Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Gelombang


__ADS_3

Ibu yang hendak laundry karpet terlihat kesusahan membawa karpet dari atas motor ke dalam ruko. Karpet yang dibawanya pun agak basah dan berat.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa membantu bawakan. Saya sedang hamil muda." tolak Dewi.


"Yah gimana sih, Mbak? Yaudah biar saya yang bawa aja." ujar ibu tersebut sambil menggerutu.


"Maaf ya, Bu." ujar Dewi yang merasa tak enak hati.


Ibu tersebut mengangkat karpet yang agak berat satu persatu ke tempat yang Dewi tunjuk. Karpet yang basah membuat yang dilewati menjadi becek.


"Iya. Ini gara-gara suami saya bekas pakai eh kehujanan. Terpaksa laundry deh daripada pinggang saya pegal nyucinya." gerutu ibu tersebut.


Ibu itu beberapa kali bolak balik sampai akhirnya semua karpet sudah diangkat dan ditaruh di tempat yang Dewi beritahu. Dewi mematuhi perintah ibunya dengan tidak mengangkat karpet yang agak berat tersebut.


Dewi menunggu ibunya datang. Dewi menelepon namun ibunya tak menjawab. Bapak yang mengangkat dan memberitahu kalau ibu sedang sholat. Akhirnya Dewi menunggu lagi dengan sabar.


Pelanggan kembali datang. Kali ini membawa bed cover sambil membawa anak dua. "Mbak mau laundry bedcover." teriak ibu tersebut sambil tetap duduk di motor. "Maaf Mbak, anak saya tidur. Saya tidak bisa turun nih!"


"Iya. Tak apa-apa, Bu." Dewi pun membuatkan nota untuk ibu tersebut dan berniat mengambil bed cover. Dewi pikir bed cover pasti ringan karena tidak basah.


"Uang saya lima puluh ribuan, Mbak." ujar ibu tersebut sambil berteriak.


"Iya, Bu. Biar saya sekalian kasih kembaliannya." jawab Dewi.


"Cepetan, Mbak. Saya repot nih!" Dewi cepat-cepat mengambilkan nota dan uang kembalian.


Dari kejauhan Dewi melihat ibunya sedang berjalan menuju ruko. Hanya tinggal menyebrang namun banyaknya kendaraan berlalu lalang membuat ibunya harus menunggu sebentar.


Dewi memakai sandal miliknya dan berjalan melewati pinggir etalase. Sayangnya, karpet yang tadi basah membuat jalanan licin. Dewi yang berjalan cepat tidak menyadari dan akhirnya...


Brukkk...


"Masya Allah, Dewi!" teriak Ibu yang sudah berhasil menyebrang.


Dewi meringis kesakitan. Jatuhnya lumayan kencang meski jatuh duduk. Lantai yang becek ditambah sandal yang agak licin membuat Dewi kepeleset.

__ADS_1


"Ya Allah, Mbak. Maaf saya tak bisa bantu. Anak saya enggak ada yang pegangin!" ujat ibu yang berada di atas motor.


Ibu cepat-cepat menghampiri. "Ya Allah, Wi! Gimana keadaan kamu!"


"Bu, tolong kasihkan nota ini dan ambil bed cover ibu itu!" jawab Dewi seraya menahan rasa sakitnya.


Ibu melakukan yang Dewi suruh setelah membantu Dewi bangun. Dewi duduk di kursi plastik yang Ibu sediakan.


"Sakit Nak? Ke dokter ya buat periksa!" ujar Ibu.


Dewi mengangguk. Perutnya memang terasa sakit. Kram dan kaku di bagian bawah perut, lebih sakit daripada biasanya.


Air mata menetes dari sudut mata Dewi. Terlihat sekali rasa sakit yang ia tahan.


"Sebentar. Ibu telepon Bapak dan Nak Wira dulu!" ujar Ibu.


Ibu lalu mulai sibuk menghubungi Bapak dan memintanya menjaga ruko sebentar. Ibu lalu menelepon Wira, namun tak dijawab.


"Enggak dijawab, Nak. Suami kamu mungkin sibuk!" ujar Ibu dengan raut khawatir.


Dewi hanya mengangguk lemah. Rasa sakitnya semakin menjadi. Dalam hati Dewi terus berdoa semoga janinnya baik-baik saja.


Akhirnya Ibu menelepon Mommy Tari, besannya. Saat diberitahu kalau Dewi jatuh dan perutnya sakit, cepat-cepat Tari menyuruh Ibu Sari membawa ke Rumah Sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting dan akan bertemu di sana untuk menghemat waktu.


Bu Sari lalu mengambil dompet berisi identitas diri Dewi dan baju ganti untuk Dewi lalu membawa Dewi ke rumah sakit setelah Bapak datang sambil dipapah Ratna yang hendak ke sekolah. Ibu meminta Bapak menjaga ruko dan menunggu Bahri yang menutupnya lalu membawa Dewi ke rumah sakit dengan menyetop taksi.


Dewi berjalan dengan lemah dan terlihat menyeret langkahnya saat naik taksi. Wajahnya pucat dan sesekali bibirnya bergetar menahan sakit yang amat sangat.


Di dalam mobil, Ibu Sari terus menguatkan Dewi. "Sabar ya Nak. Berdoa. Semoga semua baik-baik saja."


Dewi mengangguk lemah. Dalam hatinya Dewi terus berdoa untuk keselamatan anaknya.


Saat di dalam taksi, Wira akhirnya menelepon balik. Rupanya tadi ia sedang sholat berjamaah di masjid.


"Assalamualaikum, kenapa Sayang? Kamu tadi telepon aku?" tanya Wira.

__ADS_1


Dewi memberikan teleponnya pada Ibu Sari karena tak kuat menahan sakit.


"Nak Wira, Dewi kepeleset tadi. Sekarang perutnya kesakitan. Ibu lagi di taksi dan mau bawa Dewi ke rumah sakit. Ibu sudah hubungi Mommy kamu, Mommy kamu langsung ke rumah sakit."


Berita yang disampaikan oleh Ibu Sari tentu saja membuat Wira sangat terkejut. "Astaghfirullah! Ya Allah Dewi!"


Wajah Wira dilanda ketakutan dan kecemasan mengenai keadaan Dewi.


"Aku juga langsung ke rumah sakit sekarang, Bu. Yang dekat rumah bukan?" tanya Wira.


"Iya. Ibu juga masih di jalan. Macet, Nak."


Cepat-cepat Wira menyambar kunci mobil miliknya dan bak orang kesetanan, Wira mengebut di jalan. Pikirannya kalut memikirkan keadaan Dewi. Dalam hati Wira terus berdoa untuk keselamatan istri dan calon anak mereka.


Akhirnya taksi yang ditumpangi Dewi sampai di depan UGD. Sudah ada Tari yang belum lama sampai dengan naik motor bersama Abi. Tari dengan sigap meminta petugas mengambilkan brankar untuk menantunya tersayang.


Abi sendiri yang menggendong Dewi yang sudah berwajah pucat ke atas brankar. Tari sampai tak kuat menahan air matanya melihat keadaan Dewi.


"Hati-hati, Bi." pesan Tari dengan suara bergetar.


"Kamu kuat, Sayang! Kalian pasti akan baik-baik saja!" doa Tari seraya memegang tangan Dewi yang dingin. Air mata Tari kembali menetes.


Petugas lalu membawa Dewi ke dalam UGD untuk diperiksa. Baru saja Ibu Sari hendak masuk ke dalam menemani Dewi, Wira datang dan langsung keluar meninggalkan mobilnya. Ia tak peduli yang lainnya. Ia hanya memikirkan keadaan Dewi.


Abi yang lagi-lagi dengan sigap memarkirkan mobil Wira agar tak mengganggu kendaraan atau ambulan yang hendak ke UGD.


"Dewi mana? Mana?" tanya Wira dengan nafas ngos-ngosan.


"Di dalam." jawab Tari. "Baru saja masuk."


Wira hendak masuk namun tangannya ditarik oleh Tari. "Kamu harus mengendalikan diri kamu! Dewi butuh kamu! Bertindaklah dewasa! Jadilah sandaran untuknya!"


Pesan Tari membuat Wira semakin khawatir dengan keadaan istrinya. Tari yang sudah melihat keadaan Dewi sudah berkata demikian, Tari tahu karena beberapa kali melihat keadaan Tante Tara seperti itu.


Air mata Wira turun tanpa dikomando. Wira menarik nafas dalam dan mengangguk. "Iya, My. Doakan istri dan anak aku ya, My!"

__ADS_1


Tari mengangguk. Ia merangkul lengan Bu Sari yang juga terlihat cemas. Berdua mereka saling menguatkan dan berdoa demi keselamatan Dewi dan janinnya.


****


__ADS_2