Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Back to Jakarta


__ADS_3

Dewi menunduk malu. "Maafin Dewi, My."


Tari tersenyum dan mengusap tangan Dewi yang putih dan halus. "Mommy 'kan sudah bilang, kamu nggak perlu minta maaf sama Mommy. Sudah dua kali loh kamu minta maaf sama Mommy! Sebentar lagi, suami kamu akan pulang. Lupakan rasa marah dalam diri kamu. Kalian bicarakan baik-baik. Apa mau kamu, apa pendapat Wira kalian bicarakan. Jangan dipendam masing-masing. Mommy nggak mau hal ini akan menjadi bumerang nantinya untuk rumah tangga kalian."


"Iya, Mi."


"Ya sudah, ayo kita makan habis itu kita belanja! Kita tinggalkan saja Carmen dan Zaky! Lebih baik, kita shopping!"


****


Wira mengerjakan pekerjaannya di Bali secepat mungkin. Kali ini ia benar-benar harus pulang. Ia tak sabar karena Dewi terus menerus menolak telepon darinya.


Wira tidak tahu saja kalau Dewi dan Mommy Tari membuat kesepakatan untuk sedikit mengerjai Wira. Mommy Tari yang meminta Dewi untuk terus mengacuhkan Wira. Tujuannya adalah agar Wira segera menyelesaikan pekerjaannya di Bali dan pulang ke rumah.


Mommy Tari dan Abi merasa kalau pekerjaan Wira di Bali sudah memakan waktu yang cukup lama. Sifat Wira yang pemilih membuat proses pengerjaan cafe menjadi lebih lama dari seharusnya. Memang sih hasilnya jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Terbukti dari hari pertama pembukaan cafe yang mendapat sambutan baik dan pengunjung yang hadir pun sangat banyak


Ternyata memang dibalik kekurangan yang Wira miliki, ia memiliki kelebihan yakni kalau melakukan pekerjaan ia akan melakukan dengan sebaik mungkin. Hasil pekerjaan Wira, tak pernah mengecewakan kedua orang tuanya. Selalu bagus dan bisa dibilang sempurna


Pembukaan cafe yang berhasil selanjutnya yang Wira lakukan adalah promosi. Wira sudah promosi melalui sosial media dan banyak turis lokal maupun internasional yang mampir ke cafe milik Tari.


Merasa pekerjaannya sudah selesai, Wira pun bersiap kembali ke Jakarta. Rupanya, tanpa disadari sudah hampir sebulan ia berada di Bali. Ia sangat merindukan Dewi dan pelukan hangatnya. Wira benar-benar kesepian meski berada di Bali yang memiliki banyak hiburan, Wira tidak tergoda. Ia hanya fokus ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah. Rumahnya adalah tempat di mana Dewi berada. Sebuah ruko dimana bisnis miliknya semakin maju saja setiap hari.


Wira menghirup udara Jakarta yang berpolusi dengan senyum di wajahnya. Akhirnya ia pulang. Dia menginjakkan kakinya lagi di kota yang selama ini selalu ia runtuki kemacetannya. Ternyata, meski Jakarta kota yang sering macet dan banyak polusi, ada cinta milik Wira yang berada di sana. Yang membuat Wira tidak bisa move on ke tempat lain.

__ADS_1


Wira sudah mengabari kedua orang tuanya kalau dirinya sudah sampai di Jakarta. Mommy Tari juga berpesan pada Wira, saat menemui Dewi nanti ia harus banyak sabar dan mengontrol emosinya. Ia harus meyakinkan Dewi kalau ia bahagia akan segera memiliki anak. Banyak wejangan yang Tari berikan untuk anak kesayangannya. Tentunya, wejangan itu akan tetap diingat Wira.


Wira menyetop taksi dan meminta sopir taksi mengantar ke alamat ruko miliknya. Wira sudah tak sabar untuk melihat wajah istrinya yang sangat ia rindukan. Setelah dua jam perjalanan akhirnya mobil taksi pun berhenti di depan ruko yang kini terlihat ramai oleh beberapa motor dan pelanggan yang ingin menitipkan pakaiannya untuk di laundry.


Rupanya dalam sebulan ini bisnis laundry miliknya semakin maju pesat. Pasti semua karena Dewi yang sudah fokus membantu di laundry sejak berhenti bekerja. Keluarga Dewi benar-benar bersatu padu membesarkan bisnis milik Wira. Tanpa mereka, mungkin Wira masih menjadi anak manja yang terus merengek pada kedua orang tuanya untuk dibuatkan bisnis.


"Assalamualaikum!" ucap Wira sebelum memasuki ruko.


"Waalaikumsalam!" jawab Ibu Sari dan salah seorang karyawan laundry miliknya. "Wah, Nak Wira sudah pulang!" sambut Ibu Sari dengan senyum di wajahnya.


"Iya, bu! Ibu apa kabar? Sehat?" Wira lalu salim kepada ibu mertuanya.


"Alhamdulillah. Ibu sehat. Nak Wira bagaimana di sana? Kok makin kurusan sih? Pasti karena nggak ada yang mengurusi ya?!" Ibu Sari begitu perhatian dengan menantu kesayangannya tersebut.


"Iyalah kangen, 'kan mau jadi Bapak! Kangen sama istri dan calon anaknya bukan?! Sudah sana naik ke atas! Dewi ada di atas, tadi pamit mau shalat zhuhur!"


"Iya, Bu. Wira langsung ke atas ya!" Wira lalu membawa koper miliknya dan menaiki anak tangga ruko menuju lantai atas.


Sebelum menemui Dewi ia mencuci tangannya dulu di wastafel. Dewi sekarang sedang hamil, ia harus lebih menjaga kebersihannya dibanding sebelumnya.


Wira membuka pelan pintu kamar lalu melongokkan kepalanya. "Assalamualaikum!" ucap Wira. Dewi yang sedang melipat mukena dan menaruhnya di sebuah rak pun menoleh.


Dewi sangat terkejut karena ia tak menyangka Wira akan pulang hari ini. Mommy Tari menyembunyikan kepulangan Wira dari Dewi dan sengaja membuat kejutan untuknya.

__ADS_1


"Sayang! Aku pulang!" Wira masuk ke dalam kamar dan tersenyum lebar. Dengan penuh percaya diri, Ia membuka kedua tangannya dan berpikir kalau Dewi akan menghambur ke pelukannya.


"Waalaikumsalam!" Dewi mengambil segelas air yang berada di atas nafas dan meminumnya. Ia malah menyueki Wira, membuat Wira menutup kembali tangannya karena tak ada yang menyambutnya dengan pelukan hangat seperti yang ia pikir.


Wira yang kecewa karena tak disambut pun berjalan mendekati Dewi dan duduk di lantai sambil menghadap ke arah istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur. "Sayang! Aku pulang loh! Kamu nggak kangen sama aku?!"


"Iya, aku tahu. Mandi dulu sana! Kamu kan baru pulang dari luar kota, sebaiknya mandi dulu biar bersih!" Dewi berdiri dan mengambilkan handuk untuk Wira selalu memberikan pada suaminya.


"Nggak mau mandiin aku?" Wira memberikan tatapan puppy eyes pada Dewi namun sayangnya tatapan itu kini tidak berguna.


"Aku udah mandi! Kamu mandi aja sendiri! Aku mau makan!" Dewi pun keluar dari kamar dan meninggalkan Wira yang masih tak percaya kalau sejak tadi ia sudah dicuekin oleh istrinya.


"Ya.. Mandi sendiri lagi dong! Kirain bakalan dimandiin!" gerutu Wira. Dengan langkah malas, Wira pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Sementara itu, meski masih kesal dengan Wira namun Dewi tak tega melihat suaminya yang baru pulang kerja dari jauh terlihat lelah dan lapar. Dewi pun menyiapkan makanan untuk Wira makan. Ia memasak menu sederhana yang bisa ia masak dalam keadaan perutnya yang suka mual.


Dewi masuk ke dalam kamar dan melihat Wira sudah selesai berpakaian. "Makan dulu! Aku udah masakin!" ajak Dewi dengan nada datar.


Wira tersenyum senang karena Dewi mau mengajaknya makan, meski tanpa senyum saat mengajak tentunya. "Suapin ya!" goda Wira lagi.


"Makan aja sendiri! Aku juga lapar! "


Lagi-lagi Wira hanya bisa mengurus dada. Sabar Wira, sabar...

__ADS_1


****


__ADS_2