Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Tujuan Kedatangan Mommy Tari-1


__ADS_3

Ratna nampak tertidur pulas di kursi belakang. Nafasnya nampak teratur dan wajahnya memancarkan kebahagiaan.


Ia bisa kembali pulang ke rumah. Jujur saja sebaik apapun Tante, rumah adalah tempat terbaik.


Ratna diasuh Tante sejak Bapak mengalami musibah di pabrik. Kondisi keuangan keluarga mereka tak memungkinkan untuk membiayai tiga anak yang bersekolah sekaligus.


Dengan berat hati Ratna mengalah dan ikut Tante demi meringankan beban keluarga. Sekarang di keluarganya hanya tinggal Ratna saja yang sekolah, pasti mereka bisa membiayainya. Begitu pikir Ratna.


Pulang ke rumah apalagi dijemput oleh Bapak baik hati macam Wira yang terus membuat Kakak tersayangnya tersenyum bahagia. Ratna juga ikut bahagia dan tau kalau di antara mereka ada benang asmara yang terjalin. Ratna tak mau mengganggu dan memilih tidur saja.


"Makasih ya Pak udah mau nganterin saya ke Bandung hari ini." ujar Dewi.


"Ih siapa yang nganterin lo? Gue ke Bandung juga karena mau audit kali!" ketus Wira.


Dewi tersenyum. "Bapak kenapa kalo judes kayak gitu bikin saya makin gemes ya? Pengen saya cubit kayak gini!" Dewi mencubit pipi Wira tanpa sungkan.


"Aww! Heh nih anak main cubit-cubit aja!" omel Wira seraya menepuk tangan Dewi.


Dewi makin tersenyum lebar. "Tuh, makin jutek makin gemesin! Cubit lagi ya?!" goda Dewi lagi.


"Awas ya kalo berani! Gue bales nih!" ancam Wira.


Wira membelokkan mobilnya ke sebuah SPBU. Mobil Mommy harus kembali full tank saat dikembalikan nanti. Nampak antrian mobil sedang menunggu pengisian bahan bakar.


Mobil Wira berhenti, kesempatan yang tak akan disia-siakan Wira untuk membalas Dewi.


Saat Dewi hendak mencubitnya, Wira menarik tangan Dewi dan mencium bibirnya. Hanya sebentar dan langsung Ia lepaskan.


Dewi sangat terkejut dan kini wajahnya memerah. Wira menciumnya di tempat umum! Meski mereka di belakang mobil lain, namun ada Ratna di belakang mereka!


Dewi mengatur debaran jantungnya yang bertalu semakin cepat. Deg...deg...deg...


Sama dengan Dewi. Wira yang semula hanya ingin mencium pipi, malah merubah niatnya dan menyambar bibir seksi yang sudah Ia kangen untuk dikecup.


Suasana kikuk pun tercipta. Wira pura-pura melihat keluar jendela, sementara Dewi melihat ke belakang dan langsung bernafas lega kala melihat Ratna yang tertidur pulas.


Wira yang butuh udara segar pun turun dari mobil dan berpura-pura hendak melihat saat mobil diisi bensin. Hal yang tak pernah Ia lakukan sebelumnya, biasanya hanya mengawasi lewat kaca spion.

__ADS_1


Udara malam lumayan membuat Wira sedikit rileks. Mereka sudah sampai Jakarta dan Wira harus mengantar Dewi sampai rumahnya dahulu sebelum pulang ke apartemen miliknya.


Wira membayar bensin yang Ia beli lalu kembali masuk ke dalam mobil. Suasana masih agak kikuk. Wira mengusirnya dengan mengganti channel radio.


Wira mengemudi dalam diam sampai mobilnya parkir di IndoJuni. Dewi membangunkan Ratna yang dengan semangat langsung turun setelah mengucap terima kasih pada Wira. Ratna sudah sangat merindukan rumah rupanya.


"Sekali lagi makasih ya Pak atas semuanya." ujar Dewi.


"Iya. Lo kapan pulang ke apartemen?" tanya Wira yang kini tak lagi sungkan.


"Besok. Saya shift satu besok." jawab Dewi.


"Mau gue jemput?" tanya Wira dengan malu-malu.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Pak. Deket kok dari cafe ke apartemen. Saya pulang dulu ya Pak."


Dewi memajukan dirinya dan mencium pipi Wira. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Wira malu-malu.


Wira menatap kepergian Dewi sampai istrinya menghilang masuk ke dalam gang sempit menuju rumah kontrakkannya. Wajahnya terus tersenyum.


Langkah Wira terasa ringan saat berjalan menuju apartemen miliknya. Sesekali Ia bersiul dan menyisir rambutnya di kaca lift.


Wira bahkan bersenandung pelan menggambarkan suasana hatinya yang bahagia. Tanpa Wira sadari, Ia mulai jatuh hati pada Dewi. Gadis cantik yang selama ini tak pernah masuk dalam list cewek yang Ia suka.


Wira menekan password pintu apartemennya. Ia langsung disambut dengan kegelapan. Wira sadar, tadi sebelum berangkat Dewi mematikan seluruh lampu. Anak itu memang biasa berhemat, tak seperti Wira yang suka boros.


Wira pun menyalakan lampu dan berbalik badan. Ia meloncat kaget saat melihat Tari sedang duduk di sofa sambil menatapnya dengan tajam.


"Astaghfirullah! Lo siapa? Heh! Jangan coba-coba ya lo menjelma jadi Mommy gue!" ujar Wira setengah emosi.


Wira pikir yang duduk menatapnya bukanlah Mommy-nya, melainkan hantu.


"Pergi enggak! Kalo lo enggak mau pergi, gue panggilin Pak Ustadz nih! Atau lo mau gue gebuk pake sapu?!" ancam Wira lagi.


Mata Tari tetap menatap tajam anaknya. Lalu Ia pun bersuara membuat Wira kembali terlonjak kaget. "Kamu mau ngusir Mommy kamu sendiri?!"

__ADS_1


"Hah? Kok bisa ngomong?! Biasanya di film-film diem aja!" ujar Wira heran. Wira lalu mengeluarkan Hp miliknya dan menelepon Mommy-nya.


Dering Hp yang ada di samping sofa berbunyi. "Kok punya Hp juga?!" tanya Wira heran.


"Kamu mau Mommy getok pakai sapu baru sadar kalau ini Mommy kamu yang asli?!" tanya Tari dengan sebal.


"Hah? Ini beneran Mommy?!" dengan takut-takut Wira berjalan mendekat.


Wira menyentuh kulit lengan Tari dengan ujung telunjuknya. "Beneran loh enggak dingin, hangat kulitnya!"


Kesal sejak tadi dianggap makhluk tak kasat mata oleh putranya sendiri, Tari mengambil bantal di sampingnya dan memukul kepala Wira. "Nih! Dasar anak bangor! Mommy sendiri dianggap dedemit!"


"Wah... Ternyata beneran Mommy?! He...he...he... Eh, tapi kok Mommy bisa masuk?" Wira duduk di sofa setelah mengambil nafas lega. Dipikirnya apartemen ini berhantu, sudah akan Ia jual saja. Mana berani dia tinggal di tempat seram?


"Memangnya Mommy enggak bisa buka pintu apartemen kamu yang passwordnya adalah tanggal ulang tahun Abi? Mommy yang bujuk Abi buat belikan kamu apartemen kenapa tanggal lahir Abi yang kamu jadikan password?!" omel Tari.


Wira tersenyum sambil garuk-garuk kepala. "Biar enggak ada pencuri yang masuk, Mi. Udah males duluan sama Abi gitu."


Tari kembali geleng-geleng kepala dengan ulah anaknya. Ia lalu teringat alasan Ia masih menunggu Wira pulang sampai larut malam. "Darimana saja kamu?"


"Dari Bandung, My. Katanya cabang Bandung selisih?! Yaudah Wira datengin. Mommy udah transfer Wira, ya Wira harus kerja keras untuk Mommy dong!" kata Wira dengan mulut manisnya.


"Sama siapa?" tanya Tari pura-pura tak tahu.


"Sendiri-lah. Bersama doa Mommy yang menyertai." jawab Wira sambil tersenyum. Wira tak sadar kalau dirinya sedang dalam masalah.


"Oh ya?" Tari lalu menunjukkan sebuah foto. "Ini siapa?"


Senyum di wajah Wira menghilang, Ia putar otak untuk memberikan alasan pada Mommynya.


"Itu... Sebenarnya Wira ngajak salah seorang anak buah Wira sih, My. Lumayan buat bantu menghitung."


"Siapa?" selidik Tari.


"Ada deh. Mommy enggak kenal!"


"Oh ya? Bukan Dewi Puspitasari kan?"

__ADS_1


Kini Wira sadar, Mommy menunggunya karena ada sesuatu yang Ia ketahui. Tak ada lagi senyum, karena jantung Wira kembali berdebar menunggu apa yang akan terjadi.


***


__ADS_2