau semvak kamu yang putih kelunturan celana jeans?! Udah cepet jalan!"
Wira kini tersenyum, "Ternyata beneran Dewi toh?! Ayo deh kita jalan!"
****
__ADS_1