Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Mengadu Pada Abi-1


__ADS_3

Keesokan harinya setelah mengantar Dewi bekerja, Wira pun mampir ke rumah Mommynya. Wira langsung dihadang oleh Agas sebelum masuk ke dalam rumah.


"Mau ngapain?" tanya Agas dengan tatapan penuh curiga.


"Assalamualaikum, Abi!" ucap Wira seraya mengulurkan tangannya untuk salim.


"Waalaikumsalam!" Agas memberikan tangannya dan kembali mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Wira. "Mau ngapain kamu ke sini?!"


"Ya... Mau ketemu Mommy lah!" jawab Wira.


"Muka kamu masih bengkak nggak? Nanti Mommy kamu malah curiga lagi?!" selidik Agas sambil memeriksa wajah Wira.


"Abi lihat aja sendiri! Udah hilang nih! Wira rajin kompres, jadi nggak bengkak lagi!" jawab Wira.


"Oh... Baguslah!" Agas mengikuti Wira masuk ke dalam rumah. "Mommy masih di sebelah. Lagi eksperimen menu baru! Nanti pasti kamu disuruh bawa pulang! Abi sampai bosan dikasih menu itu terus setiap hari!"


"Menu baru apa lagi?" tanya Wira.

__ADS_1


"Capcay! Mommy mau buat yang tinggal masak di rumah. Sayurannya di press dan bumbunya dikemas terpisah. Abi yang sejak kemarin jadi bahan uji coba Mommy!" cerita Abi. "Kamu mau minum apa?" tanya Abi seraya mengecek isi lemari es miliknya.


"Es kopi di kedai warna ijo aja!" Wira pun duduk di ruang keluarga dan menyalakan TV.


"Enggak ada di lemari es Mommy kamu! Ada puding tuh! Kita pesan online aja ya!" Abi mengambil Hp miliknya dan memesan es kopi sesuai keinginan Wira. "Yang Hazelnutt Late?"


"Yoi! Kayak biasa aja! Sekalian pesenin yang 1 liter 2! Buat dibawa ke ruko!" ujar Wira seenaknya.


"Emang cuma nih anak yang songong sama orang tua!" gerutu Agas namun tetap saja dipesankan apa yang Wira mau.


Agas menaruh Hp miliknya dan mulai menginterogasi Wira. "Bisnis gimana?"


"Mertua kamu enggak protes kan? Enggak kecapekan gitu?!" tanya Agas.


"Enggak. Malah katanya kerja di laundry enak. Enggak capek bolak balik jemuran."


"Syukurlah! Semoga bisnis kamu tambah lancar jadi bisa membuka beberapa cabang baru!" doa Abi dengan tulus.

__ADS_1


"Modalin dong, jadi bisa buka banyak cabang! Kayak Abi dulu yang dimodalin sama Opah. Nunggu modal aku terkumpul, mau berapa lama? Keburu aku tua deh! Nanti aku balikin uangnya! Takut banget sih sama anak sendiri aja!"


"Iya! Nanti Abi lihat dulu prospek kamu bagaimana. Sebulan ini aja, kalau bisnis laundry-nya masih bagus dan rame akan Abi pikirkan untuk memodali kamu!"


"Beneran, Bi?!"


"Iya! Anggap aja kado pernikahan kamu!"


Wira tersenyum lebar lalu memeluk Abi, "Udah, jangan peluk-peluk! Gerah!"


"Wira bakalan bikin bisnis Wira maju pesat! Abi jangan khawatir! Percayakan semua sama Wira!" Wira menepuk dadanya, menyombongkan kehebatannya pada Abi.


"Iya... Iya... Terus ada alasan apalagi ke sini? Muka kamu tadi kusut gitu kayak banyak pikiran. Ada masalah? Berantem sama Dewi? Enggak betah tinggal di ruko atau takut gara-gara rukonya seram?!" tanya Abi yang masih penasaran dengan maksud kedatangan anaknya.


"Rukonya nggak serem, Bi. Mommy aja tuh yang nakut-nakutin Wira! Wira pengen bawa mobil, Bi! Wira kasihan sama Dewi. Kemarin, Dewi ketiduran di motor dan hampir aja jatuh! Meskipun Wira menukar motor Wira dengan motor Mommy, tetap aja nggak nyaman kalau Dewi ketiduran kayak kemarin. Wira boleh nggak, nyicil mobil sama Abi? Nanti uangnya, Wira bayar kalau bisnis Wira sudah mulai menguntungkan!"


Agas kini menatap anaknya dengan lekat, lalu tangannya terjulur dan memegang kening Wira. "Kamu sakit? Salah minum obat? Atau masih mabuk? Tumben banget tiba-tiba pengen nyicil mobil! Biasanya juga langsung minta! Ada angin apa? Ucapannya kayak orang udah dewasa aja!"

__ADS_1


*****


Agak pendek ya? Aku lanjut Bab berikutnya ya!


__ADS_2