
Dewi masuk ke dalam kamar setelah mencuci piring dan membereskan dapur. Nampak Wira sedang tertidur pulas karena kekenyangan.
Wira tidur di tengah tempat tidur dan menguasai sebagian besar ranjang. Dimana Dewi akan tidur malam ini?
Sepertinya Wira memang sengaja membuat Dewi tak bisa tidur di atas tempat tidur dan pada akhirnya Dewi menyerah lalu tidur di sofa. Namun bukan Dewi namanya kalau semudah itu menyerah.
Dewi mematikan lampu kamar dan naik ke atas tempat tidur. Tangan Wira yang semula menguasai ranjang, Ia angkat dan Ia lingkarkan di tubuhnya.
Dewi tersenyum. Strategi sudah Dewi buat. Ini namanya sambil menyelam minum air.
Dewi melepas bra miliknya dan menaruhnya di atas nakas. Ia berniat tidur tanpa memakai bra. Tangan Wira yang melingkar di tubuhnya bagaikan jebakan, salah pegang sedikit akan membuat Wira tersulut gairahnya. Dengan demikian misi Dewi agar Wira menyentuhnya berhasil.
Dewi yang lelah menunggu ternyata malah ketiduran. Pelukan hangat dan melindungi Wira membuatnya terlelap. Mereka berdua pun tidur dengan pulas sampai sang bulan berganti matahari.
****
Wira merasakan tidurnya sangat lelap malam ini. Sangat nyaman dan pulas sampai tak bermimpi sama sekali. Tidur dalam yang membuatnya segar di pagi hari.
Harum parfum tercium di hidung Wira. Rupanya berasal dari body butter yang Dewi oleskan ke tubuhnya sebelum tidur.
Wira membuka matanya dan melihat tangannya sedang memeluk Dewi yang tertidur pulas. Yang lebih parahnya lagi, tangan nakalnya itu memegang nen milik Dewi yang tanpa pelindung.
Wow...
Benar-benar tangan yang tau mana tempat paling enak!
Bukan adik kecil Wira saja yang sejak tadi sudah bangun, hasrat terpendamnya juga sudah bangun dan memaksa ingin disalurkan.
"Tahan Wira! Tahan!" batin Wira.
Wira pun pelan-pelan melepaskan tangannya dari tempat paling enak. Berhasil. Wira hendak ke kamar mandi dan menyalurkan hasratnya ketika Dewi berbalik badan dan malah memeluk Wira erat.
__ADS_1
Tubuh Dewi kini malah berbalik badan dan kembali memeluk Wira dengan erat. Wira jadi salah tingkah. Benar-benar Dewi menguji imannya.
Dewi malah membenamkan kepalanya di dada Wira. Membuat jantung Wira berdegup makin kencang. Tak tahukah Dewi kalau pagi hari adalah waktu paling crusial bagi seorang laki-laki?
"Ya Allah... Mana wangi banget lagi rambutnya! Cium dikit aja boleh kali ya?!" batin Wira.
Wira pun mendekatkan dirinya dan mencium rambut Dewi. Harum shampoo yang sama seperti miliknya namun kenapa berbeda saat Ia yang pakai?
Sedang asyik menghirup wangi rambut Dewi, tak disangka sang pemilik rambut malah menengadahkan wajahnya dan mencium bibir Wira.
Wira hendak menolak namun Ia tak kuasa. Tangan Dewi berada di wajahnya dan bibirnya mencium bibir Wira dengan lembut. Rasanya sayang untuk dilewatkan.
"Ah bodo amat dengan semuanya! Daripada melakukan pelampiasan di kamar mandi lebih baik dengan yang halal saja!" batin Wira, Ia pun mulai membalas ciuman Dewi.
Dewi tersenyum di antara ciumannya. Berhasil. Ia berhasil menggoda Wira untuk melakukan bisnis plus-plus mereka. Hutangnya akan berkurang dan Ia akan terbebas dari pernikahan tanpa cinta ini.
Dewi pun dengan senang hati melayani gairah Wira yang selama ini terpendam. Bagaikan singa yang selama ini terkurung dan kini dilepaskan. Wira merasa sekali saja tak cukup. Ia pun melanjutkan sesi kedua.
Meski lelah, Dewi senang melayani suami sekaligus klien bisnisnya. Lumayan. Berkurang dua. Kalau Dewi berhasil menggoda Wira di kamar mandi maka akan tambah satu lagi.
Maka saat Wira masuk ke dalam kamar mandi, Dewi pun mengikutinya. "Mau apa?" tanya Wira. "Kita udah dua kali loh! Aku-"
Ucapan Wira terhenti karena Dewi kembali menciumnya. Kalau begini sih Wira tak akan tahan.
Di bawah shower yang terus mengalir, dua insan yang sedang dilanda gairah saling memuaskan satu sama lain. Suara kepuasan demi kepuasan terdengar menggema sampai akhirnya mereka sampai di batas dan melakukan pelepasan bersama.
"Licik!" bisik Wira di telinga Dewi.
Dewi yang kelelahan hanya bisa tersenyum jahil. Misinya berhasil. Ternyata menginap sementara di apartemen Wira memang cara tercepat untuk menyelesaikan bisnis mereka.
Wira keluar dari kamar mandi dan memakai baju kerjanya. "Dewi gila! Pagi-pagi sudah 3x main?! Enggak tau apa lutut ini lemas sekali?!" rutuk Wira dalam hati.
__ADS_1
Ia lalu menghangatkan segelas susu hangat di dalam microwave. Wira tiba-tiba teringat kalau Dewi yang sudah melayaninya pasti lelah dan juga lapar. Diambilnya lagi gelas kosong dan diisi susu lalu Ia panaskan dalam microwave.
Dewi belum keluar kamar. Mungkin masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Wira pun inisiatif membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Wira mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan margarin. Ia memasukkan dalam panggangan elektrik dan menunggu sampai matang. Wira pun mengolesi roti yang sudah dipanggangnya dengan selai kacang dan cokelat.
Suara pintu dibuka membuat pandangan Wira mengikuti asal suara. Dilihatnya Dewi sudah memakai pakaian kerjanya dan langsung berjalan menuju meja makan.
"Ini susu buat saya kan, Pak?" tanya Dewi yang langsung meminum susu tanpa menunggu jawaban dari Wira.
"Bukan! Buat gue!" ketus Wira yang kini membawa roti buatannya dan menaruh di atas meja makan.
Dewi tersenyum. Sedikit banyak Ia mulai mengenal kepribadian rekan bisnisnya tersebut. Mulut berkata pedas namun hatinya baik.
Tanpa sungkan Dewi mengambil roti yang Wira buat dan memakannya. "Enak ya tinggal sarapan doang?" sindir Wira pedas.
"Iya. Soalnya tadi aku sudah bekerja keras melayani suamiku... tiga kali! Capek dan lapar!" ujar Dewi seraya menahan senyumnya.
Wira mencibirkan bibirnya. Ia mengikuti apa yang Dewi lakukan. Mengambil setangkup roti dan memakannya bersama susu hangat. Sarapan sederhana yang bisa Ia buat selain menghangatkan aneka makanan yang Mommynya sediakan di lemari es.
"Masuk shift berapa?" tanya Wira berbasa-basi.
"Satu. Bapak mau jemput?" tanya Dewi dengan mata berbinar-binar. Dalam hatinya penuh harap kalau Wira akan benar-benar menjemputnya di cafe.
"Ogah! Gue mau nyuruh lo pulang! Gue udah ngelakuin bisnis plus-plus kita tiga kali pagi ini. Percuma lo nginep, enggak bakalan gue sentuh juga. Mending lo pulang aja deh!"
Mata berbinar-binar penuh harap Dewi menghilang, berganti dengan kekecewaan. Bukannya menjemput Dewi seperti yang Dewi harapkan eh Dewi malah diusir pulang. Benar-benar suami enggak ada akhlak
"Enggak mau! Aku mau nginep di sini aja. Lebih enak. Nyaman. Semua fasilitas ada. Enggak pusing mikirin atap yang kadang bocor atau WC yang suka mampet." Dewi lalu mengangkat kepalanya. "Selama kita masih dalam kontrak, apalagi kita sudah menikah seperti sekarang aku akan tinggal dimana suamiku tinggal. Jadi, nanti aku pulang ke sini ya Suamiku Sayang!"
Dewi berdiri dan menghampiri Wira. Diciumnya pipi Wira sambil berbisik. "Kamu hebat pagi ini. Kalau malam ini kamu mau lagi, aku siap kok!"
__ADS_1
*****