
Dewi masih tersenyum-senyum sendiri. Lucu saja mengobrol dengan Wira yang terkadang suka emosian tapi di mata Dewi tetap saja terlihat menggemaskan.
Dewi menyelesaikan jam kerjanya dengan hati bahagia. Cafe sudah mulai sepi dan tak lama lagi akan segera tutup. Dewi membantu membereskan cafe sebelum pulang kerja. Sudah menjadi tugasnya membantu membersihkan cafe sebelum tutup.
Dewi lalu berjalan menuju loker dan mengeluarkan tasnya. Dia sudah bersiap untuk pulang dan sesuai dengan apa yang Wira inginkan, ia hanya berdiri di depan cafe menunggu Wira datang.
Tanpa Dewi ketahui dua orang teman satu kerjaannya yang tadi sempat menguping, menunggu Dewi pulang untuk melihat siapa yang menjemputnya. Mereka sudah menduga kalau Dewi memiliki sugar daddy yang membuatnya terlepas dari hutang dan kini bisa melakukan serangkaian perawatan di salon sehingga tampak lebih cantik.
Dewi masih menunggu ketika sebuah mobil sedan mengklakson dirinya. Mobil tersebut berhenti di depan Dewi dan jendelanya lalu dibuka. Nampak Wira memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kedua teman yang ingin tahu tentang hidupnya Dewi. Mereka pun mengabadikan foto Dewi masuk ke dalam mobil. Mereka tak tahu kalau lelaki yang berada di dalam mobil tersebut adalah bos mereka sendiri.
Kedua orang yang hendak menebar fitnah tersebut tersenyum penuh kemenangan. Mereka menganggap barang bukti sudah ada di tangannya. Padahal mereka tidak tahu bagaimana kisah dibalik fitnah yang akan mereka tebarkan tersebut.
"Mana? Taruh di dashboard aja! Nanti lo lupa terus lo bawa pulang lagi!" Wira menagih ikan goreng tepung yang Dewi buatkan, seperti biasa dengan perkataannya yang ketus dan judes. Dewi tersenyum setiap kali Wira berkata judes. Ia tahu dan malah menganggapnya lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Dewi mengeluarkan toples plastik yang sudah ia siapkan lalu menaruhnya di dalam dashboard mobil Wira. "Kalau nggak doyan, bilang ya. Saya nggak tahu Pak Wira doyan makanan kayak begini atau enggak. Tadi kebetulan saya pergi ke pasar dan masak buat Bapak, lalu kepikiran Pak Wira ada makanan atau enggak di kulkas? Pasti ada sih. Karena itu saya buatin yang lebih awet dan tahan lama. Pilihan saya jatuh sama ikan ini, bisa dimakan bersama nasi hangat dan pakai sambal. Oh iya, sambalnya mau saya bikinin juga nggak? Saya jago loh bikin sambel."
"Iya. Lo bikinin aja, yang banyak kalau perlu! Mommy gue ke rumah dan nyetok makanan lagi di lemari es. Tapi nggak ada sambel di sana. Kayaknya kalau cuma makan sama makanan yang nggak ada pedesnya gue kurang sreg gitu. Bikin aja yang banyak ya! Yang pedas sekalian juga nggak apa-apa, nanti gue kasih uangnya buat lo belanja!" ujar Wira tanpa merasa sungkan sama sekali.
"Pedesan mana sama omongan Bapak?" goda Dewi. "Kalau mau yang lebih pedas sih, kata saya omongan Bapak lebih pedes daripada sambel. Tapi gak apa apa, saya udah terbiasa! Udah masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan." sindir Dewi semakin berani saja.
Wira lalu menyentil telinga Dewi dengan pelan tentunya. "Udah mulai berani ya? Udah nggak ada takut-takutnya lagi lo sama gue? Gue kan nyeremin dan galak!"
"Kata siapa? Kalau dulu sih iya saya takut sama Bapak. Sekarang sih biasa aja. Bapak ngomel-ngomel juga saya biasa aja. Apa mungkin karena kita udah nikah ya? Kalau dulu kan Bapak tuh cuma rekan bisnis aja, sekarang kan udah jadi suami sendiri jadi lebih santai gitu enggak terlalu takut." jawab Dewi dengan jujur.
"Makan apa? Jam segini tuh paling makan sate, pecel ayam, bubur dan Indomie di warkop. Udah pada tutup. Coba Bapak ngajak saya makan saat saya pulang shift satu, masih banyak tuh restoran mahal yang buka. Banyak yang belum saya cobain Pak, saya belum pernah makan di restoran Jepang. Saya juga belum pernah makan yang bebas makan sepuasnya itu loh!"
"Iya. Nanti kalau misalnya lo pulang shift 1, gue ajak lo makan yang enak dan recomended. Tapi sekarang, makan yang ada aja deh. Apa lo mau masak dulu di apartemen?" Wira sebenarnya tak ingin mengatakan secara blak-blakan. Dia ingin memberitahu Dewi secara tersirat. Namun, Ia sudah terlanjur mengajak Dewi ke apartemen.
__ADS_1
"Nggak bisa Pak, cucian Ibu saya lagi banyak di rumah. Besok, saya harus bantuin Ibu dulu. Habis itu baru deh bisa berangkat kerja. Saya kan seminggu ini masuk shift 2. Lumayan waktunya bisa buat bantuin Ibu dulu di rumah."
Wira sebenarnya agak kecewa mendengar penolakan dari Dewi. Dewi tak mau pulang ke apartemen dan memilih membantu ibunya. "Memangnya Ibu lo kerjaannya apa sih? Buka laundry?!"
"Bukan Pak. Cuma buruh cuci aja. Ibu ngambil cucian dari beberapa rumah, dicuci dan setrika di rumah pemiliknya dan ada juga yang dilakukan di rumah. Nanti kalau sudah rapi Ibu bawa lagi deh ke rumah orang itu. Ibu sekarang megang beberapa rumah dan kerjaannya banyak banget, makanya ada yang dicuci di rumah juga. Jadi aku harus membantu. Kasihan Ibu kalau kecapean." Dewi menolak karena sedang datang bulan. Malas ke apartemen kalau tak bisa melaksanakan bisnis plus plus mereka. Lebih baik di rumah membantu Ibunya agar tidak marah-marah terus.
"Kenapa nggak buka laundry aja? Lebih untung loh?! Daripada Ibu lo nyuci punya orang, lebih baik buka sendiri. Untungnya lebih jelas dan pasti lebih banyak serta enggak terlalu capek."
Dewi tersenyum mendengar apa yang Wira katakan. Terkadang, suaminya itu suka lupa kalau dirinya adalah orang susah. Boro-boro untuk membuat laundry, buat makan sehari-hari aja sulit. "Sistem kerja Ibu emang beda sih Pak dibanding tetangga yang lain. Ibu kadang bawa cucian ke rumah dan dibalikin lagi ke rumah si pemilik setelah rapi, memang mirip sih sama laundry tapi beda. Beda alatnya. Laundry lebih canggih dan ibu masih pakai mesin cuci dua tabung dan jemur manual. Ibu memperhitungkan dari biaya listrik dan tenaga, lumayan sih untungnya. Kalau untuk sabun biasanya dari pihak rumah itu sendiri yang menyediakan. Karena Ibu amanah, mereka percaya aja. Banyak malah yang ingin Ibu mencuci di rumahnya,"
"Kenapa saya tidak bikin laundry? Bapak tahu sendiri kan biaya untuk pembuatan laundry itu mahal. Mesin cucinya beda, lebih mahal, belum sewa tempatnya juga. Rumah saya kan di kontrakan kecil dalam gang. Laundry itu biasanya yang bagus di pinggir jalan. Mana mungkin buka bisnis kayak gitu di tempat saya Pak."
"Kata siapa nggak mungkin? Berkat lo nih, gue jadi ada ide buat bikin bisnis. Besok, gue bakalan ke rumah lo. Gue pengen lihat cara kerja ibu lo dan gue akan riset. Gue akan bikin perhitungannya dan ngajuin ke orang tua gue buat modal. Kalau berhasil, Ibu lo dan lo akan gue rekrut buat bikin usaha laundry. Nggak perlu khawatir capek karena akan ada karyawan yang membantu ibu lo jadi nggak akan terlalu capek, gimana?"
__ADS_1
****