
"Ya... Paling tabungan Bapak habis! Setiap bisnis pasti punya resiko, Pak. Nggak ada bisnis tanpa resiko sama sekali. Berjualan tahu bulat saja resikonya besar. Tukang gorengan juga punya resiko nggak laku dagangannya. Ibu juga punya resiko, pakaian yang dicuci bisa saja luntur dan Ibu harus ganti rugi. Semua pekerjaan ada resikonya, tapi gimana caranya kita meminimalisir resiko tersebut,"
"Sebenarnya yang Bapak korbankan adalah rasa nyaman. Selama ini, Bapak terbiasa dimanjakan oleh fasilitas yang membuat Baapak merasa nyaman dan tak mau kehilangan kenyamanan tersebut. Apartemen ini contohnya. Bapak nggak mau tinggal di ruko sempit, nggak ada lift dan nggak ada fasilitas seperti yang ada di apartemen ini, bahkan alat memasak juga nggak secanggih yang ada di apartemen milik Bapak! Coba lihat kelebihannya apa, ruko bisa menjadi tempat menghasilkan uang sedang apartemen malah buang-buang uang,"
"Kalau Bapak menahan diri dan merelakan sedikit rasa nyaman yang selama ini Bapak rasakan, pasti Bapak bisa kok tinggal di ruko. Tinggal di ruko juga nyaman kok, toh ruko yang kita sewa nggak jelek-jelek banget kok! Hanya perlu kita cat ulang dan dibersihkan, sudah bisa ditinggali. Rasa nyaman itu dibuat Pak, diciptakan dan bukan dilihat sepintas saja. Jadi, mau Bapak tinggal di ruko atau di apartemen asalkan Bapak menciptakan rasa nyaman pasti akan terasa nyaman,"
"Kalau pun kita gagal, tapi amit-amit ya Pak, jangan sampai! Kita masih tetap bisa tinggal di ruko. Ibu masih bisa mengambil cucian di tempat lain. Bapak tetap bisa hidup dari uang gaji Bapak. Yang berkurang hanya satu, rasa nyaman tinggal di apartemen yang serba enak. Nanti, setelah satu tahun terserah Bapak. Masih mau disewakan atau sudah selesai sewanya. Bapak bisa menempati lagi apartemen Bapak. Nggak rugi kan?" ujar Dewi panjang lebar.
"Apa kita bisa berhasil dengan bisnis kita?" ujar Wira menyangsikan kemampuan dirinya.
"Yakin aja dulu, Pak. Semua tergantung sama Allah! Bagaimana caranya bisnis kita bisa berhasil, ya kita harus mendekatkan diri sama Allah. Kalau Allah sering mendengar kita berdoa, Allah sering mendengar kita memohon padanya, apa Allah nggak akan mengabulkan permintaan kita? Karena kita semakin dekat sama Allah semakin Allah sayang sama kita. Jadi kalau Bapak tanya apa akan berhasil atau tidak, Bapak sendiri mau deket sama Allah nggak? Kalau Bapak mau deket pasti Allah juga akan mengabulkan keinginan kita dan membuat bisnis yang kita lakukan berhasil!"
Wira tersenyum mendengar perkataan Dewi. "Lo salah makan ya, Wi? Lo tuh jadi agamis banget tahu! Biasanya juga lo sama kayak gue, jarang sholat. Nggak usah tanya tentang ngaji apalagi puasa deh, sholat aja males! Ini lo sekarang malah ceramahin gue tentang kedekatan terhadap Allah. Aneh aja tau nggak! Lo kayak tiba-tiba insyaf dalam waktu semalam! Bagus sih, gue aja yang masih agak kaget melihatnya! Apa yang lo katakan tuh benar, gue juga sedang mencoba untuk lebih dekat lagi sama Allah. Mungkin keyakinan gue belum sedalam keyakinan lo tapi gue percaya kalau Allah nggak akan meninggalkan hambanya yang terus memohon kepadanya. Semua ide lo, akan gue tampung. Sekarang, kita siap-siap dan pergi ke rumah orang tua lo. Kita naik taksi aja ya? Nanti pulangnya, gue bakalan ngambil motor di rumah Abi!"
"Oke! Saya mau lanjut mencuci dulu ya, Pak! Saya nggak mau boxer Bapak yang loreng-loreng nanti berubah jadi polkadot!" goda Dewi.
"Oh ya? Bukannya nanti rok lo yang motif bunga-bunga akan berubah jadi garis-garis?" Wira balas meledek Dewi.
__ADS_1
Mereka pun saling tatap dan tertawa bersama. Hal receh yang menurut orang lain nggak begitu lucu tapi bagi mereka lucu.
****
Wira menekuk wajahnya dengan sebal. Dewi mengambil tisu dan mengelap kening Wira yang berkeringat. Lagi-lagi Dewi berulah. Rencana naik taksi malah digagalkan. Katanya sayang, lebih baik uangnya buat belanja saja.
Alhasil mereka berdua pergi naik angkot. Wira yang tak pernah sama sekali naik angkot, harus merasakan duduk berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Biasanya, Wira naik mobil seorang diri, ini harus bersama dengan 16 orang lain dalam satu mobil angkot yang sebentar-bentar berhenti untuk menaik-turunkan penumpang.
Dewi sengaja menyuruh Wira duduk di belakang sopir. Dewi benar-benar menjaga Wira agar jangan sampai dicopet. Wira tak pernah naik angkot sama sekali, apalagi wajahnya yang terlihat tampan dan bak artis sudah menarik perhatian para penumpang sejak tadi.
Anak SMA yang sedang naik angkot bersama mereka bahkan memvideokan Wira secara diam-diam. Mungkin nanti akan di update status dan disebarkan ke teman-temannya. Wira terus aja memanyunkan bibirnya dan sesekali mengipasi wajahnya yang kegerahan karena mobil angkot tentunya nggak ada AC bukan?
"Nggak kayak gitu, Pak! Kalau angkotnya masuk jalan toll, bagaimana penumpangnya bisa naik? Terus nih, angkot tuh sering berhenti ya tujuannya untuk nyari penumpang. Bapak lihat sendiri kan sejak tadi penumpang naik turun angkot. Udah sabar aja ya nanti kita turun di IndoJuli dan saya belikan minuman dingin buat Bapak!" bujuk Dewi seperti layaknya membujuk anak kecil.
Akhirnya Wira menahan rasa sebalnya. Dewi sesekali menahan senyum melihat Wira yang terlihat sangat bete dan kesal karena diajak naik angkot. Mereka lalu turun di IndoJuli. Sesuai janji, Dewi membelikan minuman dingin yang Wira mau.
Wira langsung mengambil air mineral dingin dan meneguknya sampai habis, baru kemudian botol tersebut dibawa ke kasir untuk dibayar. Dewi lagi-lagi hanya tersenyum melihat ulah Wira. Benar-benar anak orang kaya yang tak pernah merasakan sulitnya hidup susah.
__ADS_1
"Masih mau minum lagi Pak? Ambil lagi aja! Di rumah saya, nggak ada minuman kemasan! Hanya air es yang dimasak dari air keran saja!" tawar Dewi.
"Nggak usah! Gue udah banyak minum, malah pengen pipis! Ayo kita ke rumah lo! Jangan sampai Abi dan Mommy gue datang duluan!" ajak Wira.
"Oke!" Dewi dan Wira lalu melewati gang kecil menuju rumah Dewi. Seperti biasa tatapan ibu-ibu yang sedang berada di tukang sayur penuh tanda tanya melihat kedatangan Wira yang tampan tersebut.
Dewi hanya tersenyum sopan pada ibu-ibu tersebut dan langsung mengajak Wira melewati ibu-ibu tanpa banyak basa-basi. Sampailah mereka pada rumah kontrakan Dewi di mana Ratna baru saja keluar sehabis membuang sampah.
"Assalamualaikum!" Ujar Dewi.
"Waalaikumsalam, Kak. Kakak bareng sama Pak Wira?" tanya Ratna yang mencium tangan Dewi dan Wira secara bergantian.
"Bapak dan Ibu ada?" tanya Dewi tanpa menjawab pertanyaan yang Ratna ajukan.
"Bapak ada, Kak. Kalau Ibu lagi antar cucian!"
Dewi lalu melihat ke arah Wira. "Udah siap?"
__ADS_1
Wira penarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Siap!" Dewi tersenyum dan berdoa dalam hati semoga mereka dimudahkan hari ini.
****