
Zaki pun menuruti keinginan Carmen untuk berjalan-jalan di mall. Zaky bahkan membelikan tas yang Carmen suka tanpa pikir panjang.
Mommy Tari dan Dewi mengikuti ke mana Zaki dan Carmen pergi. Tari sengaja mengajak Dewi ikut serta agar bisa menghibur suasana hatinya yang masih marah terhadap Wira dan tak mau berbicara dengan Wira.
"Kamu mau beli baju nggak, Wi? Nanti baju-baju kamu akan tidak mual karena perut kamu yang mulai membesar. Mau membelinya dari sekarang tidak? Mumpung kita lagi jalan-jalan di mall!" tanya Mommy Tari.
"Nggak usah, My. Terima kasih banyak, Dewi akan beli sendiri kalau memang baju-baju milik Dewi sudah tidak muat lagi." tolak Dewi dengan sopan.
"Kok kamu nolak apa yang Mommy mau belikan sih, Wi? Nanti Mommy kecewa loh! Please, kita beli ya mumpung di sini!" bujuk Mommy Tari.
Dewi tak mau mengecewakan mertuanya yang baik hati tersebut. Akhirnya Dewi menerima kebaikan hati Mommy Tari yang berniat membelikannya baju yang cocok digunakan untuk ibu hamil. Baju dengan model Baby Doll pun dibelikan oleh Tari.
"Kita beli sandalnya juga ya! Sandal yang nyaman untuk kamu kenakan di dalam dan di luar rumah. Pasti kamu butuh itu!"
"Mommy udah beliin aku baju, My. Ini saja sudah banyak banget nih! Nggak perlu Mommy mengeluarkan uang banyak lagi!" tolak Dewi yang merasa tak enak dengan kebaikan mama mertuanya.
"Enggak apa-apa! Selama ini Mommy belum memberi banyak untuk kamu. Anggap saja, Mommy lagi traktir kamu. Kamu pilih aja mau apa lagi nanti Mommy yang bayarin!"
"Kok Carmen enggak dibeliin sih, My? Carmen kan juga anak Mommy!" protes Carmen.
"Kamu tuh udah sering Mommy beliin! Menantu Mommy ini yang belum pernah Mommy beliin! Pokoknya, hari ini Mommy mau mentraktir Dewi sampai puas. Kamu minta saja sana sama Zaky!"
__ADS_1
"Mas Zaki! Mommy tuh! Masa sih sama aku aja pelit! Kak Zaky aja yang beliin aku lagi ya?!" Carmen pun merengek pada Zaky yang tertawa melihat saudara sepupunya tersebut kalah saing.
"Nggak! Kamu udah aku beliin! Nanti saja, kalau kamu bisa kasih nilai IPK kamu cumlaude, aku janji akan aku traktir lagi!" janji Zaky.
"Benar ya, Mas? Aku akan belajar serius mulai sekarang! Awas aja kalau Mas Zaky bohong sama aku!"
Zaky tersenyum seraya mengacak-acak rambut Carmen. Ia memang sangat menyayangi Carmen layaknya adik sendiri. Begitulah tak enaknya menjadi anak tunggal. Tak ada teman berbagi. Mau bagaimana lagi, Mama Tara sudah berusaha memberinya adik, namun apa daya ternyata Allah berkehendak lain.
"Mas Zaky itu baik banget ya, My?" komentar Dewi.
"Iya. Zaky itu sejak dulu sayang banget sama Carmen. Apapun yang Carmen minta, pasti akan Zaky beri. Bahkan, saking dekatnya mereka kadang ada yang mengira kalau mereka berpacaran. Padahal mereka hanya saudara sepupu saja!" jawab Mommy.
"Beruntung ya jadi Carmen, ada dua kakak yang sangat menyayanginya!"
"Maafin aku ya, My. Aku sudah tidak bersyukur dengan apa yang aku miliki."
Tari tersenyum mendengar ucapan Dewi. "Oh... Mommy tidak menghakimi kamu, Sayang. Mommy hanya mengajarkan kamu nilai-nilai kehidupan. Kamu dan Wira masih terlalu muda untuk berumah tangga. Pemikiran kalian masih penuh emosional dan labil. Harus ada seseorang yang mengalah, kalau tidak pernikahan kalian akan tinggal kenangan saja."
Tari pun mulai berbicara serius dengan Dewi karena menganggap masalah antara dirinya dengan Wira sudah terlalu berlarut-larut. "Kenapa kamu masih marah dengan Wira? Bukankah kamu bilang sama Mommy waktu itu kalau kamu akan berusaha lebih sabar?"
Dewi menundukkan wajahnya. "Maafin aku, My."
__ADS_1
"Oh tidak, Mommy tidak mau kamu minta maaf sama Mommy. Mommy cuma mau nanya kenapa kamu masih marah dengan Wira? Mommy nggak akan menghakimi kamu! Justru Mommy nanya tujuannya adalah agar kamu bisa lebih terbuka dan mengatakan isi hati kamu."
Carmen dan Zaky lalu pamit karena mereka akan pergi nonton. Tari dan Dewi memilih untuk nongkrong di sebuah restoran karena ada hal penting yang akan mereka bicarakan. Tentunya tentang pernikahan Wira dan Dewi yang sekarang sedang bermasalah.
"Kita bicara sambil makan ya! Pasti, cucu Mommy sudah lapar deh!" Tari lalu memesankan menu kesukaan Dewi, capcay.
Dewi benar-benar menyukai capcay semenjak hamil. Hanya capcay yang tidak membuatnya merasa mual dan muntah. Tari sudah paham itu, ia Lalu memesankan menu capcay khusus untuk Dewi.
"Sekarang kamu bisa cerita sama Mommy apa yang membuat kamu masih marah dengan Wira?" tanya Mommy setelah pelayan yang mencatat makanan yang hendak mereka pesan telah pergi.
"Sejujurnya Dewi marah banget sama Wira, My. Dewi udah berusaha mengikuti perkataan Mommy tapi enggak bisa. Dewi menganggap, Wira itu nggak mau menerima anak dalam kandungan Dewi."
"Bukankah Mommy sudah bilang, Wira itu hanya terkejut bukan tidak mau menerima?!"
"Iya, Dewi tahu. Namun Dewi masih nggak percaya. Bukan Dewi nggak percaya omongan Mommy maksudnya, Dewi nggak percaya dengan alasan yang Wira berikan. Kenapa juga Wira harus terkejut? Wira seakan tidak menyukai kehadiran bayi ini. Padahal, bayi ini adalah bukti cinta kami berdua. Apakah ia harus bersikap seperti itu dan seakan menolak Dewi yang berasal dari keluarga susah?! Apakah Wira malu punya anak dari istri yang berasal dari keluarga miskin?!"
Tari mendengar alasan Dewi begitu terkejut. "Kamu salah, Wi! Anak Mommy nggak seperti itu! Mommy sangat kenal Wira, meskipun ucapannya pedas, namun Ia nggak pernah meremehkan dan merendahkan orang yang strata sosialnya jauh di bawah kami. Ia tak pernah memandang hal tersebut. Ia mau berteman dengan siapa aja kok, sayangnya tak semua orang bisa menerima sikapnya yang terkadang suka ketus dan berkata pedas,"
"Selain itu Wira nggak pernah mempermasalahkan orang itu kaya atau miskin. Rupanya kamu belum kenal anak Mommy lebih dalam. Apa pernah Wira merasa jijik saat berada di rumah kamu? Enggak pernah setahu Mommy! Ia malah terkadang iba, dan ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kamu. Janganlah kamu berpikir seperti itu! Kamu sudah berburuk sangka dengan suami kamu sendiri. Dosa loh, Wi!"
****
__ADS_1
Ada yang mau ikut jalan-jalan ke Mall enggak? yuk ikut, tapi vote dulu ya 😁😁😁