Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Fitnah


__ADS_3

"Ada deh, My. Ide itu kan bisa datang dari mana saja. Yang penting ide yang aku ajukan ke Mommy adalah ide yang cemerlang. Mommy setuju kan?" tanya Wira.


Tari ragu sejenak. Pikirannya masih terpecah antara pemilik rambut yang Tari yakin adalah milik seorang gadis. Tapi siapa?


"Mommy akan bicarakan dulu dengan Abi kamu. Sejak pindah ke apartemen, kamu jadi jago masak ya?" sindir Tari.


"Enggak kok, My. Cuma sedikit improvisasi aja. Banyak nonton Youtube seperti Mommy." jawab Wira.


"Kamu... Suka ngajak teman kamu ke apartemen juga enggak?" selidik Tari.


"Kadang. Zaky sama Carmen pernah kesini juga. Mommy tau kan kalau teman aku enggak banyak?!"


Mau tak mau Tari memepercayai Wira meski dalam hatinya meragu. Akhirnya Tari pulang ke rumah dengan masih kepikiran siapa pemilik rambut panjang sebahu itu?


Wira tak menyadari kecurigaan Mommynya. Ia mengirimkan email pada Abi-nya tentang bisnis yang Ia ajukan seraya ngemil ikan goreng tepung kesukaannya.


****


Dewi pulang ke apartemen sudah larut malam. Hari ini shift dua hanya sampai jam 10 saja, beda kalau weekend. Nampak Wira masih berkutat dengan laptop miliknya.


"Bapak udah makan belum?" tanya Dewi seraya salim pada suaminya tersebut.


"Udah. Dari tadi juga gue nyemilin ikan tepung buatan lo. Nih udah tinggal setoples lagi." jawab Wira dengan santainya.


Dewi diam saja. Ia lalu duduk di sofa depan Wira. Wajahnya terlihat lelah dan ada masalah.


Wira mengangkat wajahnya dan melihat Dewi yang tak seperti biasanya. "Kenapa? Muka lo capek banget begitu. Hari ini cafe rame banget?"


Dewi menggelengkan kepalanya. "Biasa aja. Enggak terlalu ramai."


"Terus kenapa lo kelihatan kecapekan gitu? Ada masalah? Enggak punya uang?"


"Kalo enggak punya uang memang setiap hari, Pak." Dewi menyandarkan kepalanya di sofa. Hari ini Ia capek lahir batin.


"Lalu?" Wira kini tak fokus lagi bekerja. Ia tahu Dewi ada masalah. Biasanya anak itu bersemangat meskipun sangat capek.


Dewi lalu teringat kejadian tadi di cafe saat dirinya sedang bekerja.


***

__ADS_1


Flashback


"Pantesan aja dia punya uang buat bayar hutang sama gue! Enggak taunya peliharaan sugar daddy?! Ih mureh banget jadi orang!" ujar teman Dewi yang bekerja sebagai kasir.


"Tuh kan, lo pasti curiga. Sama kayak gue! Anak yang biasanya tukang ngutang sana sini eh tiba-tiba punya uang buat lunasin. Udah gitu penampilannya beda banget, segala motong rambut dan ngecat juga. Duit dari mana coba kalo bukan dari si sugar daddy?!" ujar si penebar fitnah yang mengambil foto Dewi malam itu.


"Gue awalnya enggak percaya, tapi gue lihat pake mata kepala gue sendiri. Dewi dijemput naik mobil malam-malam. Di depan cafe pula. Gimana gue enggak suudzon coba?" ujar si senior yang semula berpikir rasional dan menengahi sekarang malah mendukung si penebar fitnah.


"Mungkin saudaranya kali!" ujar Maman, pelayan yang suka menggantikan Dewi menanyakan pesanan ke pengunjung.


"Kalo dia punya sodara kaya, ngapain juga minjem duit sama kita yang enggak lebih baik keadaannya dari dia?" ujar si penebar fitnah.


Dewi yang sejak tadi berada di belakang sehabis membuang sampah hanya bisa mengelus dada mendengar fitnah yang ditujukan untuknya. Dewi ingin membela diri, namun apa yang akan Ia jelaskan?


Bilang kalau dia bersama Wira, bos mereka? Bukannya malah memperkeruh suasana saja?!


Lalu kalau berbohong, mau bohong dengan cara apa? Bilang itu saudara? Yang dikatakan si penebar fitnah benar adanya, kalau sejak awal Dewi punya saudara kaya dan baik hati untuk apa dia minjem sama teman-temannya yang belum tentu minjemin tapi malah ngomongin?!


Dewi terus bersembunyi sampai mereka pergi dan Ia bisa keluar dari persembunyiannya. Cafe agak sepi malam ini, justru membuat Dewi tak nyaman. Ia sadar kalau sejak tadi dirinya diperhatikan terus oleh orang-orang yang menggosipi dirinya.


Ternyata gosip yang selama ini berhembus adalah tentang dirinya? Mau menepis, Dewi sadar kalau itu benar. Ia memang sudah menjual dirinya demi biaya rumah sakit Bapak. Lebih baik diam saja dan menahan semuanya.


****


Pletak....


"Aww! Sakit tau Pak!" Dewi meringis kesakitan saat keningnya dijitak oleh Wira. Lamunannya sampai buyar karena kena sentil.


"Lo lagi gue tanya, eh malah bengong. Ada apa sih?" tanya Wira semakin penasaran.


"Enggak ada apa-apa kok, Pak."


"Bohong lo! Biasanya lo tuh kecentilan dan semangat banget kalo deket gue. Ini tiba-tiba diem, muka murung dan kecapekan banget. Empat ronde aja lo kuat sama gue. Udah ngaku ada apaan?!"


"Jangan bandingin sama empat ronde, Pak. Itu kan capek tapi enak." sahut Dewi.


"Yeh! Kalo kayak gini aja lo cepet sahutinnya! Udah cepet jawab ada apaan?!" Wira yakin ada sesuatu yang menimpa Dewi dan terus Dewi sembunyikan.


"Tapi Bapak jangan marah?! Janji?!"

__ADS_1


"Tergantung!"


"Yaudah enggak jadi saya ceritain!" ancam balik Dewi.


"Ih ngeselin banget lo! Udah bikin gue penasaran eh enggak mau cerita! Udah cepetan, habis ini kita berangkat ke Bandung!"


"Sekarang? Enggak besok aja?"


"Enggak! Sekarang aja. Udah cepet jawab ada apa?!" Wira mengembalikan kembali ke pokok pembicaraan semula.


"Kayaknya ada yang foto kita berdua deh pas Bapak jemput saya!"


"Foto? Siapa? Kok lo tau?" Wira duduk dengan tegak dan mendengarkan cerita Dewi.


"Tadi saya lagi buang sampah di belakang, saya dengar mereka ngomongin saya. Bilang kalau sekarang saya peliharaan sugar daddy yang waktu itu jemput saya di depan kantor. Mereka bilang, pantas hutang saya lunas dan sekarang lebih terawat."


"Trus? Lo keluar dan langsung teriak sama mereka, 'gue bukan peliharaan sugar daddy tapi cowok ganteng' gitu?" goda Wira.


"Ih ngeselin banget! Saya lagi cerita serius tau!" Dewi memanyunkan bibirnya kesal karena Wira malah mengajaknya becanda.


"Iya... iya... Gue serius nih. Siapa yang ngomong?"


Dewi menyebutkan nama si pembuat fitnah dan senior yang melihat langsung saat Dewi dijemput Wira.


Wira lalu mengambil ponselnya dan menghubungi manajer cafe. Cepat-cepat Dewi cegah namun Wira memelototinya dan menyuruh Dewi diam di tempat. Mau tak mau Dewi menurut.


"Hallo, Pak Agus. Ini Wira. Saya dengar ada fitnah yang berhembus di kalangan karyawan. Tentang Dewi. Tolong diinfokan sama anak-anak yang lain ya, itu saya yang jemput Dewi. Saya lagi ngerencanain bisnis baru sama Dewi. Saya enggak mau ada fitnah yang tidak-tidak ya, Pak!" perintah Wira dengan tegas.


Dewi mendengar suara Pak Agus manajer cafe tempat Ia bekerja sedang meminta maaf pada Wira. Pak Agus berjanji akan meredam fitnah yang tak beralasan tentang Dewi dan Wira.


"Beres kan?" pamer Wira setelah menutup teleponnya. "Kalo ada apa-apa tuh cerita. Jangan dipendam sendiri! Kalo ada masalah tuh cari solusi bukan eksekusi!"


Dewi melihat Wira sangat bercahaya. Begitu berbeda dan berwibawa. Bukan si judes yang seenaknya saja kalau bicara.


"Makasih, Pak."


"Iya. Udah sana siap-siap! Kita ke Bandung sekarang!"


****

__ADS_1


Siapa yang mau ikut ke Bandung? Ayo yang vote nanti ikut ya?! 😁😁😁


__ADS_2