Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Menahan Sabar


__ADS_3

Betapa terkejutnya Agas mendengar apa yang Wira katakan. Kenapa Wira malah berbicara tentang masalah di tempat tidur kepada Agas? Pasti Wira menduga kalau yang sejak tadi mengguncang-guncang tubuhnya adalah Dewi.


Di sisi lain, Wira menunggu jawaban orang yang dipikirnya adalah Dewi dengan mata yang masih mengantuk. Tak ada jawaban sama sekali. Rasa curiga mulai melingkupinya, tak mungkin Dewi sejak tadi tak bersuara!


Dengan kesal, Agas lalu naik ke atas tempat tidur dan mendorong tubuh Wira dengan kakinya. Wira pun terguling dan terjatuh dari tempat tidur


Bruukkk


"Aww! Apaan sih lo Wi?! Pake nendang segala?" protes Wira yang masih tak menyadari kalau yang menendangnya adalah Agas.


Wira cepat-cepat bangun dan duduk tegak, hal yang seharusnya tak Ia lakukan karena selimutnya langsung tersingkap dan menampilkan tubuhnya yang tanpa sehelai benang sama sekali.


"Astaghfirullah!" pekik Agas dan Wira bersamaan.


Agas terkejut karena melihat milik Wira di pagi hari, sedangkan Wira terkejut karena baru menyadari kalau yang ia kira Dewi ternyata Abinya sendiri.


Wira cepat-cepat menutup tubuhnya dengan selimut, sementara Agas menutup matanya dengan tangan. Meskipun sama-sama lelaki tetap saja Agas malu melihat milik anaknya sendiri.


"Ada apa sih?" tanya Mommy Tari yang akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Wira karena mendengar dua orang yang istighfar.


"Abi ngapain sih langsung masuk ke dalam kamar Wira?!" protes Wira bukannya menjawab pertanyaan Mommy Tari.


"Abi mau ngomong sama kamu! Keluar kamu! Jangan lupa mandi dulu!" ujar Agas dengan tegas. Baru beberapa langkah Agas berjalan menuju pintu, Agas terhenti dan berbicara pada Wira. "Ini Abi ya! Bukan Dewi yang bisa kamu suruh di atas! Cepat mandi! Jangan sampai Abi nunggu kamu lama! Mandi besar sekalian, lalu sholat!"

__ADS_1


"Iya, Bi." jawab Wira. Setelah Agas keluar kamar, Wira pun mulai mengumpat. "Dasar! Bapack-bapack kepo!"


Tari yang masih bingung sejak tadi menatap Agas dan Wira bergantian. "Ada apa sih sama kalian berdua?"


Wira mengambil celana miliknya dan memakainya dengan cuek di depan Tari. "Mommy kalo bawa Abi jangan langsung masuk ke dalam kamar aku dong! Kalo aku lagi enak-enak sama Dewi gimana? Ketuk pintu dulu atau minimal tekan bell pintu kek! Mentang-mentang tau password apartemen aku langsung aja masuk! Ini privasi aku!"


Tari pasrah saja diomeli anaknya. Memang benar sih itu salah Agas. Bukan ketuk pintu dulu, main masuk aja ke dalam kamar Wira. "Iya. Nanti Mommy bilang Abi. Sana kamu mandi dulu! Mommy sama Abi tunggu di ruang tamu!"


"Iya!" Wira mengambil handuk miliknya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tari keluar dari kamar Wira dan duduk di samping Agas yang terlihat kesal. "Abi juga sih! Main masuk aja ke kamar Wira. Ingat Bi, Wira udah menikah sekarang. Untung saja tidak ada Dewi, kalau ada gimana?"


Tari malah menambah rasa kesal yang Agas rasakan.


"Udah deh, My! Jangan ceramahin Abi juga! Abi itu lagi pusing!" omel Agas.


Tari sudah selesai dengan minumannya, persamaan dengan Wira yang keluar dari kamar dengan rambutnya yang basah sehabis keramas.


"Udah shalat belum kamu?" tanya Abi dengan nada suara yang ketus.


"Udah!" jawab Wira. Ia mengambil toples berisi ikan goreng tepung dan memakannya.


"Kamu belum makan? Mau Mommy ambilkan nasi?" tanya Tari yang tak tega melihat anaknya hanya makan ikan goreng tepung namun terlihat begitu kelaparan.

__ADS_1


"Enggak usah, My. Kalau aku makan dan Abi serta Mommy ceramah, nanti malah nggak ketelen. Ya udah, kalian mulai deh ceramahin aku! Aku dengerinnya sambil ngemil ikan ya!" kata Wira dengan cueknya. Anak itu kini mengambil es teh manis buatan Mommy Tari dan meminumnya.


Agas tersenyum sinis mendengar apa yang anaknya katakan. Memang anak itu bisa dibilang tak jauh beda dengan dirinya. Suka ngeselin orang!


"Oke! Kamu udah siap kan Abi omelin? Kita mulai dari bisnis kamu yang ngaco itu! Jadi, bisnis kamu sekarang sudah tidak berlaku bukan? Sudah berganti dengan pernikahan siri kalian. Jadi Abi minta, bisnis kalian dihentikan!" kata Agas memulai pembicaraan serius di antara mereka.


"Dari pihak aku sih udah nggak perlu lagi. Entah di mata Dewi gimana? Kalau memang Dewi masih mau menghitung sesuai perjanjian kami, ya aku bisa apa selain mengikutinya?!" jawab Wira dengan santai.


"Nggak bisa begitu dong, Nak." Tari tak sabar dan akhirnya ikut berkomentar. "Kalian kan sudah menikah, masak masih hitung-hitungan sesuai cara bisnis kalian yang ngaco itu?!"


"Ya... itu menurut Wira, My. Wira nggak tahu apa yang ada dipikirkan oleh Dewi. Biarin aja sih, ikutin Dewi aja maunya gimana!" Wira asyik saja memakan ikan goreng tepung, tak menyadari kalau Abi yang mendengarkan perkataannya sudah keluar tanduk.


"Sekarang nggak bisa kamu ngikutin Dewi kayak gitu! Kamu sekarang sudah menjadi kepala keluarga! Pernikahan kalian sah di dalam agama! Tinggal kalian melegalkannya saja sesuai hukum negara. Sekarang, Abi mau kita ke rumah orang tuanya Dewi. Kita bicarakan semuanya baik-baik di sana. Mungkin orang tuanya Dewi menginginkan pesta pernikahan kalian diramaikan? Abi ngikutin aja kemauan mereka!" kata Agas dengan pasrah.


Kini gantian Wira yang terkejut dengan keputusan Agas. "Abi mau ngerayain pernikahan Wira dan Dewi? Besar-besaran gitu? Nggak usahlah kayak gitu, Bi! Wira masih terlalu muda untuk merayakan pernikahan besar besaran kayak gitu! Kalau dilegalkan di depan hukum Wira setuju aja, tapi kalau merayakan pernikahan, Wira nggak mau! Percuma juga, mau ngundang siapa coba? Temen Wira kan cuma sedikit!"


"Bukan teman-teman kamu yang Abi pikirin, tapi dari keluarganya Dewi! Dari teman-teman Abi juga! Apa kata mereka kalau mereka tahu anak Abi melakukan pernikahan diam-diam? Seakan-akan Abi mendukung sekali perbuatan kamu! Seharusnya pernikahan kalian itu diumumkan di depan publik dengan cara kita mengundang tetangga dan kerabat untuk hadir. Aneh sekali kamu tidak mau pernikahan yang dipestakan seperti itu!" ujar Agas.


"Wira nggak mau BI! Wira malu! Wira lebih baik pernikahan sederhana yang penting semua saudara tahu! Wira nggak mau deh dipestain kayak gitu! Lebih baik uangnya buat Wira!" lagi-lagi sifat perhitungan Wira keluar.


Tari menepuk punggung Agas untuk memberikan dukungan kepada suaminya agar lebih kuat lagi menahan rasa sabar menghadapi Wira. "Biarkan aja, Bi! Kalau memang Wira nggak mau diramaikan, aku ikut aja apa kemauannya. Yang terpenting, kita datang ke keluarganya Dewi, kita bicarakan pada mereka tentang Wira dan Dewi yang sudah melakukan nikah siri, perihal nanti mereka tak mau dirayakan ya udah. Kita sebagai orang tua ikuti aja kemauan mereka. Toh, tidak merugikan kita juga kan? Kalau teman-teman Abi, kita bisa makan-makan di rumah. Bilang saja kalau Wira nggak suka dipestakan, udah beres!"


"Nah kayak gitu! Jangan kebanyakan pamer! Udah kan? Masih ada yang mau dibahas lagi enggak? Kalau udah, Wira mau tidur lagi nih!" ujar Wira dengan santainya.

__ADS_1


Agas terlihat benar-benar marah dengan kelakuan anaknya. "Sebenarnya, Abi berniat memaafkan kamu. Abi bahkan berniat mempestakan pernikahan kamu. Tapi melihat sikap kamu yang sepertinya tidak ada penyesalan sama sekali, Abi rasa sedikit hukuman cocok untuk kamu!"


****


__ADS_2