Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Kacang Rebus dan Susu Jahe


__ADS_3

"Pokoknya jangan godain gue lagi! Capek gila gue seharian empat kali! Lo sih enak, pinggang gue pegel nih! Mau patah!" protes Wira setelah Dewi keluar dari kamar mandi.


Dewi tersenyum mendengar gerutuan Wira. Terlalu sering mendengar perkataan pedas dari mulut Wira membuatnya bisa mencari hal lucu di dalamnya. Seperti sekarang, baginya gerutuan Wira lebih terdengar lucu dibanding nakutin.


"Yeh malah senyam senyum. Lo lagi kenapa sih? Aneh ngajak gue main melulu seharian! Kita bisnis plus-plus itu harus pakai timing. Nyari momen yang enak. Enggak harus tiap saat main terus. Lama-lama lo kayak hyper sama gue!" oceh Wira panjang lebar.


Dewi mendekati Wira dan mencium pipi Wira. "Biar cepet lunas semua hutang aku, Pak!"


Wira menjauhkan dirinya. Takut tergoda lagi oleh Dewi. "Tuh mulai deh cium-cium lagi! Awas ya lo godain gue lagi! Pegel nih lutut gue keluar masuk terus dari tadi!"


Dewi tak kuat untuk tidak tersenyum. Kadang Wira memang selucu itu. Dewi duduk di samping Wira yang terkesan jaga jarak dengannya. "Mau aku pijitin?" tawar Dewi.


"Enggak! Nanti lo mancing- mancing gue lagi!" tolak Wira. Rasa curiga dalam diri Wira terlalu besar. Setiap godaan Dewi adalah racun yang membuatnya ketagihan dan sulit menolaknya.


Dewi tersenyum. "Enggak kok. Janji!" Dewi mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


Wira pun mempercayai perkataan Dewi. Ia membiarkan Dewi mendekat dan memijat kakinya yang terasa pegal dan lemas. Pijatan Dewi lumayan bertenaga dan terasa enak di tubuh Wira.


"Pak."


"Hm."


"Mau-"


"Enggak!" tolak Wira sebelum Dewi menyelesaikan perkataannya.


"Bapak suka gitu! Saya belum selesai bicara!" Dewi memukul kaki Wira dengan kesal.


"Habisnya lo kalo nawarin sesuatu suka menyesatkan gue!" gerutu Wira.


"Kali ini enggak! Mau enggak?!"


Wira menatap Dewi, mencari tahu kejujuran dalam dirinya. "Apa dulu?!"


"Jalan-jalan yuk, Pak! Bosen nih di apartemen terus!" ajak Dewi.

__ADS_1


"Jalan-jalan? Kemana?"


"Yang deket-deket aja. Nongkrong di cafe gitu!"


Wira mencibirkan bibirnya. "Di cafe? Lo tiap hari kerja di cafe, enggak bosen mainnya ke cafe juga?!" Wira malah menjitak kepala Dewi pelan.


"Beda Pak rasanya. Atau kita ke diskotek. Waktu itu saya cuma sebentar Pak kesana. Yuk kita dugem!" mata Dewi berbinar-binar saat ada sesuatu yang diinginkannya.


"Dugem? Wuahahahaha.... Kebanyakan gaya lo pake dugem segala! Mending lo beli susu jahe deh lebih enak dari dugem!" Wira menertawakan lelucon yang Ia buat sendiri.


"Bapak ngeselin banget ya jadi orang! Saya godain lagi nih!" ancam Dewi.


"Weits! Jangan macam-macam lo, Dew! Yaudah kalo lo mau jalan, cepetan ganti baju! Pake jaket juga. Naik motor malam-malam takut lo masuk angin nanti!" tak tega juga Wira menolak keinginan Dewi.


"Yang bener? Siap! Saya ganti baju dulu!" Dewi pun turun dari tempat tidur namun berbalik arah mendekati Wira dan.... cup... Ia mencium pipi Wira. "Buat bayaran jalan-jalan!"


"Cewek gila! Mancing orang terus ya kerjaannya!" rutuk Wira seraya memegang pipinya yang habis dicium Dewi. "Demen banget sih lo nyium gue!"


Dewi yang sedang berganti baju di depan Wira dengan cueknya melongokkan kepalanya. "Iyalah. Bapak ganteng! Enak diciumnya!"


****


"Pegangannya jangan kenceng-kenceng! Sesak juga nafas gue! Posesif banget sih lo sama gue!" omel Wira yang sedang mengendarai motor miliknya.


Dewi yang duduk di bangku penumpang tak peduli dan tidak takut akan omelan Wira. Ia tetap saja melingkarkan tangannya di pinggang Wira dan memeluknya dengan erat.


Dewi menyukai kenyamanan dan keamanan yang Ia rasakan kala memeluk rekan bisnis sekaligus suaminya tersebut. Harum parfum Wira sangat Dewi sukai. Membuatnya candu dan ingin terus menikmati harumnya.


"Masih jauh enggak, Pak?" tanya Dewi.


"Enggak. Tenang aja!" Wira pun menambah kecepatannya sampai akhirnya mereka sampai di sebuah taman dimana banyak anak muda nongkrong.


Dewi baru sekali ke taman ini. Dekorasinya bagus dan ternyata banyak anak muda yang nongkrong sambil menikmati langit malam yang begitu cerah malam ini.


"Ayo kita ke dalam!" ajak Wira.

__ADS_1


Dewi lalu melingkarkan tangannya di lengan Wira yang sudah pasrah dengan kelakuan Dewi. Mereka layaknya dua orang yang sedang berpacaran dan memadu kasih. Bukan dua orang yang terjerat pernikahan karena terpaksa.


Wira tak berusaha melepas tangan Dewi. Ia memberikan toleransi hari ini karena Dewi sudah melayaninya 4 kali dan juga memijatnya. Anggap saja bonus.


Wira berhenti di depan tukang kacang rebus dan membeli dua bungkus. Wira juga berhenti di depan tukang susu jahe.


"Kok jajannya kayak gini sih Pak? Enggak elit!" gerutu Dewi ketika Wira kembali mengajaknya mencari tempat duduk.


"Kata siapa enggak elit? Ini enak loh! Perpaduan yang mantap antara kacang rebus dan susu jahe. Ditambah udara malam yang semakin dingin. Kalo lo maksa minum es, bisa masuk angin nanti!" Wira berhenti di sebuah kursi kosong dan duduk.


Wira membuka plastik berisi kacang rebus dan mengeluarkan sebungkus kacang rebus yang dibungkus kertas bekas berbentuk kerucut. Diberikannya pada Dewi. "Nanti buang sampahnya di plastik! Jangan nyampah sembarangan!"


Wira mengambil miliknya dan mulai memakan kacang rebus dengan nikmat. Susu jahe yang Ia beli sengaja minta di gelas plastik agar mudah diminum.


Dewi mengikuti apa yang Wira lakukan. Memakan kacang rebus seraya menikmati langit malam yang bermandikan cahaya bulan dan berhiaskan jutaan bintang di langit.


"Indah ya? Begini aja udah indah banget." ujar Wira.


"Iya. Apalagi kalau Bapak traktir saya yang lebih mahal lagi. Bukan enggak bersyukur nih, Pak. Kacang rebus dan susu jahe tuh makanan sehari-hari orang susah macam saya. Enggak ada sensasi spesialnya!" keluh Dewi.


"Protes aja lo! Udah untung gue ajak jalan-jalan. Jangan jajan yang mahal terus. Gue lagi enggak punya duit. Tabungan gue sisa dikit habis bayar apartemen dan bisnis sama lo!" ketus Wira.


"Iya... iya... Jutek banget sih! Pak boleh nanya enggak?" tanya Dewi seraya meminum susu jahe hangat miliknya.


"Nanya apa?" tanya balik Wira.


"Bapak... Beneran anaknya Pak Agas kan? Kok sifatnya enggak mirip sih?! Bapaknya baik, alim, ramah, lembut dan idola anak-anak cafe. Sedangkan anaknya...."


Wira menatap Dewi dengan tajam, "Kenapa sama gue? Kurang baik? Kurang alim? Kurang ramah? Kurang lembut? Hah?!"


Dewi mengangguk, "Bukan kurang lagi Pak. Bapak tuh cuma enggak ramah, enggak alim, enggak baik dan enggak lembut. Puas?"


"Dih! Mulai berani nih anak?! Cuma lo doang yang paling songong sama gue! Udah gue tolongin, ngatain gue pula! Kalau gue enggak baik, lo enggak bakalan-"


Dewi memajukan dirinya dan mencium pipi Wira. Membuat Wira yang sedang mengomel terdiam dan menatap Dewi yang tersenyum dengan cantik. "Bapak baik cuma sama saya. Itu udah cukup."

__ADS_1


****


__ADS_2