
Wira kini menatap ke arah Mommy tersayangnya. "Mommy pasti beliin aku kado 'kan?" tanya Wira penuh harap.
"Menurut kamu?" goda Tari sambil tersenyum.
"Pasti udah dong! Mommy kadoin aku apa?" Wira celengukan mencari kado yang Tari hendak berikan padanya.
"Kalau kadonya berupa doa boleh?!" tanya Tari.
Raut kekecewaan langsung terpancar dalam diri Wira. Dia pikir, Mommy yang punya banyak uang akan memberikan kado yang mahal untuknya tapi kenapa Mommy malah memberi doa saja.
Dewi menyentuh tangan Wira, memberi kode agar menerima saja apa yang Mommy mau berikan. Wira pun mengangguk dan memasang seulas senyum untuk Wira.
"Iya. Wira akan aminkan doa Mommy." ujar Wira.
Tari tersenyum. "Mommy doakan semoga pernikahan kamu dan Dewi selalu langgeng dan dilindungi sama Allah. Semoga kalian hidup bahagia dan bisnis kalian sukses nantinya. Aamiin!"
"Aamiin." jawab Wira dan Dewi kompak.
Wira lalu menatap Abinya dengan tatapan tajam. "Kado Abi apa? Udah merencanakan mengerjai Wira, kalau enggak kasih kado awas ya!" ancam Wira.
Dewi mencolek lengan Wira. Menegurnya karena tak baik mengancam orang tua.
"Ih memang Abi janjiin kamu kado? Dikasih surprise sama Abi saja sudah beruntung loh!" cibir Abi.
"Beneran enggak dikasih kado nih?!" gerutu Wira.
"Enggak! Kemarin udah Abi beliin mobil juga! Anggap aja itu mobil dari Abi sebagai kado ulang tahun kamu!" jawab Abi membuat Wira kembali memanyunkan bibirnya.
"Mobil kayak gitu juga-" Wira berhenti mengoceh saat Dewi mencubit pinggangnya. "Iya... Iya..."
__ADS_1
Wira lalu menatap Dewi. "Aku buka kado kamu ya!"
Dewi mengangguk sambil tersenyum. Cepat-cepat Wira pergi mengambilnya dan membuka kado yang Dewi berikan di depan semua orang.
"Wow! Sebuah jas! Bagus sekali! Makasih Sayang!" Wira memeluk Dewi lalu memakai jas yang Dewi berikan.
"Wuidih... Ganteng bener si Bangor!" puji Sony.
"Iya dong!" jawab Wira dengan bangganya. "Jas ini akan aku pakai sebagai semangat dalam bisnisku. Akan aku pakai saat aku sukses nanti!"
"Aamiin!"
****
Dewi habis menjalankan hukumannya. Pulang dari merayakan ulang tahun Wira di rumah Mommy, suaminya benar-benar menghukum Dewi, meong meong sampai suara Dewi serak.
Akhirnya karena kelelahan dan pulang sudah larut malam, mereka pun kesiangan. Dewi merasakan perutnya agak kram pagi ini, namun ia abaikan dan memilih beristirahat saja di tempat tidur.
Wira pun mulai sibuk dengan perencanaan bisnisnya. Wira hanya pulang sesekali, sisanya ia suka menginap di ruko baru. Bersama Bahri tentunya. Mana berani ia menginap di tempat baru tanpa ada yang menemani.
Laporan anggaran biaya dan rencana bisnis sudah Wira buat. Kini saatnya mengajukan pada Abi dan Mommy untuk minta kucuran dana.
Abi hanya membaca sepintas dan langsung menyetujui rencana Wira. Membuat Wira terkejut dan tak percaya. "Beneran Abi setuju?"
"Apa alasan Abi tidak mempercayai kamu?" tanya balik Abi.
"Ya... Aneh aja! Biasanya kalau Wira minta uang Abi udah bawel duluan. Buat apa? Kenapa minta uang sama Abi terus? Jangan dipakai macem-macem! Ini modalnya besar loh, Bi! Enggak kecil! Abi tiba-tiba setuju kok aku yang jadi curiga ya?" protes Wira.
"Enggak mau nih?!" ancam Abi.
__ADS_1
"Oh... Mau! Mau banget malah!" jawab Wira cepat.
"Yaudah jangan bawel. Ini memang sudah rencana Abi dan Mommy. Abi dan Mommy akan memberikan modal kamu cuma-cuma. Anggap saja ini kado dari kami berdua untuk ulang tahun kamu dan modal kamu untuk berbisnis. Jadikan seperti Abi dulu. Modal bisnis bisa Abi putar dan menjadi sukses. Jangan mengecewakan kedua orang tua kamu ya! Jadi sukses dan contoh untuk adik kamu Carmen!" pesan Abi dengan bijak.
"Ya Allah, Abi! Aku terharu loh! Cium tangan dulu lah biar enggak slek!" Wira mencium tangan Abi dan mendapat bonus satu kali dijitak oleh Abinya.
Tari sejak tadi hanya senyum-senyum melihat interaksi anak dan ayah tersebut. Lucu. Sering bertengkar namun saling sayang. Memberi warna dalam hidupnya yang sudah berwarna.
"Makasih ya Abi dan Mommy! Wira janji, Wira akan sukses! Seperi Abi yang sukses dengan bisnis showroom dan Mommy yang sukses dengan cafenya."
"Aamiin!" jawab Abi dan Mommy kompak.
Wira pulang dengan banyak modal di tangannya. Semakin sibuklah dia dengan acara mempersiapkan bisnis plus plus baru miliknya.
Wira menyewa jasa teman-teman tongkrongan Bahri yang pintar membuat mural dan lukisan dinding. Biaya jasanya tidak terlalu mahal dan juga sudah membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.
"Gue mau gambarnya yang berkelas. Bukan hanya mural coretan di dinding jalan semata. Cat yang digunakan sudah gue cari tahu, cat jenis ini yang biasa dipakai untuk membuat mural. Gue mau nanti di cafe bisa ada spot foto keren yang membuat pengunjung betah dan nyaman. Lalu di bagian bawah laundry mau terkesan cerah dan ceria, agar yang mencuci tidak merasa bosan saat melakukan pekerjaan mencuci. Kalau di salon yang konsepnya tenang. Biar mereka rilexs dan menenangkan. Bisa 'kan?"
"In sha Allah bisa, Bang!" jawab teman-teman Wira penuh semangat. Siapa yang sangka, hobby mereka mencoret coret dinding bisa dijadikan ladang mencari uang?
Wira berharap dengan diberikannya kesempatan seperti ini, maka semangat mereka untuk berkarya bisa menjadi sumber penghasilan. Menghargai karya seni juga menghargai si pembuatnya. Harus ada orang-orang seperti Wira yang membuka jalan bagi orang di sekitarnya untuk maju dan tahu potensi yang mereka miliki.
Selagi ruko dalam tahap pengecatan dan pembuatan mural, Wira sibuk dengan mengimpor mesin cuci. Ia membeli mesin cuci koin sebanyak 10 buah. Import dari luar negeri.
Tentu Wira harus mengurus dokumen yang berurusan dengan pembelian barang dari luar negeri. Sibuk sekali, meski Bahri sesekali membantu di tengah kesibukannya yang sudah mulai masuk kuliah. Untung saja bisnis laundry miliknya sudah ada Dewi yang menghandle, kalau tidak pasti akan terbengkalai karena Wira sibuk dengan bisnis baru dan masih mengerjakan pekerjaan sebagai audit di bisnis kedua orang tuanya.
Wira semakin jarang pulang. Ia sibuk melakukan audit di cafe yang terjadi selisih. Dewi bahkan sampai harus mengirimkan baju ganti pada Wira dengan jasa ojek online, seperti yang dulu biasa Tari lakukan.
Meski berjauhan, Dewi tetap mengurus Wira. Ia tetap mengirimkan makanan untuk suaminya makan dan komunikasi di antara mereka selalu terjalin. Anggap saja mereka sedang LDR seperti saat Wira di Bali dulu.
__ADS_1
Dewi bisa mengerti kalau suaminya kini sudah bukan Wira yang dulu seenaknya. Sudah punya tanggung jawab apalagi diberi kepercayaan mengolah modal besar oleh kedua orang tuanya. Dewi perbanyak sabar dalam dirinya meski rasa rindu harus ia pendam. Hanya lantunan doa yang selalu Dewi panjatkan demi kesuksesan suaminya.
****