
"Iyalah ini gue. Lo kira gue setan?!" cibir Wira.
Dewi tersenyum, baru ketemu saja sudah ngegas. Nanti pasti akan lebih judes lagi!
"Motor Bapak mana?" tanya Dewi seraya memperhatikan motor yang pernah dilihatnya berada di rumah Tari. "Ini bukannya motor Mommy ya?"
"Iya. Ini memang motor Mommy. Motor punya gue, ditinggal di rumah Mommy. Takut enggak aman kalo ditaruh di ruko." jawab Wira seraya menyerahkan helm yang biasa Dewi pakai.
"Loh kok helm mahal Bapak juga ganti?" tanya Dewi lagi.
"Iyalah. Takut hilang gue! Jangan sampai semua benda kesayangan gue hilang. Bisa nangis guling-guling gue nanti." Wira menginjak putung rokoknya dan berjalan menuju motor yang ia parkir depan halte.
"Bapak ngerokok lagi? Bukannya udah jarang ya?" tanya Dewi sambil mengikuti langkah Wira. Dewi memakai helm lalu naik ke atas motor.
"Iseng aja tadi. Nunggu lo lama."
"Perasaan saya memang pulangnya jam sepuluh deh. Bapak nunggu lama dari jam berapa?" tanya Dewi penasaran.
Wira membaca bismillah lalu menjalankan motornya. "Jam 8."
"Lama banget. Kenapa enggak tunggu di ruko aja?" tanya Dewi lagi.
"Bawel lo ah nanya melulu kayak wartawan!" omel Wira.
"Ya kan saya kasihan Bapak udah nunggu lama. Di halte pasti banyak nyamuk kan? Kenapa enggak nunggu di cafe aja?"
"Males. Nanti banyak yang nanya gue mau ngapain. Lo mau makan apa?" tanya Wira.
"Apa ya? Pecel ayam terus lama-lama bosen. Nasi goreng aja gimana?"
"Boleh. Nasi goreng dekat komplek rumah Mommy enak. Kita beli di sana aja. Besok lo libur kan? Kita pulang malam sambil jalan-jalan, setuju?!"
"Setuju!"
Wira pun menambah kecepatan motornya. Jalanan sudah mulai kosong karena malam semakin larut. Tak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai ke nasi goreng yang Wira tuju.
"Tuh liat, rame!" tunjuk Wira.
"Iya. Kayaknya enak. Saya mau yang pedas ah. Makan makanan pedas bikin segar!"
"Iya. Hati-hati aja, jangan sampai perut lo mules nanti!" Wira menaruh helm di atas kaca spion lalu masuk ke dalam bersama Dewi.
"Pak, nasi goreng dua. Satu pedas, satu sedang. Makan di sini ya!" pesan Wira pada penjual nasi goreng.
__ADS_1
"Siap Mas Wira!" jawab penjual nasi goreng yang memang sudah mengenal Wira.
Wira memilih kursi kosong. Ia dan Dewi duduk seraya menunggu nasi goreng pesanan mereka matang.
Hingga sebuah tepukan di bahu mengagetkan Wira. "Woy! Lo kesini?!"
Wira mengangkat wajahnya dan melihat sahabat sekaligus sepupunya Zaky yang menepuk bahunya. "Zaky! Lo beli nasi goreng juga?"
"Iya. Laper. Lagi periksa laporan eh perut enggak bisa diajak kerjasama. Nasi goreng udah pilihan tepat deh!" Zaky lalu menyadari siapa yang duduk di depan Wira.
"Loh, ini Dewi kan?" tanya Zaky dengan mata berbinar-binar. "Lagi makan nasi goreng juga?"
Dewi tersenyum. "Iya, Mas."
Zaky seakan baru menyadari kalau Dewi pergi bersama Wira, tidak seorang diri. "Kamu... Pergi bareng sama Wira?"
Dewi mengangguk. "Iya. Kita kebetulan laper pulang kerja. Pak Wira ngajak makan nasi goreng dekat komplek rumahnya yaudah kita coba. Kayaknya sih enak, banyak yang ngantri."
"Enak banget nasi gorengnya. Udah langganan aku dan Wira sejak lama. Porsinya pas dan rasanya juga enak. Perpaduan yang pas sekali. Kamu harus nyoba mie gorengnya. Enak juga loh!" ujar Zaky dengan akrabnya.
Wira menekuk wajahnya, ia tak suka melihat Zaky bersikap ramah pada Dewi. "Lo udah pesen belum, Ky?"
"Udah. Oh iya, untung lo ingetin! Tadinya gue mau bawa pulang, karena ketemu lo berdua gue lebih baik makan di sini aja." ujar Zaky. Zaky lalu mengoreksi pesananannya dan kembali duduk bersama Wira dan Dewi.
"Enakkan di rumah, Ky. Adem! Di sini penuh!" saran Wira.
Wira mengernyitkan keningnya. "Sejak kapan lo jadi centil kayak gini, Ky? Biasanya sama cewek juga kabur!"
"Kalo sama Dewi beda dong!" masih tak sadar diri rupanya. "Dewi, nanti pulangnya mau aku anterin? Wira mau langsung pulang ke rumah. Mau ya?"
"Enggak!" protes Wira.
"Kenapa lo yang nolak sih, Wir? Dewi aja santai! Mulai deh jadi boss yang over protective sama anak buah!" ujar Zaky.
"Em... Saya bareng Pak Wira aja, Mas Zaky." Dewi menengahi dengan menolak tawaran Zaky.
"Udah malam. Wira bawa motor kan? Nanti kamu masuk angin loh, Wi!" bujuk Zaky.
"Justru dia mau nikmati udara malam yang segar. Baru pulang kerja tuh enak menghirup udara segar." balas Wira.
Untunglah perdebatan mereka terhenti ketika nasi goreng pesanan mereka datang. "Ini pesanan Mas Wira. Tidak pedas kan? Ini pasti punya pacarnya ya? Pedas dan saya pakein irisan cabe."
"Bukan pacarnya, Pak." koreksi Zaky.
__ADS_1
"Betul, Pak. Bukan pacar saya, tapi istri saya!" balas Wira.
Zaky tertawa mendengarnya. "Punya saya mana, Pak?!"
"Sebentar ya Mas Zaky. Buat Bu Tara di bungkus?" tanya penjual nasi goreng.
"Iya. Buat Mama dibungkus aja." jawab Zaky.
Wira nampak sedang mengomeli Dewi yang memakan cabe irisan yang diberikan. "Jangan kebanyakan. Nanti perut lo sakit!" omel Wira.
"Enak, Pak. Seger. Bikin pusing jadi hilang kalo makan pedas." jawab Dewi yang sangat menikmati nasi goreng miliknya. "Rekomen nih nasi gorengnya. Nanti aku mau beli lagi ah di sini."
"Iyalah. Selera gue mah bagus!" ujar Wira menyombongkan dirinya.
Tak lama pesanan Zaky datang. "Dewi mau coba selera aku enggak? Aku suka pedas manis. Siapa tau bisa jadi rekomendasi kamu nanti."
"Wah ada yang beda lagi nih seleranya." Dewi pun mencoba nasi goreng selera Zaky. "Lumayan sih, Mas. Tapi saya lebih suka yang agak pedas. Lebih segar."
Wira menahan tawanya, merasa dirinya menang satu langkah dibanding Zaky. Selama ini Zaky selalu selangkah di depan dan lebih dibanggakan segalanya dibanding Wira. Tapi kini?
"Aku boleh coba punya kamu enggak? Siapa tau aku suka!" ujar Zaky tak patah semangat.
"Boleh. Coba aja!" Dewi menyodorkan piringnya untuk Zaky coba.
"Hati-hati, nanti perut lo panas. Nyokap lo marah-marah nanti sama gue!" sindir Wira.
"Kapan nyokap gue marah-marah sama lo? Ngarang lo!" Zaky mencoba nasi goreng milik Dewi, baru beberapa kali mengunyah wajahnya sudah memerah.
"Kenapa Mas? Pedes banget ya?" tanya Dewi.
Wira menuangkan segelas air putih dan memberikannya pada Zaky. "Nih minum! Jangan sok jagoan. Kalo enggak kuat pedas jangan maksa!"
Zaky mengambil gelas yang Wira berikan lalu meminumnya sampai habis. "Kayaknya aku enggak kuat deh. Pedes banget." aku Zaky.
"Makanya jangan sok kuat!" cibir Wira.
Dewi tersenyum. "Tak apa, Mas. Namanya juga mencoba ya!"
Merasa makin lama Dewi makin akrab dengan Zaky, Wira berpikir harus menjauhkan Dewi. "Udah yuk, Wi. Udah malam!"
"Dewi masih makan, Wir. Gue aja yang antar!" bela Zaky.
"Antar kemana? Memangnya lo tau dimana rumah Dewi?" tanya Wira dengan sebal.
__ADS_1
"Ya...Tinggal nanya sama Dewi dimana rumahnya. Beres."
****