Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Ibu Penyuka Kangkung dan Ibu Penyuka Kembung


__ADS_3

Dewi tersenyum, entah kenapa Ia kini menyukai kalau Wira sudah berkata pedas dan judes seperti ini. Seakan ada maksud tersembunyi di dalam perkataan yang tak bisa diungkapkan secara langsung oleh si pemiliknya.


"Senang dong, Pak. Bang Adun itu baik orangnya. Ramah. Suka menolong lagi. Rumahnya enggak jauh dari kontrakkan saya. Makanya kita agak akrab." jawab Dewi yang membuat wajah Wira terlihat makin keruh saja.


"Oh senang? Dasar centil!" cibir Wira.


"Ih apa sih Pak?! Senang akan pujian itu manusiawi loh. Coba nih Bapak saya puji, Pak Wira ganteng banget deh pagi ini. Kaosnya membuat wajah Bapak terlihat lebih cerah. Kayak pangeran lagi main ke kontrakkan upik abu aja!" goda Dewi.


Wajah Wira memerah karena malu. Ia lalu melihat ke arah kaca kontrakkan dan menatap wajahnya di cermin agak kotor debu. "Iya sih. Kaos ini bikin wajah gue cerah ya? Padahal kurang tidur tapi tetap aja kelihatan ganteng!" puji Wira pada dirinya sendiri.


"Dih! Dia kesenengan dipuji kayak gitu! Ayo jalannya cepetan! Nanti kalo ada ibu-ibu lagi ngumpul jangan ngomong apa-apa ya! Diem aja. Jangan disahutin. Mereka sekumpulan tukang gosip yang lagi kumpul di basecamp mereka yakni tukang sayur. Bilang aja Bapak lagi survey bisnis. Udah jangan dijawab apa-apa lagi!" pesan Dewi.


"Segitu tukang gosipnya mereka?"


"Iyalah. Kalo kita udah lewatin mereka pasti kita digosipin. Udah cuekkin aja. Udah kebal saya digosipin kayak gitu!" ujar Dewi.


"Oke!"


Wira berjalan melewati gang sempit yang hanya bisa dilalui dua buah motor saja. Mobilnya pasti tak akan muat. Jarak dari IndoJuni ke dalam rumah Dewi lumayan jauh juga. Mereka berjalan di pinggir kali yang warnanya hitam dan agak berbau.


Wira bahkan harus memiringkan tubuhnya saat anak-anak kecil berlarian dengan bebasnya tanpa ada orangtua yang mengawasi. Khas kehidupan kampung di kota Jakarta yang padat penduduk ini.


Udara mulai terasa tak segar karena padatnya rumah-rumah di sekitar. Kebanyakan kontrakkan dengan luas tanah tak kurang dari 30 meter. Tak ada halaman sekedar untuk menaruh tanaman hias. Wira bahkan bisa ngaca dari kaca jendela rumah kontrakkan yang Ia lewati.


Mereka pun mulai melewati tukang sayur yang berjualan di rumah kecilnya. Banyak ibu-ibu yang memilih belanjaan sambil sesekali menggosip. Lingkungan yang sempit dan padat penduduk memungkinkan gosip berkembang cepat dari mulut ke mulut.


Melihat seorang pemuda tampan bak artis melewati gang sempit bersama Dewi, tatapan Ibu-ibu pun beralih. Dari semula memilih ikan kembung yang segar dan kangkung dari ikatan satu ke ikatan yang lain lalu beralih ke pemuda ganteng dan terlihat lebih segar dari sayur kangkung di tangan.


"Siapa tuh yang sama Dewi? Ganteng bener kayak artis?!" bisik ibu-ibu yang melupakan kangkung miliknya.


"Iya. Ganteng banget. Cocok tuh buat anak saya si Ipat yang udah perawan." sahut ibu-ibu yang melupakan ikan kembungnya.

__ADS_1


"Eh, anak perawan situ udah empat puluh tau. Udah mau jadi perawan tua tau! Lebih cocok sama anak gadis saya si Amin!" balas ibu-ibu penyuka kangkung.


"Anak situ juga masih sekolah. Baru masuk SMA, belajar dulu yang bener!" ibu-ibu penyuka ikan kembung tak mau kalah.


"Permisi, Bu!" ujar Dewi dengan sopan.


"Iya!" jawab dua ibu-ibu itu kompak.


"Siapa Wi? Ganteng bener!" tanya ibu-ibu penyuka kangkung dengan tak sabaran.


"Bos saya, Bu. Lagi mau survey." jawab Dewi.


"Oh survey, buat apa Wi?" tanya ibu-ibu penyuka kembung.


"Buat bisnis baru, Bu."


"Boleh tuh survey ke rumah saya sekalian. Siapa tau si Ipat bisa join bisnis gitu!" masih usaha keras ibu penyuka kembung menjodohkan anak perawan tuanya dengan Wira.


"Saya permisi dulu ya, Bu! Mari!" Dewi lalu mengajak Wira melanjutkan perjalanan mereka.


Wira berjalan mengikuti Dewi, Ia menengok ke belakang dan benar saja ibu-ibu itu sedang membicarakannya. Terlihat dari mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya.


"Ribet banget ya hidup tuh ibu-ibu. Kenal enggak tapi gosipin terus!" ujar Wira.


"Namanya juga hidup bertetangga, Pak. Apalagi di kawasan padat kayak rumah saya. Rumah berdekatan, gosip juga makin gampang." Dewi lalu menurunkan suara dan berbisik pada Wira. "Kalau mereka tau saya bisnis plus-plus... wah bisa diusir saya, Pak!"


"Hush! Jangan sampai ketahuan lah!" Wira juga ikut berbisik. "Kita udah nikah jadi tenang aja. Lo gak bakalan diusir!"


Dewi tersenyum mendengarnya. "Iya juga ya. Kita udah sampai, Pak. Tuh rumah kontrakkan saya!" Dewi menunjuk rumah kontrakkan miliknya.


"Itu?" tanya Wira seakan mau meyakinkan Dewi kalau kontrakkan di depannya terlalu kecil untuk ditempati Dewi sekeluarga.

__ADS_1


"Iya. Ayo masuk, Pak!" ajak Dewi.


Dewi pun berjalan duluan. Wira mengikuti dengan perasaan tak menentu yang Ia rasakan. Di rumah kontrakkan mungil itu, istrinya tinggal. Bukan kontrakkan yang layak menurutnya.


Kontrakkan rumah Dewi terlihat lebih luas sedikit dibanding rumah kontrakkan lain, namun bangunannya tidak lebih bagus. Cat rumahnya terlihat kusam, tak lagi putih bersih dengan beberapa bagian temboknya terkena cipratan motor yang melintas.


Wira pun masuk ke dalam rumah. Nampak seorang bapak-bapak yang usianya mungkin lebih muda dari Abi Agas namun wajahnya malah terlihat lebih tua dari usianya. Beda dengan Abi yang semakin tua semakin jadi.


"Pak, ini bos Dewi, Pak Wira!" Dewi memperkenalkan Wira pada Bapaknya yang tak lain mertua Wira sendiri.


Wira pun salim dengan Bapaknya Dewi yang tersenyum hangat. Bapaknya sudah bisa berjalan meski terlihat masih menahan sakit bekas operasi.


"Ini bos yang bantuin Bapak operasi ya, Wi? Ya Allah terima kasih banyak Pak. Tanpa Bapak entah bagaimana nasib saya!" Bapak menangis haru bertemu dengan penolongnya.


Wira diam tertegun. Benarkah dia sudah menjadi penolong? Benarkah dia sebaik itu?


"Bapak sehat?" Wira merasa lidahnya kelu, dan hanya bisa menanyakan keadaan Bapaknya Dewi.


"Sehat. Semua berkat Bapak."


Lagi-lagi Wira merasa pujian tersebut tak pantas dialamatkan untuknya. Ia tidak sebaik itu. Ia bahkan menerima tawaran bisnis plus-plus yang Dewi tawarkan. Tidak membantu secara penuh. Ada azas jual beli di antara mereka.


Wira kembali tak bisa berkata apa-apa. Untunglah Dewi mencairkan suasana. "Pak, biar Pak Wira masuk dulu!" ujar Dewi.


"Oh iya. Bapak terlalu bersemangat bertemu bos kamu! Ayo masuk Pak Wira! Silahkan!" Bapaknya Dewi lalu mempersilahkan Wira masuk.


Wira melepas sepatu kets miliknya yang langsung Dewi masukkan ke dalam rumah. Wira menatap bingung ke arah istrinya. "Takut hilang! Sepatu mahal soalnya."


Wira hanya mengangguk saja. Bahkan sepatu pun tak bisa ditaruh di teras rumah? Ck... ck... ck...


****

__ADS_1


Maafkan judulnya yang agak absurd. Jangan lupa vote ya, udah mulai kendor nih! Yuk kencengin lagi 🥰🥰🥰


__ADS_2