
Senyum di wajah Wira pun mengembang. Memang hanya sebuah ciuman di pipi, namun rasanya begitu berbeda jika dilakukan setelah bertengkar. Ciuman tersebut terasa lebih berharga dan lebih bermakna tentunya.
"Ah... Jadi pengen kelonan deh sama kamu!"
"Masih siang! Katanya mau ambil mobil?" tagih Dewi.
"Oh iya! Nanti keburu showroom Abi tutup! Ayo cepat kamu siap-siap! Kita berancin!"
"Berancin?" tanya Dewi bingung.
"Berangkat cinta!" goda Wira.
Dewi tak kuat menahan tawanya. "Ish apaan itu? Lebay banget!"
"Biarin! Yang penting kamu bisa tertawa lagi!" ujar Wira.
Dewi hanya geleng-geleng kepala. Ia pun segera bersiap-siap dan mereka pun pergi dengan taksi.
Ibu Sari yang melihat anaknya sudah berbaikan dengan menantunya pun tersenyum. Hampir sebulan ini anaknya terlihat begitu sedih. Memang, hanya suaminya obat segala gundah gulana.
Wira dan Dewi pun sampai ke showroom milik Abi Agas. Kedatangan Wira disambut hangat oleh seluruh karyawan. Bagaimana tidak, anak pemilik showroom gitu yang datang. Mana berani mereka?
Dewi mengedarkan pandangannya ke sekeliling showroom. Seumur hidup dia tak pernah menginjakkan kakinya ke dalam showroom.
Showroom milik Abi sangat luas, dengan banyak mobil mewah yang dipajang. SPG cantik dengan ramah menyambut calon pembeli yang datang, membuat Dewi merasa insecure karena datang dengan dandanan sederhana, tanpa memakai make up berlebihan karena Mommy melarangnya selama hamil.
"Selamat sore, Pak Wira!" sambut manager showroom dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Sore, Pak."
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Wira?" tanya manager showroom dengan ramah.
"Saya mau ngambil mobil yang sudah Abi siapkan. Ada di mana ya?" tanya Wira.
"Ada di parkiran luar, Pak. Mari saya antarkan!" Manager showroom tersebut mengantarkan Wira ke parkiran mobil. "Baru saja tadi pagi di antar. Pak Agas meminta di parkir di luar saja, katanya biar tidak makan banyak tempat di dalam."
"Ish! Dasar bapack-bapack nyebelin! Pelit banget enggak boleh taruh di dalam!" gerutu Wira.
"Hush! Jangan begitu sama Abi!" omel Dewi. "Seharusnya kamu bersyukur loh sudah dibelikan mobil!"
__ADS_1
"Iya Sayang. Maaf!"
Wira dan Dewi mengikuti manager showroom. Sebuah sedan warna hitam yang masih mengkilat karena baru, sudah terparkir di sana.
"Kamu suka?" tanya Wira.
Dewi mengangguk sambil tersenyum. Mobilnya bagus. Namun manager showroom membuat senyum di wajah mereka menghilang.
"Maaf, Pak. Bukan yang itu!" ujar manager showroom. "Itu mobil milik customer."
"Lalu? Yang mana?" tanya Wira.
Manager showroom lalu mengajak Wira ke area belakang showroom. Nampak sebuah sedan standar mobil taksi online berwarna abu-abu dengan plat nomor B 481 TOP sudah terparkir.
"Jangan bilang kalau mobil itu punya saya?!" tebak Wira.
Manager showroom tersebut lalu tersenyum. "Betul sekali, Pak. Pak Agas sendiri yang memilihkan untuk Bapak Wira. Plat nomornya saja Pak Agas yang mendesignnya!"
"Astaghfirullah Abi!" Wira terlihat kesal dengan ulah Abinya. "Apa-apaan plat nomor kayak gitu? ABI TOP? Top darimana?!"
Dewi berusaha menenangkan Wira yang terlihat kesal dengan ulah Abinya. "Sabar dulu, Sayang! Kamu coba tanya dulu sama Abi. Pastikan lagi. Siapa tau salah."
Wira mengambil Hp miliknya dan mulai melakukan sesi video call dengan Abinya. "Abi!"
"Assalamualaikum!" kata Wira dengan kesal.
"Nah gitu! Gimana? Suka dengan mobil pemberian Abi?" tanya Abi sambil menahan senyumnya. Abi tau sebentar lagi anaknya akan meledak karena ulahnya.
"Itu maksud Abi?" Wira mengarahkan kameranya ke mobil yang Abi berikan.
"Iya. Bagus kan?" tanya Abi setengah mengejek.
"Beneran itu? Enggak salah?!" Wira memastikan sekali lagi.
"Iya. Keren kan?"
"Keren darimana sih, Bi? Kenapa Abi kasih mobil kayak gitu sih?! Yang bagusan dong! Mini Cooper kek! Ini tuh mobil pertama aku loh, Bi! Kenapa malah sedan yang biasa jadi taksi online sih yang Abi kasih?!" gerutu Wira.
Dewi terus menerus mengusap punggung Wira. Menenangkan suaminya yang terlihat emosi agar lebih menahan sabarnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Abi udah suruh kamu pilih loh tapi kamu nggak mau pilih! Ya udah, Abi pilih aja deh yang sesuai dengan kriteria Abi. Satu lagi, Abi sudah menambahkan kejutan untuk kamu! Jeng....jeng...jeng.... Plat nomor kamu keren dan bagus banget kan? Abi khusus memesan itu loh, biar kamu gampang mengenali mobil kamu yang baru! Kamu nggak akan tertukar dengan mobil taksi online yang lain karena ide Abi yang super keren bukan?" Abi di ujung telepon sana sudah mulai tak kuasa menahan tawa. Wajahnya sampai memerah, melihat Wira yang wajah kesalnya sangat lucu.
"Jangan begitu dong, Bi! Wira sudah Abi suruh ke Bali. Eh mobil pertama Wira kayak begini! Mana plat nomornya bikin Wira pengen tendang dan copotin aja lagi!" omel Wira.
Abi pun tak kuat menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan anaknya.
"Yeh... Malah ketawa lagi! Awas aja ya aku balas nanti!" ancam Wira.
"Mau balas Abi? Memang berani?!" tantan Abi.
"Argh! Kalau kentutin orang tua enggak dosa, udah aku kentutin nih bapack bapack rese!"
"Ha...ha...ha...ha..." Abi makin tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan Wira.
"Pokoknya aku mau yang bagus! Ganti!" omel Wira.
"Enggak bisa! Itu udah Abi beli! Enak aja! Memangnya kamu pikir mobil itu murah? Mahal juga tau! Belum plat nomornya yang harus Abi pesan dulu."
"Wira enggak mau tau, Bi. Itu plat nomor buat Abi aja kali! Ngapain juga dikasih ke Wira? Nih aki-aki lama-lama ngeselin juga ya!"
"Udah kamu pakai aja. Nanti kalau bisnis kamu sukses, kamu beli yang baru! Mau istri kamu yang lagi hamil kehujanan dan kepanasan karena naik motor? Enggak kan?!" bujuk Abi.
"Enggak sih! Tapi... Ah beneran ngeselin! Aku tuh udah membayangkan punya mobil sedan atau SUV dengan sunroof yang membuat aku bisa melihat ke luar. Tapi apa? Kalau bukan karena Abi sendiri udah aku-"
"Udah kamu apa? Mau kualat kamu sama Abi sendiri?!" potong Agas sebelum Wira selesai bicara.
"Enggak! Yaudah makasih. Bye!" Wira menutup sambungan teleponnya dengan wajah yang ditekuk kesal.
"Sudahlah. Bersyukur saja. Yang penting 'kan fungsinya. Aku enggak ketiduran di motor dan kita enggak kehujanan serta kepanasan, betul enggak?!" bujuk Dewi.
"Tapi ini enggak style aku banget! Mana plat nomornya ngeselin banget lagi! Tiap nyetir mobil ini pasti aku bawaannya sudah kesal duluan deh! Jahil banget sih jadi orang tua! Suka banget bikin anaknya kesel!" gerutu Wira panjang lebar.
Dewi tersenyum melihat kekesalan Wira. Benar-benar seperti anak kecil. Ternyata benar perkataan Mommy, ia harus banyak bersabar. Lelaki hebat yang terkadang mirip anak kecil ini adalah suaminya, dan Dewi akan menjadi wanita hebat yang menemani lelaki hebat ini menaiki tangga kesuksesannya nanti.
"Kita jalan-jalan yuk! Aku mau coba mobil baru!" bujuk Dewi.
"Beneran mau nyoba mobil ini?"
"Iya, beneran!"
__ADS_1
"Yaudah deh, ayo kita pergi!"
***