
"Yeh! Tadi lo yang minta gue ngomong kayak gitu! Sekarang malah lo ketawain!" protes Wira.
Dewi menghentikan tawanya. "Memang sekarang enggak cocok dan agak aneh, tapi aku percaya... kamu pasti bisa, Sayang!"
"Ah elah... Tiap lo eh kamu bilang sayang... Nih dada berdegup kencang banget! Kayak mau copot!" adu Wira.
"Masa sih? Coba aku dengerin!" Dewi menempelkan telinganya ke dada Wira dan mendengar degup jantung Wira yang berdetak semakin kencang aja.
"Wi! Udah ah malu! Kita diliatin orang-orang nih!" protes Wira.
Dewi tak lagi mendengarkan degup jantung Wira. Ia tersenyum melihat Wira yang terlihat malu-malu.
"Ayo, Sayangku! Kita makan! Aku lapaaaar sekali!"
"Iya, ayo!"
Dewi menarik tangan Wira. "Ayo apa?"
"Ya... Ayo makan!" jawab Wira tak mengerti.
"Tuh, aku udah bilang Sayangku tapi kamu cuma bilang ayo makan! Enggak adil!" ujar Dewi seraya mencibirkan bibirnya.
"Ih lo mah beneran ngetes kesabaran gue!" gerutu Wira.
"Eh kok gue lo lagi?!" omel Dewi.
"Iya... Iya... Iya... Cintaku. Ayo kita makan, Cintaku!"
Dewi tersenyum penuh kemenangan. "Nah, begitu dong! Ayo Sayangku kita makan!"
Dewi menggandeng tangan Wira dan mereka pun masuk ke restoran yang Wira tuju. Restoran dimana ada menu capcay dan teh tarik yang Dewi inginkan.
"Capcay satu, ayam asam manis satu, dua nasi putih dan dua teh tarik." pesan Wira di kasir. Kasir tersebut memasukkan pesanan Wira dalam komputer dan menerima uang yang Wira bayar.
Wira datang dengan membawa papan berisi nomor pesanan dan duduk di depan Dewi.
"Kok di depan aku sih duduknya? Enggak di samping aku aja?" tanya Dewi.
"Enggak dong. Aku mau di depan kamu agar bisa memandangi kecantikan kamu terus.... sadis! Gila, ini kata-kata Abi buat Mommy banget!" ujar Wira dengan wajah merah menahan malu.
"Loh memang kenapa? Aku suka kok mendengarnya! Kamu tau enggak, setiap cewek itu suka dipuji. Meski kita kadang sadar kalau pujian itu enggak sepenuhnya benar, tapi kita kaum hawa sudah cukup senang. Berarti Abi kamu tau bagaimana cara membahagiakan seorang wanita!" ujar Dewi yang langsung meminum teh tarik yang baru saja disajikan.
"Bukan cuma Abi aja yang tau bagaimana cara membahagiakan seorang wanita kali! Aku juga tau. Aku bahkan bisa buat kamu bahagia sampai merem melek, melet-melet dan berteriak ah uh ah uh-"
Dewi cepat-cepat membekap mulut Wira dengan tangannya. Tak mau ada yang mendengar ucapan Wira yamg suka seenaknya. "Ih kebiasaan banget sih kalau ngomong hal vulgar enggak disaring dulu! Kalo ada yang denger gimana?!"
__ADS_1
Tak lama pesanan mereka datang. Dewi melupakan kemarahannya demi melihat capcay yang masih mengepulkan panas.
"Aku langsung makan ya, Bang!"
"Bang?" tanya Wira sambil mengernyitkan keningnya.
"Iya. Abang Wira." jawab Dewi dengan mulut penuh dengan capcay dan nasi.
"Memangnya lo... eh kamu itu Carmen yang manggil aku dengan panggilan Abang!"
"Lalu panggil apa dong?!"
"Bapak aja! Biar ada sensasinya kayak di film-film gitu!" jawab Wira.
"Ngaco ah! Udah jangan ganggu dulu. Aku lapar berat!"
Wira melihat Dewi makan dengan lahap. Jelas saja lahap, pagi hanya makan bubur dan siang absen makan. Bagaimana tidak lapar coba?!
"Sayang, aku masih lapar nih!" ujar Dewi yang sudah menghabiskan nasi miliknya.
"Yaudah mau nambah apa lagi?" tanya Wira yang menghentikan makannya demi memesankan makanan baru untuk Dewi.
"Capcay seafood lagi!"
"Lagi? Kamu udah habisin satu porsi loh! Enggak bosen?"
"Iya... Aku pesan dulu. Mau pakai nasi lagi enggak?!" tanya Wira.
"Enggak. Capcay aja cukup! Teh tariknya boleh deh satu lagi!"
"Oke. Duduk yang manis, biar aku pesankan!"
Wira pun kembali memesan makanan di kasir dan membawa papan nomor pesanan seperti sebelumnya.
"Kamu lanjutin aja makannya!" ujar Dewi.
"Iya. Tunggu ya, capcaynya lagi dibuatin!"
Dewi mengangguk. Sambil menunggu, Dewi memainkan Hp miliknya. Ketika capcay tiba, ia kembali dilanda lapar dan menghabiskan seporsi capcay. Wira sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Doyan banget sama capcay! Sampai dua porsi loh!" ujar Wira.
"Iya. Enak banget. Besok beliin lagi ya, Sayang!"
"Besok? Lagi? Enggak bosen?" tanya Wira.
__ADS_1
Dewi menggelengkan kepalanya. "Enggak dong! Ayo kita pulang! Ibu dan Ratna pasti senang deh dengan hadiah yang kamu kasih!"
Wira menggandeng Dewi yang berjalan pelan karena kekenyangan. Mereka berjalan sampai ke parkiran motor dan kembali Wira memakaikan Dewi helm.
"Cantik banget sih kamu!" puji Wira.
"Kamu juga ganteng banget sih!" balas Dewi.
"Kalau itu sih udah pasti! Ganteng, pintar, sukses, baik hati itulah Wirata Agastya."
Dewi tersenyum mendengar kesombongan Wira. "Iya, dan lelaki ganteng, pintar, sukses dan baik hati itu adalah suami aku. Jadi, aku adalah wanita yang paling beruntung di muka bumi ini."
Gantian Wira yang tersenyum dan merasa tersanjung. "Bisa aja nih! Ayo ah kita pulang. Kita bobo sambil kelonan!"
Dewi melingkarkan tangannya di pinggang Wira. Bersama mereka menembus udara malam.
Wira menyetir motor sambil bersenandung ringan. Wira tak menyadari kalau Dewi tertidur. Ia hanya merasa pundaknya agak pegal karena sejak tadi Dewi menumpu kepalanya di sana.
Ketika Dewi kaget, sontak Dewi memegang pinggang Wira. Hampir saja Dewi terjatuh.
"Astaghfirullah! Lo... Eh kamu kenapa sih?" Wira yang panik cepat-cepat menepikan motornya dan berhenti untuk mengecek keadaan Dewi.
"Aku nggak apa-apa kok. Tadi itu aku cuma ngantuk dan ketiduran." jawab Dewi dengan jujur.
"Hah? Lo... Eh maksudnya kamu ketiduran? Tumben banget! Biasanya kita pulang malam juga kamu baik-baik aja. Ini kok sekarang kamu jadi cepet banget sih jam tidurnya?!" Wira memperhatikan wajah Dewi dengan lekat. "Atau lo sakit? Eh maksudnya kamu sakit?!"
Dewi menahan tawanya karena melihat Wira yang sejak tadi agak kikuk karena tidak terbiasa ber-aku kamu. "Aku baik-baik aja kok, Cintaku. Mungkin masih lelah sehabis pembukaan laundry kemarin makanya jadi mudah mengantuk."
"Beneran?" Wira masih tak percaya dan memegang kening Dewi. Suhu tubuhnya normal, malah agak dingin karena angin malam. "Dingin ya? Pakai jaket aku aja!"
Wira melepaskan jaketnya dan memakaikan Dewi yang hanya memakai cardigan tipis saja. "Besok bawa jaket yang tebal!"
"Kamu nanti kedinginan. Aku enggak apa-apa kok!" protes Dewi.
Wira tersenyum, "Kata siapa aku kedinginan?" Wira mengeluarkan jas hujan dari dalam jok motor dan memakainya. "Aku lebih hangat malah dari kamu weekk!"
Dewi kembali tersenyum. "Baik banget sih cintaku ini!"
"Udah! Jangan ngegodain terus! Besok kamu bawa sarung juga ya!" pesan Wira seraya siap-siap menyalakan mesin motornya lagi.
"Buat apa?" tanya Dewi yang langsung duduk dan melingkarkan tangannya di pinggang Wira. Ia kini merasa hangat berkat jaket milik Wira.
"Buat iket kamu biar enggak jatuh kalau ketiduran! Atau kamu mau aku beliin kursi di depan? Kayak anak kecil gitu, jadi kepala kamu bisa bobo-an di stang motor ha...ha...ha...."
"Enggak mau! Enak aja! Aku peluk kamu aja! Enak, anget!"
__ADS_1
"Itu sih memang kesukaan kamu! Wira gitu loh, memberikan kehangatan dan kenyamanan!" Wira tersenyum dan kembali melajukan motornya.
****