
Tari tak bisa tinggal diam di rumah sementara rasa penasaran dalam dirinya semakin membuncah. Ia begitu ingin tahu apa yang sudah putra kesayangannya lakukan.
Tari mengambil tas dan cardigan lalu kunci mobil Agas. Ia berniat mencari tahu sendiri jawaban atas kecurigaannya selama ini.
Tari pun mengemudikan mobil milik Agas. Ia melewati Agas yang masih asyik mengobrol dengan teman-temannya di pos kamling.
"Gas, itu bukan mobil lo?" tanya Bastian yang hari ini memilih bolos bekerja dan nongkrong di pos kamling bersama Agas.
"Eh iya tuh! Siapa yang pakai ya?" Agas pun mengambil Hp miliknya dan menelepon Tari.
"Assalamualaikum, Bi. Mobil Abi aku pinjam soalnya mobil aku dipakai sama Wira. Aku pergi dulu sebentar. Nanti aku isi bensinnya. Abi jangan kelamaan nongkrong sampai lupa sholat ya?! Aku tutup dulu, assalamualaikum!" Tari mematikan sambungan teleponnya sebelum Agas bicara satu kata pun.
Agas hanya melongo dan menjawab, "Waalaikumsalam."
"Kenapa lo Gas?!" tanya Bastian.
Agas mengangkat kedua bahunya. "Bini gue, ngomong udah kayak kereta express. Cepet bener. Gue baru mau nanya siapa yang pakai mobil eh dia udah ngomong panjang lebar. Nungguin gue jawab salam aja enggak. Bener-bener deh tuh orang! Untung cinta kalo enggak mah udah gue hamilin lagi!"
"Mau lo itu mah!" sindir Bastian. "Lo tuh udah pantes jadi kakek! Bukan Bapak lagi!"
"Weits! Kakek apaan lo! Masih muda gue! Cocoknya jadi sugar daddy! Biar kayak di novel-novel gitu!" seloroh Agas.
"Berani lo jadi sugar daddy? Siap hadepin Tari?" ledek Bastian.
"He... he... Enggaklah! Mana berani gue! Bisa enggak dikasih jatah. Kasihan adik gue nanti!"
__ADS_1
****
Tari tak sabar ingin segera sampai ke apartemen Wira. Anak itu masih di Bandung dan pasti tak akan cepat sampai Jakarta. Masih aman baginya memeriksa apartemen sampai menemukan apa yang menjadi sumber kecurigaannya.
Tari memarkirkan mobil Agas di basement. Ia lalu naik lift dan dengan mudah naik ke lantai atas. Kini tibalah Tari di depan pintu apartemen Wira.
Tari bingung, berapa password apartemen Wira. Ia tak pernah datang kalau anaknya tak ada di rumah.
"Tenang Tari, pikirkan baik-baik. Wira itu gampang ditebak seperti Agas. Password apartemen pasti adalah tanggal yang mudah Wira ingat. Coba tanggal lahir Wira dulu!" batin Tari.
Tari pun mencoba memasukkan tanggal lahir Wira dan ternyata salah.
"Oke. Bukan tanggal lahir Wira. Sekarang coba tanggal lahir aku. Pasti Wira akan masukkin tanggal lahir aku, aku kan ibunya."
Tari pun memasukkan tanggal lahirnya dan ternyata salah lagi.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Tari memasukkan tanggal lahir Agas dan...
Ceklek
Pintu pun terbuka.
"Dasar anak ini! Malah lebih idolain Abi-nya dibanding Mommy yang suka kasih uang! Awas aja kalau kelakuannya juga sama!" omel Tari seraya masuk ke dalam apartemen yang kali ini terlihat rapi.
"Ternyata anak itu sejak tinggal sendiri lebih rapi dan rajin. Kalau di rumah, kamar sudah kayak kandang sapi. Berantakan sekali! Baguslah! Mungkin karena apartemen ini sudah ia impikan sejak dulu!" ujar Tari pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tari menyalakan lampu dan matanya tertuju pada lemari yang terkunci. Ia sudah menaruh curiga pada lemari tersebut. Bukan tipikal Wira yang suka mengunci lemari dan menyembunyikan kuncinya. Wira biasanya hanya menutup lemari dan meninggalkannya begitu saja. Gaya khas anak lelaki yang suka acuh dengan hal sekitar.
Tari mencoba membuka pintu lemari tersebut, benar saja pintunya terkunci. "Pasti ada kunci di sekitar sini." pikir Tari.
Tari pun mulai mencari di mana letak kunci lemari yang terpisah dari lemari pakaian milik Wira. Lemari pakaian Wira tidak terkunci, namun kenapa hanya lemari ini yang sengaja dikunci. Pasti ada sesuatu yang Wira sembunyikan di dalamnya.
Tari lalu mulai mencari keberadaan kunci tersebut di atas lemari, ternyata tidak ditemukan. Tari yakin ada di tempat lain yang mudah untuk mengambilnya.
Tari lalu mencari ke atas meja yang berisi peralatan seperti handbody dan parfum milik Wira. Ada sebuah tempat bekas Cookies yang diletakkan di sana. Tak mungkin Wira menaruh cookies di sini. Wira lebih suka cemilan asin dibanding manis. Tari pun membukanya dan benar saja, sebuah kunci ada di dalam kaleng bekas cookies tersebut.
Tari pun membuka lemari pakaian dengan kunci yang ia temukan. Kunci tersebut langsung cocok dan pintu lemari pun terbuka. Tari terkejut saat mendapati isi di dalam lemari yang berisi baju-baju perempuan. Ada pakaian dalam, dress dan beberapa baju tidur seksi.
Tari sangat terbelalak sampai menutup mulutnya dengan tangannya. "Milik siapa ini? Tak mungkin Wira memakai semua ini?! Ini pasti milik seorang perempuan. Tapi siapa?"
Tanpa dikomando air mata pun mulai menetes di wajah Tari. Apakah Wira punya kekasih yang sering menginap di apartemennya? Apakah ini tujuan Wira minta dibelikan apartemen? Agar ia dan kekasihnya bisa bebas melakukan dosa?
Tak kuasa menahan tubuhnya setelah mendapat kenyataan yang sangat sulit dipercaya, Tari pun terduduk lemas di lantai. Ia menangis dan terus menangis. Ia merasa gagal sebagai orang tua. Ia yang selama ini mendidik Wira dengan sebaik mungkin agar tidak seperti Abi-nya, nyatanya malah Wira lebih buruk lagi dari itu!
"Ya Allah Nak... Salah Mommy apa sama kamu? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kamu mencontoh apa yang Abi kamu lakukan di masa lalu? Kurang apa Mommy mendidikmu selama ini, Nak? Kamu sudah Mommy berikan ilmu agama yang bagus. Mommy sudah melimpahkan kamu dengan jutaan kasih sayang. Kenapa kamu malah hidup seperti ini?" tangis Tari sambil terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau Abi tahu apa yang kamu lakukan? Sudah pasti Abi kamu akan sangat marah! Apa yang harus Mommy katakan pada Abi kamu nanti? Mommy udah gagal menjadi seorang ibu yang baik buat kamu! Apakah karena selama ini Mommy terlalu sibuk dengan pekerjaan Mommy sampai melupakan kamu, Nak? Kenapa kamu harus hidup seperti ini? Mommy hanya ingin kamu hidup lebih baik dengan hasil kerja Mommy dan Abi. Mommy enggak mau bergantung sama Oma, Mommy mau menghidupi kamu dengan segenap kemampuan Mommy. Tapi kenapa kamu malah melakukan apa yang Abi kamu lakukan dulu?"
Tari terus menangis dan menyesali apa yang ia lakukan selama ini. Terlalu sibuk dengan cafe miliknya, sampai anaknya lebih tertarik dengan kehidupan masa lalu Abi yang di mata Wira begitu menyenangkan.
Tari tak menyangka semua ini akan menimpa dirinya. Tari lalu menghapus air matanya dan menenangkan diri. Ia lalu mengambil air wudhu dan mulai shalat. Memohon ampun pada Sang Pencipta atas kegagalannya mendidik Wira.
__ADS_1
"Nak, memang Mommy yang sudah salah mendidik kamu. Mommy juga yang akan memperbaiki kehidupan kamu." tekad Tari. "Mommy akan tunggu kamu pulang dan kita selesaikan semuanya."
****