
"Lo bawa apaan?" tanya Wira saat menjemput Dewi pulang kerja.
"Kado dari teman-teman di cafe."
Wira mengambil kado yang Dewi bawa dan menaruhnya di bawah kakinya. "Untung pakai motor Mommy, jadi ada tempat untuk bawa barang besar kayak gini."
Wira mengambilkan helm dan memakaikan di kepala Dewi. "Masih lemas enggak?"
"Udah enggak. Langsung segar pas anak-anak kasih hadiah." jawab Dewi sambil tersenyum senang.
"Itu baru hadiah dari anak-anak. Habis ini hadiah dari gue!"
"Bapak mau kasih hadiah? Apa?" Dewi celingukan mencari hadiah yang akan Wira berikan.
"Nanti aja lo pilih sendiri! Kita pulang dulu. Mandi dan sholat lalu pergi lagi!"
"Oke!"
Mereka berdua pun pulang ke ruko. Nampak Ibu Sari sedang mengemas pakaian yang sudah disetrika.
"Bagaimana Bu laundry hari ini?" tanya Wira seraya salim dengan ibu mertuanya. Dewi pamit hendak mandi dan meninggalkan Wira mengobrol dengan Ibunya.
"Lumayan. Masih ramai seperti pertama kali buka. Rupanya promo lewat brosur banyak menarik minat. Apa Nak Wira enggak rugi nantinya?" tanya Ibu Sari.
"Tenang aja, Bu. Promosi hanya pancingan, pelanggan akan tetap datang meski promo sudah berakhir jika mereka puas. Nah, di sini pekerjaan Ibu yang menentukan masa depan bisnis kita. Wira yakin sih, pelanggan akan puas. Hasil pekerjaan Ibu rapi dan memuaskan. Kalau begini, dalam waktu dekat Wira bisa membuat beberapa bisnis laundry kayak begini, Bu. Ibu yang akan Wira tugaskan mengawasi laundry punya Wira."
Pujian Wira membuat Bu Sari merasa sangat dihargai pekerjaannya oleh menantunya.
"Andai Bapaknya Dewi bisa ikut membantu ya Nak Wira... Pasti Bapak akan senang. Sejak kecelakaan, Bapak ingin bekerja lagi. Namun apa daya, Bapak sudah tak kuat ngojek lagi. Siapa yang mau mempekerjakan Bapak?" cerita Ibu Sari dengan sedih.
"Hmm... Bapak sudah tak kuat ngojek, kalau menjadi bagian administrasi pasti bisa kan, Bu?" tanya Wira.
"Administrasi? Dulu waktu bekerja di pabrik katanya Bapak bagian pengoperasian mesin. Apa bisa jadi administrasi? Ibu enggak yakin, Nak."
"Bukan administrasi rumit seperti itu, Bu. Yang mudah. Begini aja, nanti Wira akan pikirkan bisnis apa yang bisa dilakukan oleh Bapak. Ibu jangan khawatir ya!" ujar Wira memberi harapan pada mertuanya.
Tak lama Dewi turun dan sudah rapi. Wira pun pamit. Mereka pergi ke tempat yang Wira sudah rencanakan.
__ADS_1
Ya, ke Mall.
Bukan Mall kelas atas yang saking mahal harga di sana sampai membuat Wira bingung mau beli apa. Mereka pergi ke Mall yang tokonya lengkap dan harganya masih terjangkau.
"Mau beli apa lagi, Pak?" tanya Dewi.
"Mukena. Gue udah janji mau beliin lo mukena tapi belum kesampaian." Wira memasuki sebuah toko yang menjual perlengkapan muslim. "Lo pilih deh mau yang mana!"
"Beneran? Memang Bapak punya uang?" tanya Dewi. Tak mau membuat Wira makin menguras tabungannya hanya demi membelikan Dewi mukena saja.
"Tenang aja. Gue dapet uang kaget. Rejeki lo ini, cepet pilih! Terserah mau yang mana!"
Dewi pun menurut. Ia asyik memilih mukena yang ia suka. Motif renda jadi pilihan Dewi.
Sementara Dewi memilih mukena, Wira memutuskan memilih sajadah. Ia ingat sajadah milik Dewi sudah usang. Wira juga membeli dua buah sarung untuk Bapak dan Bahri.
"Lo pilih 3 deh mukenanya. Satu buat lo, dua lagi buat ibu dan Ratna!" pesan Wira.
"Banyak banget, Pak!" protes Dewi. Sambil berbisik, Dewi pun bicara pada Wira. "Beneran uangnya cukup, Pak?"
Wira tersenyum. Benar-benar Dewi terlalu mengkhawatirkan keadaannya. "Cukup. Lo tenang aja ya!"
Wira tahu, Dewi tadi menyukai mukena yang renda. Namun karena tak mau Wira keluar uang banyak, ia memilih mukena biasa saja.
Wira mengambil sebuah mukena yang dipilih Dewi lalu mengembalikannya pada pelayan toko. "Yang ini ganti sama yang renda itu, Mbak!"
Dewi terkejut karena lagi-lagi Wira bertindak seenaknya. "Pak, ini udah pilihan saya!" protes Dewi.
"Yang buat ibu dan Ratna boleh pilihan lo, tapi yang buat lo biar gue yang pilih!" ujar Wira tanpa bisa Dewi bantah.
Wira membayar semua barang dan menggandeng tangan Dewi keluar toko. "Makasih ya, Pak. Bapak udah baik banget sama keluarga saya. Perhatian sekali sampai membelikan mereka mukena, sajadah dan kain sarung baru."
"Kata siapa gue perhatian?" lagi-lagi kata-kata pedas keluar dari mulut Wira. "Gue beliin buat amal jariyah gue kok! Ge er banget lo! Selama yang gue beliin dipakai sholat, gue akan tetap kebagian pahalanya. Bukan gue beliin, tapi gue lagi investasi. Investasi pahala buat di akhirat!"
Dewi tersenyum mendengarnya. "Iya, iya. Tetap saja Bapak baik di mata saya! Pak, lapar nih! Saya mau makan capcay goreng yang masih panas lalu minumnya teh tarik. Mmm... Pasti enak deh!"
"Tumben minta makan! Biasanya gue ajak dulu baru lo mau!" celetuk Wira namun tetap menuruti kemauan Dewi. Kakinya melangkah ke salah satu restoran yang menjual apa yang Dewi mau makan.
__ADS_1
"Laper berat. Tadi siang saya enggak makan." aku Dewi.
"Loh, kenapa enggak makan?! Jangan bilang males kayak semalem! Lo tadi pagi cuma makan bubur loh! Siang enggak makan lagi! Kalo sakit gimana? Tubuh lo juga perlu nutrisi, males banget makan sih!" omel Wira panjang lebar.
"Iya, Sayang. Iya. Ini mau makan."
Wira menghentikan langkahnya. "Lo manggil gue apa itu? Kok enak banget di dengernya?!"
"Sayang!"
"Coba ulangin lagi!" perintah Wira.
"Sayang! Sayang... sayang... sayang!"
Wira tersenyum senang. "Yaudah, mulai sekarang lo manggil gue sayang aja! Jangan Bapak lagi! Memangnya gue bapak lo?!"
"Boleh aja. Bapak juga jangan la lo la lo sama saya! Kita aku kamu aja, gimana? Nanti Sayangku manggil aku... Cinta. Gimana?" nego Dewi.
"Ih... Pengen muntah gue! Ayo kita makan!" Wira berjalan duluan.
Dewi tiba-tiba kesal. Ia tak mengikuti Wira berjalan dan malah diam di tempat.
Wira baru menyadari kalau Dewi tak berjalan di sampingnya. Wira berhenti dan kembali berjalan menghampiri Dewi. "Ayo! Katanya laper mau makan capcay!"
Dewi memanyunkan bibirnya. Ia juga melipat kedua tangannya di dada dan mengacuhkan Wira.
"Ih... Lo ngambek sama gue?!"
Dewi pun membuang muka. Makin kesal dengan kelakuan Wira yang tak ada peka-nya sama sekali.
"Beneran ngambek?"
Masih tak dijawab.
"Cintaku, ayo kita makan! Aku lapar nih. Kamu juga lapar kan? Ayo kita makan!" ujar Wira dengan suara lembut. Dewi tak kuat menahan tawanya mendengar perkataan Wira.
"Beneran enggak pantes ha...ha...ha..."
__ADS_1
****