
"Cepetan!" desak Dewi.
"Tapi aku malu!" jawab Wira sambil menutup wajahnya.
"Aku janji enggak akan ketawain kamu!" ujar Dewi meyakinkan Wira.
"Bener?"
"Iya. Cepetan!"
"Oke! Ehem!" Wira berdehem untuk menstabilkan suaranya.
Wira mengusap wajah Dewi dengan jari telunjuknya dengan penuh kelembutan. "Aku selalu mengucap syukur sama Allah."
Dewi diam.
"Tanya dong, kenapa kamu mengucap syukur!" protes Wira.
"Oh gitu. Jadi aku harus nanya ya?" tanya Dewi baru mengerti peraturannya.
"Iya. Biar ada tek tokannya!"
"Oke... oke... Aku tanya nih, memang kenapa kamu harus mengucap syukur?" tanya Dewi.
"Karena... Allah menciptakan kamu ketika Allah sedang tersenyum."
Dewi mengernyitkan keningnya. "Kok bisa? Memangnya kamu tau Allah menciptakan aku saat tersenyum atau cemberut?" protes Dewi.
"Tau dong!" jawab Wira, meski agak sebal karena Dewi memprotes gombalannya. "Karena hasilnya kamu sangat cantik."
"Oh... Gitu..." jawab Dewi sambil mengangguk.
"Oh gitu doang? Itu gombalan aku loh, Wi! Ah kamu mah enggak peka! Aku tuh susah payah tau merangkai kata!" ujar Wira seraya memanyunkan bibirnya.
"Jadi kamu ngegombalnya kayak gitu? Maaf... Maaf. Aku beneran enggak peka ya? Jangan ngambek dong! Aku beneran enggak tau kalau digombalin harus apa. Aku selama ini cuma cuekkin aja kalau ada cowok yang gombalin aku. Jadi aku harus apa dong?" tanya Dewi yang panik Wira akan marah.
"Oh jadi banyak ya yang gombalin kamu? Terus aku juga dicuekkin kayak yang gombalin kamu yang lain?" cibir Wira.
"Bukan! Bukan begitu! Aduh gimana ya ngomongnya? Aku bingung nih! Intinya, aku suka digombalin kamu! Atau gini... Kalau aku diciptakan Allah saat sedang tersenyum, berarti kamu diciptakan Allah saat sedang mengantuk!"
__ADS_1
"Kok mengantuk?" tanya Wira bingung.
"Iya. Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi karena Allah menciptakan kamu saat lagi ngantuk, jadilah kamu yang begitu sempurnanya di mataku. Ganteng, baik, penyayang, dan kuat. Sempurna bukan?"
Wira mengganti cemberut di wajahnya dengan senyum lebar. "Pinter banget sih gombalnya! Aku kalah!" Wira memajukan dirinya dan mencium bibir Dewi pelan. "Makasih ya Sayang!"
Dewi tersenyum lega. Suaminya tak jadi marah. Itu saja sudah cukup. Dewi pun membalas ciuman Wira. "Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu! Kamu membuat hidupku semakin sempurna."
"Oh ya?" Wira kembali mencium bibir Dewi. "Kamu juga sudah menyempurnakan hidup aku!"
"Ah... Jadi pengen..."
"Pengen apa? Pengen meong meong?" goda Wira.
Dewi menggelengkan kepalanya. "Pengen... makan capcay. Kayaknya enak deh. Perut aku tiba-tiba lapar nih!"
Wira memanyunkan bibirnya. "Capcay ya? Oke. Aku buatkan!" Wira menjauhkan dirinya dari Dewi dan turun dari tempat tidur lalu berjalan ke dapur.
"Buatin? Memang kamu bisa?" tanya Dewi tak percaya.
"Bisa dong!" Wira lalu mengeluarkan produk baru yang diproduksi oleh pabrik Mommynya. "Mommy kasih aku ini! Katanya cukup cuci sayuran dan rebus lalu tuang bumbu. Mudah bukan?"
"Wow?! Produk baru lagi?" tanya Dewi penasaran dan melihat lemari es miliknya penuh dengan makanan yang dibawakan mertuanya.
Wira memasak capcay sesuai petunjuk yang ada di kemasan lalu menghidangkannya di atas piring. "Silahkan Tuan Putri!" ujar Wira.
"Terima kasih Pangeranku tercinta!" Dewi tak sabar untuk mencoba masakan suaminya dan berakhir kepanasan.
"Sabar dong, Sayang. Masih panas!" Wira menyalakan kipas angin dan mengangin-anginkan capcay buatannya agar lebih dingin. "Nah sekarang bisa kamu makan!"
Dewi kembali memakan capcay buatan Wira. "Enak! Aku doyan banget ini!"
"Iya dong! Dibuatnya dengan ramuan cinta. Habiskan ya! Aku mau ke bawah, bantu Ibu tutup laundry dulu!" ujar Wira.
Wira pun ke bawah dan Ibu Sari nampak sudah selesai bekerja. "Bagaimana Bu hari ini?"
Wira membantu membereskan bed cover yang sudah rapi dan memasukkan ke dalam plastik lalu divakum agar tidak memakan banyak tempat. Menatanya di lemari pakaian yang sudah siap diambil pelanggan.
"Alhamdulillah. Masih tetap ramai dan masih bisa Ibu handle. Hebat loh Nak Wira ini. Memang ya kalau bakat bisnis dari keluarga pasti akan menurun. Nak Wira juga didukung modal dari orang tuanya. Pasti lebih mudah dalam membuat usaha." ujar Bu Sari tanpa tahu keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku... Modal sendiri, Bu." ujar Wira yang membuat Bu Sari langsung terdiam.
"Bukan dimodalin sama Pak Agas dan Bu Tari? Pak Wira kan anaknya, anak lelaki pertama malah. Biasanya orang tua memodali anaknya loh!"
Wira bersyukur dalam hati, Dewi sifatnya lebih mirip Bapak dibanding Bu Sari. Hanya wajahnya saja mirip dengan Bu Sari.
"Orang tua aku tidak seperti itu, Bu. Mereka mendidik aku hidup mandiri. Usaha laundry ini modalnya dari uang tabungan aku selama bekerja di cafe dan showroom. Kalau sewa ruko, uangnya dari menyewakan apartemen milik aku, Bu. Benar-benar modal sendiri. Ibu bisa tanya sama Dewi."
"Oh... Ibu enggak tau. Maaf ya Nak Wira. Malah Ibu lebih bangga kamu memodali sendiri usaha kamu. Puas dengan hasilnya!" ujar Ibu Sari meralat ucapannya.
Wira tersenyum. "Doakan saja ya, Bu."
"Tentu. Ibu selalu mendoakan keberhasilan Nak Wira. Nak Wira banyak membantu keluarga Ibu. Kalau tak ada Nak Wira, entah bagaimana nasib keluarga Ibu."
Wira mengusap bahu mertuanya, memberi sedikit dukungan. "In sha Allah keluarga Ibu akan baik-baik saja. Ibu beruntung punya Dewi yang begitu bertanggung jawab dengan keluarganya. Dewi yang membuka hati aku untuk membantu keluarga Ibu. Tetap doakan aku dan Dewi ya, Bu!"
"Aamiin! Ibu akan doakan. Oh iya, terima kasih banyak ya Nak Wira mukenanya. Bagus sekali. Akan Ibu pakai untuk sholat. Ratna juga suka mukenanya. Bapak dan Bahri juga suka dengan kain sarungnya. Ibu beruntung punya menantu sebaik Nak Wira." puji Ibu Sari dengan tulus.
"Aku juga beruntung menikahi Dewi, Bu. Wanita baik yang begitu menyayangi keluarganya. Dewi sudah mengajarkan aku banyak hal." Wira melihat jam dindingnya, "Sudah malam, Bu. Pasti Ibu lelah seharian bekerja."
"Iya. Ibu pulang dulu ya Nak! Assalamualaikum!" pamit Bu Sari.
"Waalaikumsalam!" Wira menutup ruko seperti biasanya. Ditatapnya rak lemari berisi pakaian yang sudah rapi. Senyum Wira mengembang.
"Sebentar lagi, akan ada banyak usaha laundry milikku yang bisa membuka banyak pekerjaan untuk orang lain." ucap Wira pelan.
"Aamiin." ujar Dewi yang datang dan memeluk Wira dari belakang.
"Loh? Kamu udah selesai makannya?" tanya Wira.
"Udah. Bosan di atas sendirian." jawab Dewi yang masih memeluk punggung Wira.
"Wi."
"Hem."
"Kamu berhenti bekerja saja ya!"
Dewi terkejut dengan permintaan Wira. "Kenapa?"
__ADS_1
Wir berbalik badan dan menatap wajah Dewi lekat. "Bantu aku merintis usaha. Kamu akan menjadi pendorongku dalam membuka usaha. Aku yakin, doa kamu pasti akan dikabulkan Allah."
****