Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Uang Jajan


__ADS_3

"Hua... ha... ha... ha... " Dewi menertawakan Wira yang sudah bersiap untuk menerima ciuman darinya namun tak kunjung datang. Jelas saja tak datang, Dewi hanya mengerjai suaminya saja!


Wira membuka matanya dan sebal sudah dikerjai Dewi. Antara malu dan kesal jadi satu. "Rese lo ya! Awas aja lo nanti gue bales!" ancam Wira yang mengipasi tangannya ke arah mukanya yang memerah.


"Ih ngambek!" ledek Dewi.


"Nyebelin lo tau enggak! Ngerjain gue terus seharian! Awas aja! Pokoknya besok lo seharian jadi babu gue! Gue mau lo masak buat gue, pijitin gue, bacain gue cerita dan ngelakuin apa yang gue suruh!"


"Kok gitu sih balesnya?! Curang ih Bapak mah! Gini loh, kalo mukul balesnya mukul. Kalo nyubit balasnya juga nyubit. Nah saya kan ngerjain Bapak, jadi ya Bapak balas kerjain balik juga dong. Tapi inget, saya ngerjainnya enggak parah. Bapak jangan ngerjain yang parah. Itu baru namanya adil!"


"Nego lagi lo! Udah ayo pulang! Udah malam nih! Ngantuk gue!" Wira pun mengambil helm dan naik ke atas motor sportnya.


Dewi mengikuti apa yang Wira lakukan. Duduk di belakang seraya memeluk pinggang Wira dengan erat. Wira pun mengemudikan motornya dengan ngebut, membuat Dewi makin erat memeluknya.


Senyum di wajah Wira mengembang, ia senang bisa membalas Dewi yang sejak tadi mengerjainya. Benar kata Dewi, mukul dibalas mukul. Jahil dibalas jahil.


****


Rasanya belum lama Dewi tertidur. Masih mengantuk dan ingin tidur lebih lama lagi. Apalagi ada lengan kekar yang memeluknya, memberikan rasa nyaman yang selalu ingin terus Dewi rasakan.


Namun suara dering Hp milik Wira terpaksa membuatnya membuka mata. Dewi ingin mengangkatnya namun takut Wira bertambah marah.


Dewi pun melepaskan pelukan Wira dan mengambil Hp yang berada di atas nakas di samping Wira. Dibacanya nama yang tertera di Hp. Mommy Tari.


"Pak! Bangun! Ibu Tari telepon!" ujar Dewi seraya mengguncang-guncangkan tubuh Wira.

__ADS_1


"Apa sih? Gue masih ngantuk!" omel Wira yang malah berbalik badan.


"Ini Mommy-nya Bapak telepon! Mau saya angkat?!" ancam Dewi.


Mendengar ancaman Dewi membuat Wira jadi segar dan duduk tegak. "Awas aja kalo lo berani!" ancam Wira. Direbutnya Hp dari tangan Dewi dan mengangkat telepon dari Mommy-nya tersayang.


"Assalamualaikum, My." jawab Wira. Dewi mencibirkan bibirnya mendengar Wira mengucap salam dengan sopan. Selama ini boro-boro Wira sopan seperti itu padanya.


"Iya, My. Baru bangun. Maaf aku kesiangan. Semalam pulang udah hampir pagi." jawab Wira dengan jujur.


"Makanan? Masih ada kok. Wira nanti belanja di supermarket. Mommy enggak usah kirim lagi, yang kemarin masih banyak My."


"Iya. Nanti Wira pulang. Mommy tenang aja. Hah? Uang? Kalo itu udah tiris My. Mommy tau kan, tabungan Wira habis gara-gara beli apartemen. Mommy mau transfer Wira? Dengan senang hati Wira terima, My."


Dewi geleng-geleng kepala mendengar percakapan Wira. Gayanya saja bak bos hebat, tapi masih anak mami.


Wajah Wira berseri-seri manakala mengecek mobile banking miliknya dan ada saldo lima puluh juta yang masuk. "Wow! Yess! Mommy memang paling baik!" Wira tersenyum senang mengetahui saldo rekeningnya kembali bertambah.


"Senang bener?! Baru dapat uang ya? Enak ya jadi orang kaya, tinggal minta sama orang tua lalu sim salabim langsung ada transferan masuk. Kalau orang susah macam saya, harus jual kesucian atau jual ginjal dulu baru dapat uang banyak!" sindir Dewi yang iri dengan keberuntungan yang Wira miliki.


"Nyindir? Enggak senang gue punya duit? Jangan begitu jadi orang! Terlahir miskin atau kaya sama aja. Lo coba pikir, kalo gue enggak punya duit, siapa yang bakal nolongin lo? Om-om senang di diskotek waktu itu? Yakin enggak bakalan ditipu lo sama dia? Seharusnya lo bersyukur kalo gue punya duit. Setidaknya gue bisa kasih lo uang jajan. Lumayanlah buat beli cilok di depan SD Inpres!" balas Wira dengan santainya.


Dewi tertegun mendengar perkataan Wira. Benar yang Ia katakan. Kalau Wira tak punya uang, siapa yang menolongnya?


"Maafin saya, Pak. Saya udah seenaknya aja kalau bicara." kata Dewi penuh penyesalan.

__ADS_1


"It's okey. Nevermind. Gue sedikit banyak bisa merasakan penderitaan lo. Tanggung jawab lo berat, semua harus lo yang pikul. Jujur gue enggak suka kalau lo iri sama gue yang menurut lo lebih beruntung. Gue punya uang juga karena gue kerja keras. Lo enggak tau kan bagaimana gue mengaudit laporan cafe dan showroom sampai pulang pagi dan begadang? Apa yang gue dapat ya karena gue kerja keras. Meski gue anak orang kaya, tetap saja kedua orang tua gue enggak mau anaknya jadi anak manja yang tinggal minta duit saja. Mommy gue transfer barusan juga karena gue habis audit beberapa cafe miliknya. Kayak habis bayar jasa audit eksternal aja."


Wira mengambil dompet miliknya dan mengeluarkan uang seratus ribuan lima lembar. Ia lalu memberikannya pada Dewi. "Nih! Ajak keluarga lo makan ayam bakar. Cukup uang segini. Nanti kalo gue dapet job dari Mommy dan Abi, lo gue kasih lagi!"


Dewi diam dan menatap Wira tak percaya. Anak bangor yang kalo ngomong suka menyakitkan hati ternyata tak seburuk yang Ia pikir. Dewi sudah salah mengenalnya.


"Lo pulang dulu hari ini. Gue takut Mommy gue sidak stok makanan. Momny gue bukan orang yang gampang percaya saat gue bilang stok makanan masih banyak. Daripada lo ketahuan mending lo pulang dulu!"


Dewi menerima uang yang Wira berikan. "Iya. Makasih banyak Pak. Saya nanti pulang ke rumah."


"Yaudah. Gue mau mandi. Lo mau bareng enggak sampai dekat gang rumah lo?" tanya Wira.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Pak. Saya naik angkot aja. Bapak mau sarapan apa? Saya buatin sekarang."


"Hmm... apa ya? Nasi goreng cabe ijo bisa enggak? Kemarin gue makan di restoran enak."


"Bisa dong! Dewi gitu loh! Bikin sate ayam aja aku jago! Bapak mandi aja, nanti selesai mandi udah siap semua!" kata Dewi dengan penuh semangat.


"Baguslah! Bikin agak banyakkan ya! Gue laper berat nih!"


"Siap, bos!"


Dewi pun segera ke dapur Wira. Ia mencari bahan membuat nasi goreng cabe hijau dengan ayam cincang sebagai isian. Dewi begitu bersemangat membuatkan Wira sarapan. Apalagi Wira sudah baik memberinya uang jajan hari ini.


Ternyata masakan Dewi cocok di lidah Wira. Ia memuji enaknya nasi goreng buatan Dewi dan memakannya dengan lahap. Dewi tersenyum senang.

__ADS_1


Dewi mengantar Wira pergi bekerja dan akan meninggalkan apartemen Wira setelah Ia rapihkan. Bak seorang istri sesungguhnya Ia menatap Wira sampai punggungnya tak lagi terlihat.


****


__ADS_2