Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Bertemu Orangtua Dewi-2


__ADS_3

Wira masuk ke dalam rumah Dewi. Pemandangan miris kembali ia dapati. Seharusnya Wira sudah terbiasa, namun tetap saja setiap ke rumah Dewi ada saja yang membuat hatinya sedih.


Contohnya hari ini. Wira baru hendak masuk ke dalam rumah sudah melihat Bahri yang tertidur hanya beralaskan kasur Palembang tipis yang sudah agak usang. Tidurnya sangat lelap meski tanpa kasur tebal dan nyaman sebagai alas tidurnya.


"Ya ampun nih anak belum bangun!" omel Dewi. "Bahri pulang jam berapa, Dek?" tanya Dewi pada Ratna.


"Enggak tau, Kak. Kata Ibu sih tadi subuh." jawab Ratna.


"Hah? Ngapain aja dia? Jangan kayak kemarin lagi aja!" Dewi pun membangunkan Bahri dengan menaikkan sedikit nada suaranya.


"Dek, bangun! Udah siang!" ujar Dewi seraya mengguncangkan tubuh Bahri.


"Aku masih ngantuk, Kak!" kata Bahri dengan suara yang masih serak, khas bangun tidur.


"Bangun!" Dewi memukul kaki Bahri agak keras. "Ada Pak Wira!" omel Dewi.


Bahri kaget mendengar nama Wira disebut. Ia pun langsung terduduk tegak dan melihat Wira yang sedang berdiri di dekat pintu sambil menatapnya. Bahri menganggukkan kepalanya. "Eh ada Pak Wira. Duduk dulu, Pak!"


"Cepat kamu bangun dan lipat kasurnya! Kamu mandi dan ikut gabung sama Kakak dan Pak Wira. Ada yang mau Pak Wira omongin sama Bapak dan Ibu. Penting!" ujar Dewi.


"Ngomong apa?" tanya Bahri yang masih agak mengantuk.


"Udah jangan kebanyakan nanya! Cepetan mandi!" omel Dewi lagi.


"Iya... Iya!" dengan malas Bahri bangun dan melipat kasur bekas ia tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Dewi lalu menyuruh Ratna membuatkan minuman untuk Wira. Ratna menurut. Rumah masih agak berantakan karena Wira berkunjung terlalu pagi.


"Maaf ya, Pak. Rumahnya berantakan." kata Dewi tak enak hati.

__ADS_1


Wira tersenyum. "Enggak apa-apa." Wira lalu duduk di kursi rotan sambil memperhatikan Dewi yang membereskan rumahnya.


"Ada siapa, Wi?" tanya Bapak yang berjalan pelan-pelan keluar dari kamar.


"Ada Pak Wira, Pak. Bapak gimana kakinya? Udah enakkan?" tanya Dewi seraya membantu Bapak berjalan sampai ke kursi ruang tamu.


Wira melihat Bapak kemudian berdiri dan salim. Wujud sopan santun terhadap orang tua dan mertua.


"Udah. Pak Wira enggak kamu sediain minum, Wi?" tanya Bapak.


"Lagi dibuatin sama Ratna, Pak."


Bapak lalu duduk di kursi tepat berhadapan dengan Wira. "Ada apa Bapak datang pagi-pagi sekali?" tanya Bapak. "Masih mau membicarakan bisnis?"


Wira menggelengkan kepalanya. "Bukan karena itu, Pak. Ada yang mau-"


"Dewi panggil Ibu dulu, Pak." pamit Dewi seraya memotong ucapan Wira. "Pak Wira, kita ngomongnya kalo udah ada Ibu dan Bahri ya!"


"Eh ada Nak Wira!" sambut Ibu dengan hangat. Senyum di wajah Ibu merekah melihat cowok yang ingin dijadikannya sebagai menantu. Cakep, sopan, baik dan anak orang kaya. Kurang apalagi Wira di mata Ibu?


"Iya, Bu. Sehat, Bu?" tanya Wira seraya berdiri dan salim pada Ibu.


"Sehat alhamdulillah." Ibu duduk di samping Bapak. "Kata Dewi ada yang mau Nak Wira bicarakan? Ada apa?"


Ratna yang sudah menaruh minum di atas meja kini masuk ke kamar dadakan milik Dewi dan menguping pembicaraan orang-orang dewasa.


"Tujuan kedatangan saya kesini hari ini adalah untuk memberitahu Bapak dan Ibu mengenai hubungan saya dan Dewi yang sebenarnya." Wira membuka pembicaraan.


"Hubungan? Bapak dan Dewi pacaran ya? Ibu sih enggak kaget!" kata Ibu sambil tersenyum senang.

__ADS_1


"Hush! Dengerin dulu kalo Pak Wira mau ngomong! Jangan dipotong sembarangan!" omel Bapak.


"Iya... Iya..." sungut Ibu.


"Silahkan dilanjutkan, Pak Wira!" ujar Bapak dengan sopan.


"Sebenarnya saya dan Dewi... Kami berdua... Sudah menikah." ujar Wira.


Suasana hening langsung tercipta. Bapak dan Ibu saling pandang penuh tanda tanya. Meragukan kebenaran perkataan Wira. "Beneran, Pak? Kok bisa?" tanya Ibu yang lebih dulu bersuara, sementara lidah Bapak seakan kelu mau berkata apa.


"Benar, Bu." jawab Wira. "Kami sudah menikah siri."


Kedua alis Bapak bertaut, wajahnya terlihat memerah pertanda emosinya mulai tersulut. "Enggak mungkin! Bagaimana bisa Bapak menikahi Dewi tanpa saya sebagai wali nikahnya?!"


"Bahri yang menikahkan Kak Dewi dengan Pak Wira, Pak." Bahri yang baru selesai mandi langsung datang dan membantu Wira berbicara. Ia yang banyak berhutang budi pada Wira seakan mau membayar dengan membantu menjelaskan.


"Kamu? Kenapa kamu sampai menikahkan Dewi? Memang mereka ngapain?" tanya Bapak, nada suaranya mulai naik.


Kedua orang tua Dewi menatap ke arah Bahri meminta jawaban. Wira memberi kode pada Bahri dengan menggelengkan kepalanya. Bahri paham apa maksud Wira. Bahri tau Wira tak mau ia menceritakan tentang bisnis plus plus yang terjadi di antara kakaknya dan Wira.


"Enggak, Pak. Waktu itu Bapak sakit. Pak Wira sebenarnya sudah menyukai Kak Dewi sejak lama Pak. Cuma Pak Wira selalu ditolak oleh Kak Dewi. Alasannya, Kak Dewi mau fokus membiayai keluarga dahulu. Pak Wira sudah mengajak Kak Dewi menikah tapi lagi-lagi musibah datang ke keluarga kita. Pak Wira turun tangan membantu Kak Dewi membiayai Bapak,"


"Melihat pengorbanan Pak Wira, Kak Dewi akhirnya menerima lamaran Pak Wira tapi keadaannya waktu itu Bapak masih sakit jadi terpaksa deh Bahri yang menikahkan Pak Wira dan Kak Dewi." sebuah alasan panjang lebar yang dibuat secara mendadak oleh Bahri. Alasan masuk akal namun berhasil membuat Wira dan Dewi saling tatap karena tak menyangka ide brilian itu datang dari seorang Bahri.


"Tapi kenapa harus nikah siri? Kenapa tidak menikah secara resmi saja? Kenapa juga kamu nggak meminta Bapak yang menikahkan mereka? Sesakit apapun Bapak, akan Bapak usahakan untuk menikahkan kakak kamu!" suara Bapak sudah mulai merendah, tak lagi bernada tinggi dan terlihat emosi seperti sebelumnya. Rupanya cerita Bahri mampu membuat hatinya luluh. Bapak malah berpikir kalau cinta Wira begitu besar sampai mau menikahi Dewi dengan berbagai cara.


"Justru itu Pak, tujuan kedatangan saya ke sini hari ini adalah untuk memberitahu kalau kedua orang tua saya akan datang untuk berbicara dengan keluarga Bapak dan Ibu guna melegalkan pernikahan saya dan Dewi di mata hukum. " kini tugas Wira membantu Bahri menjawab. Adik iparnya tersebut rupanya tidak menyiapkan alasan lagi jika ditanya. Tak mau sampai kebohongan yang dibuat terbongkar, Wira pun turun tangan.


"Orang tua Pak Wira? Bu Tari dan Pak Agas? Mau ke sini? Dadakan? Kenapa Nak Wira nggak bilang dari kemarin? Ibu kan bisa menyiapkan makanan dan rumah-nya juga dirapikan sebelum mereka datang! Kalau seperti ini, kita harus siap-siap dari sekarang!" Ibu bahkan tidak peduli mengenai pernikahan Dewi yang dilakukan secara sirih. Ibu lebih mementingkan menyambut kedatangan kedua orang tua Wira.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Bu. Bapak sedang bicara dengan Nak Wira! Kenapa Ibu jadi memikirkan tentang menyambut kedua orang tuanya Pak Wira? Ini pernikahan Dewi belum jelas loh, Bu! Bagaimana sampai Bahri bisa menikahkan mereka?!" rupanya Bapak masih belum bisa menerima jawaban yang diberikan oleh Wira maupun Bahri. Rasa penasaran pasti melingkupinya.


****


__ADS_2