
Dewi menarik nafas dan membuangnya beberapa kali. Kesal. Marah. Sebal. Semua jadi satu.
Lelaki di depannya benar-benar ngeselin dan menyebalkan. Rasanya Dewi ingin menarik kerah baju laki-laki nyebelin itu lalu melayangkan tinju yang kencang. Biar hilang kesombongan dalam dirinya.
Lalu Dewi sadar, di depannya adalah penyelamat Bapaknya. Meski ngeselin, cowok di depannya sudah membayar biaya operasi dan rumah sakit serta hutang-hutangnya.
"Sabar, Wi! Sabar!" batin Dewi.
"Kenapa liat-liat? Gue ganteng? Terpesona? Baru nyadar?!" Wira kembali melanjutkan sarapannya. Tak peduli dengan kemarahan Dewi yang sudah di ubun-ubun rasanya.
Dewi menghirup nafas dalam dan berusaha menenangkan diri. Menghadapi cowok sombong dan bermulut pedas di depannya tak bisa dengan emosi tinggi. Harus putar otak, meskipun tangan Dewi sudah gatal mau mengambil wajan dan memukul kepala Wira agar hilang kesombongan dalam dirinya.
"Biasa aja. Bapak memang ganteng, tapi kok di mata saya lebih enak dilihat Mas Zaky ya? Apa karena Mas Zaky baik dan sopan ya? Baru nabrak saya aja udah ditraktir. Huh... Andai dulu saya minta tolong sama Mas Zaky, pasti tak akan ada bisnis plus-plus yang tercipta." sindir Dewi tanpa rasa takut.
Wira menghentikan kembali makannya. Menatap Dewi dengan tatapan tajam dan menyeramkan. "Oh gitu?! Senang ya baru diajak makan sama Zaky? Lupa lo kalo gue udah ngajak lo ke cottage dan makan di restoran? Gue juga bahkan ngajak lo shopping juga?! Jelas gue lebih baik dari Zaky!" ujar Wira tak terima kalau Zaky lebih baik darinya.
"Bukan lupa, Pak. Saya inget kok. Bedanya sama Mas Zaky, dia enggak ada embel-embelnya ngajak saya makan. Kalo Bapak kan ada plus-plusnya!" Dewi yang sudah kesal bahkan tak takut kalau Wira makin marah.
"Setidaknya gue udah nikahin lo! Berarti gue lebih baik dong!" Wira yang gengsi tak mau kalah.
"Oh ya? Bukannya tadi Bapak yang bilang, kalau pernikahan kita enggak bisa diharapkan jadi pernikahan seperti yang sebenarnya?!"
Wajah Wira merah padam karena Dewi terus membalas perkataannya. "Udah ah berisik! Gue jadi enggak selera makan! Terserah mau lo buang atau apakan! Ganggu sarapan gue aja!"
Wira yang kalah bicara lalu pergi meninggalkan apartemen dan Dewi seorang diri. Dewi yang kesal lalu membawa pulang makanan yang sudah Ia hidangkan. Mubazir. Lebih baik buat keluarganya.
Dewi merapihkan apartemen Wira lalu pulang ke rumah dengan naik ojek online. Hatinya kesal dan bertekad tak akan ke apartemen Wira sebelum cowok itu memohon dirinya datang. Tapi hal itu tak mungkin terjadi. Ia harus melakukan kewajibannya agar semua hutangnya cepat lunas.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Dewi menaruh makanan yang Ia bawa di meja makan. Tak lupa salim pada Bapak yang sedang tiduran di kamar. Bapak terlihat lebih segar dan sehat. Namun masih terbatas geraknya.
"Nginep lagi kamu semalam, Wi?" tanya Bapak.
"Iya, Pak. Enak di rumah teman Dewi. Dekat tempat kerja. Kasihan dia sendirian di rumah tak ada yang menemani." ujar Dewi.
"Enggak merepotkan dia nantinya?" tanya Bapak lagi.
"Enggak. Bapak tenang saja. Malah Dewi membantu dia beresin rumahnya yang berantakan. Mungkin Dewi akan sering menginap di sana, Pak. Lumayan irit ongkos."
"Ya sudah kalo tidak merepotkan. Oh iya tadi Ibumu bilang kalo WC kita mampet lagi. Kamu lapor sama pemilik kontrakkan sana. Biar dia panggil tukang sedoot WC."
Dewi menghela nafas kesal. "Mana mau dia, Pak. Kita bayar kontrakkan sudah murah pasti kita juga yang disuruh bayar jasa sedoot WC. Pakai uang Dewi aja, Pak. Kebetulan Dewi dapat uang lembur."
"Enggak coba nanya dulu sama yang punya kontrakkan? Siapa tau lagi baik?!"
Dewi menggelengkan kepalanya. "Males, Pak. Nanti Dewi dijudesin lagi. Dibilang kebanyakan protes lah. Udah dikasih murah mau nuntut banyak-lah. Dewi pegel hati jadinya. Mending pakai uang Dewi aja, Pak. Daripada makan hati."
Dewi lalu meninggalkan kamar dan mengecek kamar mandi. Benar saja WC mereka sudah ditutup selembar papan triplek bekas, agar WC yang mampet tidak merusak pemandangan.
Huft...
"Hidup jadi orang susah kok begini banget ya? Mau buang hajat aja harus modal dulu!" batin Dewi.
Dewi lalu menelepon jasa sedoot WC yang Ia tanya pada Bahri. Adiknya itu banyak kenalannya. Dewi berpesan pada adiknya untuk pulang dan mengawasi saat mobil sedoot WC datang karena Dewi harus bekerja.
Dewi lalu pergi ke kamarnya. Bukan kamar dalam artian sebenarnya. Kamar Dewi adalah tempat tidur kecil yang ditaruh di ruang tamu. Lemari kecil menjadi sekat agar saat Ia tidur tidak terlihat oleh tamu yang datang.
__ADS_1
Rumah kontrakkan 3 sekat yang keluarganya tempati memiliki ruang tamu agak besar. Lumayan untuk dijadikan kamar dadakan.
Bapak dan Ibu tidur di kamar. Dewi di kamar dadakan. Lalu dimana Bahri? Tentu saja tidur di lantai.
Jika malam datang, Bahri akan menggeser kursi rotan di ruang tamu dan menggelar kasur Palembang berwarna merah sebagai alas tidurnya. Tak lupa motor Bapak dimasukkan dulu ke dalam rumah agar tidak hilang.
Lalu kalau siang Bahri mau tidur gimana? Tentu saja tidur di kasur Dewi atau di kamar. Gantian saja. Tak ada privasi selain di kamar Bapak dan Ibu.
Dewi mengambil seragam kerjanya dan duduk diam di atas kasur miliknya. Tinggal di rumah kontrakkan ini terasa menyesakkan. Beda saat menginap di apartemen Wira.
Kasur Wira yang super nyaman. Toilet yang dilengkapi shower dan bath up. Benar-benar nyaman hidup si kaya. Beda dengan si miskin yang harus buat kamar dari lemari dan gorden dari tiang asal.
Dewi lalu teringat ucapan menyakitkan dari Wira. Pernikahan mereka bukan pernikahan sebenarnya.
"Ya, kita memang bukan nikah karena cinta. Tapi kenapa si sombong itu malah tak mau menyentuhku setelah kami menikah? Apa Ia sengaja agar aku meminta cerai dan aku harus bayar denda?! Enggak bisa kayak gitu. Aku harus membuatnya menyelesaikan bisnis plus-plus kami! Aku mau semua ini cepat selesai!" batin Dewi.
Tanpa pikir panjang Dewi pun mengambil tas besar dan memasukkan baju serta keperluan pribadinya. Dewi lalu pamit pada Bapaknya karena Ibu masih bekerja mencuci baju di rumah orang.
"Pak, Dewi pamit mau nginep di tempat teman Dewi ya Pak. Biar enggak bolak-balik ke rumah." Dewi lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. "Bilang sama Bahri, buat bayar jasa sedoot WC. Bapak kalo ada apa-apa telepon Dewi aja ya, Pak."
"Loh kamu mau nginep lagi? Kok banyak banget bawaannya?" tanya Bapak.
"Iya, Pak. Dewi mau taruh baju cadangan aja di sana. Jadi kapanpun Dewi bisa nginep. Dewi mau belajar bisnis sama temen Dewi. Biar hutang kita cepat lunas, Pak. Doain Dewi ya!"
Bapak mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Sedih karena putrinya harus menggantikan dirinya menjadi tulang punggung keluarga. "Maafin Bapak ya Nak. Bapak tak bisa membantu kamu. Bapak hanya bisa doakan agar kamu diberi kemudahan sama Allah. Hati-hati di jalan ya Nak. Jaga diri!"
Dewi tersenyum, tak mau membuat Bapak makin sedih. "Aamiin. Dewi pergi dulu, Pak. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
****