
Dewi mengangkat wajahnya dan melihat tatapan penuh perlindungan yang Wira berikan untuknya. Ia mengangguk. Ia yakin, Wira bisa dijadikan sandaran untuknya. Wira bisa berbagi beban hidup yang Ia rasakan.
Tari sejak tadi menatap interaksi dua anak muda di depannya. Lagi-lagi Tari melihat sisi berbeda yang selama ini tak pernah Ia lihat dalam diri putranya.
Sisi penuh cinta dan kasih sayang. Bukan sayang terhadap Carmen saudaranya, melainkan sayang terhadap lawan jenis.
Tari langsung menyadari kalau anaknya mencintai Dewi. Anaknya sudah berubah dewasa dan menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab.
"Lo jangan nangis lagi! Sekarang lo bilang dulu sama orang tua lo! Bawa jaket buat lo dan bawa baju ganti buat Bahri!" perintah Wira.
Dewi pun menuruti apa yang Wira perintahkan. Ia masuk ke dalam untuk perpamitan dengan kedua orang tuanya.
Ibu masih terbaring di tempat tidur dengan lemas. Kedua matanya bengkak karena terus menangisi Bahri yang bernasib malang sampai tertangkap polisi.
Bapak yang terus-menerus merasa dirinya gagal sebagai seorang kepala keluarga, hanya bisa menunduk sambil terus memijat kaki istrinya. Hanya itu yang bisa Bapak lakukan. Ia tak bisa ke kantor polisi tanpa membawa 'sesuatu'.
"Pak, Bu. Dewi mau ke kantor polisi dulu sama Pak Wira. Doakan agar Pak Wira bisa membebaskan Bahri ya Pak, Bu." pamit Dewi.
Ibu pun mencoba untuk duduk. "Ibu mau bicara sama Nak Wira." ujar Ibu.
"Tak perlu, Bu. Di depan ada Bu Tari, orang tuanya Pak Wira. Ibu juga masih lemah." tolak Dewi.
Namun Ibu tetap bersikeras ingin menemui Wira dan Tari. "Ibu harus bertemu Nak Wira. Bantu Ibu ke depan, Wi!"
Dewi pun menggandeng Ibunya yang masih lemah. Dengan langkah agak diseret, Ibu pun menemui Wira dan Tari.
Tak disangka-sangka, Ibu malah bersimpuh di kaki Wira sambil menangis. "Nak Wira, Ibu mohon bantuan Nak Wira. Tolong bantu lepaskan Bahri. Hanya Nak Wira yang bisa Ibu mintakan tolong. Ibu mohon, Nak!"
__ADS_1
"Bu, jangan seperti ini! Ibu bangun dulu!" ujar Wira yang tak mau menerima perlakuan Ibunya Dewi.
"Wira pasti akan berusaha membebaskan anak Ibu. Ibu tenanglah dulu!" akhirnya Tari buka suara. Ia jadi tak tega melihat apa yang terjadi dengan keluarga Dewi. Ia merasa melihat dirinya di masa lalu.
Wira seperti Agas dalam hidupnya. Hanya Agas seorang yang bisa menolongnya. Mungkin itu pula arti Wira dalam hidup keluarga Dewi. Sang dewa penolong.
"Tolong bantu keluarga saya, Bu. Saya mohon!" kini Ibu malah menggenggam tangan Tari dengan erat. Sorot matanya benar-benar putus asa. "Saya akan melakukan apa saja untuk membalas semua kebaikan Ibu dan Nak Wira!"
Hati Tari terenyuh. Ia juga seorang Ibu yang memiliki anak lelaki. Ia bisa merasakan betapa hancur hati Ibunya Dewi saat putranya ditangkap. Ia pasti akan merasakan hal yang sama kalau Wira ada di posisi tersebut.
"Kami akan berusaha membebaskan anak Ibu." ujar Tari dengan suara yang lembut dan menenangkan. Tari bahkan menghapus air mata di wajah Ibunya Dewi. "Ibu doakan saja semoga kami berdua berhasil. Karena usaha kami juga akan sia-sia tanpa doa dari Ibu. Saya mengerti bagaimana perasaan Ibu saat ini. Saya juga punya putra yang sangat saya sayangi. Saya pun tak mau terjadi apa-apa dengan putra saya. Ibu tenang dulu dan teruslah berdoa. Ibu shalat dan doakan semoga usaha yang saya dan anak saya lakukan berhasil. Kami akan berusaha membawa pulang Bahri secepatnya!"
Ibunya Dewi kini lebih tenang setelah mendengar perkataan dari Tari. Ia yakin Wira dan Tari akan berhasil membawa pulang putranya.
Tari, Wira dan Dewi pun pamit. Mereka lalu pergi ke kantor polisi tempat Bahri ditahan.
Terpaksa Wira yang mencairkan suasana. Hubungan Tari dan Dewi harus Wira perbaiki. Wira juga punya andil dalam masalah ini.
"My, ini Dewi. Istri Wira. Mommy pasti udah tahu kan? Wira cuma mau memperkenalkan Dewi pada Mommy secara langsung." ujar Wira.
"Iya. Mommy sudah tahu. Mommy nggak mau membahas tentang hubungan kalian sekarang. Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan. Membebaskan adiknya Dewi. Masalah kalian, akan Mommy bahas nanti!" kata Tari dengan tegas.
Dewi menahan nafas mendengarnya. Ia tahu, masalah dirinya dan Wira sedang ditunda. Ada hal lain yang lebih penting saat ini. Membebaskan Bahri.
"Iya, My." Wira juga menyerah. Ia tahu akan ada waktu dirinya dieksekusi oleh Mommy nanti.
Suasana pun kembali hening. Wira bahkan tak berani menyalakan musik dari radio miliknya.
__ADS_1
Mereka pun sampai di kantor polisi. Wira memarkirkan mobilnya lalu mereka bertiga memasuki kantor polisi.
Wira menyebutkan kalau dirinya adalah perwakilan keluarga Bahri. Proses pembebasan Bahri lumayan lama. Wira sampai tak bisa menahan emosinya.
Tari tahu putranya belum sedewasa itu dalam bertindak. Ia sudah meminta pengacaranya datang. Langkah antisipasi yang Ia tahu sangat dibutuhkan.
Pengacara Tari pun datang, Ia yang mengurus semuanya. Bahri bisa dibebaskan karena statusnya masih di bawah umur. Belum genap 17 tahun.
Tak perlu heran. Bahri memang anak cerdas. Ia sudah masuk sekolah sebelum usianya menginjak 7 tahun. Wajar kalau Ia lulus SMA sebelum usianya 17 tahun.
Yang memperingan adalah Bahri saat di tes ternyata negatif narkoba. Ia hanya anak muda polos yang diperdaya oleh bandar narkoba untuk mengantarnya kemana pun ada orderan masuk.
Pengacara Tari yang mengurus semuanya. Wira hanya mendampingi. Wira sadar, tanpa bantuan Mommy-nya, Ia pasti gagal membawa pulang Bahri.
Akhirnya Bahri bisa pulang. Dewi menangis haru sambil memeluk adiknya yang terlihat sangat menyesal atas kebodohannya.
"Maafin Bahri, Kak! Maafin kebodohan Bahri!" ujar Bahri penuh penyesalan. Air mata tak kuasa Ia bendung. Ia menangis di pelukan Kakaknya.
Niat baik Bahri ingin menolong Kakaknya malah berujung sial. Ia malah membuat Kakaknya makin kesusahan. Bahkan uang yang sudah Ia kumpulkan dengan susah payah menjadi barang bukti. Sia-sia semua usahanya selama ini.
Dewi tak mau menyalahkan adiknya. Sudah cukup adiknya menyalahkan dirinya sendiri. Dewi tau apa yang Bahri lakukan semata-mata demi dirinya. Bahri hanya ingin membantunya membayar hutang. Sayang, karena tergiur uang banyak Bahri tak berpikir panjang dan menerima tawaran yang malah menjerumuskannya.
"Maafin Bahri, Kak! Bahri memang adik yang tak berguna! Maafin Bahri, Kak!"
Dewi tak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk Bahri dengan erat. "Jangan bilang begitu, Dek. Kamu enggak salah. Kakak yang tak bisa melindungi kamu!"
****
__ADS_1