Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Ratna


__ADS_3

Tak ada perasaan khawatir dan tak enak dalam diri Wira. Ia asyik berada di Bandung mengendarai mobil milik Tari menuju rumah Tantenya Dewi yang merawat Ratna, adik kandung Dewi.


Wira memberhentikan mobilnya di sebuah rumah yang terletak di salah satu perumahan sederhana yang terkesan asri dan sejuk tentunya. Dewi meminta Wira berhenti di rumah yang terletak di paling pojok, dimana ada sebuah motor terparkir di depannya. Wira pun menurut. Ia ikut turun bersama Dewi menuju rumah Tantenya.


"Assalamualaikum!" Ujar Dewi.


"Waalaikumsalam!" jawab seorang gadis remaja yang membukakan pintu dan tersenyum cerah melihat kedatangan Dewi. "Kak Dewi! Kakak akhirnya datang juga!"


Gadis remaja tersebut bernama Ratna. Penampilannya sederhana dan sopan. Rambutnya panjang sebahu. Ia memakai rok panjang dan baju tangan panjang.


Ratna menyambut kedatangan Dewi dengan senyuman terbaiknya. Ratna sangat menyayangi Dewi karena tahu Kakaknya tersebut adalah tulang punggung keluarga yang punya banyak jasa dalam hidupnya. Ratna mengulurkan tangannya untuk salim lalu memeluk Dewi dengan erat.


Ratna sangat merindukan kakak tersayangnya. Ia ingin berada di dekat Kakaknya sesering mungkin namun apa daya, untuk pulang ke Jakarta membutuhkan ongkos dan Ratna tak berani meminta pada Tantenya.


"Siapa, Na?" seorang perempuan yang sedang hamil besar keluar dari dalam rumah. "Dewi? Udah sampai? Sama siapa ke sini? "


Pertanyaan Tante langsung terjawab manakala melihat seorang pemuda tampan yang berdiri di belakang Dewi. Ia menatap penuh tanda tanya dan ingin mencari tahu siapa cowok tampan yang terlihat dari wajahnya adalah anak orang kaya.


Dewi lalu salim pada Tantenya dan memperkenalkan Wira. "Ini bos Dewi, Tante. Tadi Dewi habis bantuin Bos Dewi audit, sekalian jemput Ratna."


"Wira!" Wira memperkenalkan dirinya sambil berjabat tangan dengan Tante.


Dewi lalu menyuruh adiknya Ratna untuk bersalaman dengan Wira juga. "Dek, kamu salim!" perintah Dewi.


Ratna pun menurut. Ia lalu mendekati Wira dan mengulurkan tangannya untuk salim. Wira membalas uluran tangan Ratna sambil tersenyum hangat.


"Ayo masuk dulu! Jangan ngobrol di depan rumah!" ajak Tante.


Dewi dan Wira lalu ikut masuk ke dalam rumah. Ratna berinisiatif pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk Kakak dan temannya.


"Dewi beneran mau bawa Ratna? Tante sih nggak apa-apa. Malah Tante senang saat tahu Dewi mau ngajak Ratna pulang ke Jakarta. Kebetulan, Ratna sudah memilih bersekolah SMA di Jakarta. Dewi tahu kan, Tante sebentar lagi melahirkan. Enggak bisa mengurus Ratna karena sibuk dengan bayi Tante." perkataan basa-basi padahal Tante sangat senang saat tau Ratna akan Dewi bawa pulang.


"Iya, Tante. Ratna sudah lama diasuh Tante. Terima kasih banyak atas jasa Tante. Kini Ratna sudah besar. Ratna nanti bisa membantu Ibu di rumah, sekalian menjaga Bapak. Memang sudah lama Bapak meminta Ratna pulang, apa daya baru sekarang Dewi bisa mengajak pulang." ujar Dewi.


Ratna keluar membawakan minuman dan pisang goreng untuk Dewi dan Wira. Ia lalu duduk di samping Tante dan ikut mendengarkan percakapan mereka.

__ADS_1


"Kamu enggak apa-apa kan, Na? Tante bukan enggak mau ngurus kamu. Tante hanya tak mau kamu jadi dinomorduakan." ujar Tante memberi alasan.


Ratna mengangguk. "Ratna senang bisa kumpul lagi sama Bapak dan Ibu, Tante. Terima kasih banyak untuk semua yang Tante berikan selama ini."


Wira melihat jam tangannya, seakan memberi kode pada Dewi kalau Ia tak mau berlama-lama di tempat ini.


"Dek, udah beresin barang-barang kamu belum?" tanya Dewi.


"Udah, Kak." jawab Ratna.


"Yaudah ayo kita pulang. Pak Wira masih ada kesibukan lain. Kakak kan cuma numpang saja sama Pak Wira." bohong Dewi.


"Iya, Kak." Ratna lalu masuk ke dalam kamar dan keluar dengan membawa barang bawaannya. Hanya sebuah koper kecil.


"Tante, Dewi langsung pulang ya. Maaf enggak bisa lama-lama. Terima kasih banyak sudah merawat Ratna selama ini. Semoga Tante lahirannya lancar ya, aamiin." ujar Dewi seraya memberikan sebuah amplop berisi uang lima ratus ribu rupiah pemberian Wira. "Buat beli perlengkapan dedek bayi, Tan."


"Ya ampun Dewi jadi merepotkan kamu! Nggak usah sebenarnya! Kamu doain saja Tante sudah senang." apa yang diucapkan oleh Tante berbeda dengan mimik wajahnya yang terlihat sangat senang menerima uang dari Dewi.


Dewi meminum minuman yang Ratna buatkan. "Dewi enggak bisa lama-lama ya Tante, kita langsung pulang ke Jakarta. Salam buat Om, Tante. Dewi pamit dulu!"


"Cepet banget, Wi. Enggak mau makan dulu?" tanya Tante.


Dewi mulai berjalan keluar pintu, diikuti Wira, Ratna dan Tante. "Makasih, Tante. Tapi kerjaan Pak Wira masih banyak."


"Oh ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya!" pesan Tante.


Wira membukakan pintu untuk Dewi dan Ratna.


"Iya, Tante. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Wira pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Tante. Nampak Tante melambaikan tangan sambil tersenyum palsu.


"Huh, bohong terus! Ngajakkin Kak Dewi makan padahal di rumah enggak masak!" cibir Ratna.

__ADS_1


"Udah Dek jangan kayak gitu! Biar bagaimanapun Tante sudah merawat kamu!" kata Dewi dengan bijak.


"Bukan ngerawat sih, Kak. Di rumah juga Ratna yang kerjain kerjaan rumah. Tante sejak hamil jadi tambah malas. Nyuruh terus. Untung Kakak ngajak pulang!" masih saja Ratna menggerutu.


Wira mendengarkan percakapan adik dan kakak di dalam mobil dalam diam. Tanpa diceritakan Wira bisa menebak bagaimana sifat Tantenya Dewi. Matanya yang berbinar-binar saat menerima amplop berisi uang sudah menggambarkan semuanya.


"Ya Kakak kan harus ngumpulin uang dulu, Na. Untung saja Bahri udah lulus sekolah. Beban Kakak sedikit berkurang. Makanya kamu Kakak ajak pulangnya sekarang."


"Kakak enggak tau sih gimana sifat Tante. Sejak aku pecahin vas bunga waktu itu jadi semakin galak. Takut banget aku buat masalah lagi." curhat Ratna. "Jadi tambah pelit juga lagi! Padahal untuk peralatan anak bayi yang mau lahir banyak dan mahal-mahal!"


"Udah enggak usah dibahas. Ada Pak Wira tuh, malu Kakak!" kata Dewi tak enak hati.


"Santai! Kita makan dulu gimana? Ratna mau makan apa?" tanya Wira dengan ramah.


"Em... Apa aja, Pak." jawab Ratna dengan gugup.


"Lo mau makan apa, Wi?" tanya Wira pada Dewi.


"Apa ya Pak? Nasi yang pasti. Aku lapar." jawab Dewi.


"Kalau kita makan di rumah makan khas Sunda gimana? Mau?"


"Mau!" jawab Dewi dan Ratna kompak.


Wira tersenyum. "Oke. Kita cari yang enak ya baru pulang ke Jakarta!"


Mereka lalu makan di salah satu rumah makan khas Sunda. Dewi dan Ratna makan dengan lahap, membuat Wira juga melakukan hal yang sama.


Ratna melihat dengan aneh saat Dewi menyendokkan nasi untuk Wira. Seakan Wira bukanlah atasan tapi suaminya sendiri.


"Kok aneh ya? Apa hubungan Kakak dengan Pak Wira? Apa mereka pacaran? Kok bisa atasan dan bawahan sedekat ini?" batin Ratna.


"Ayo dimakan, Na!" ajak Wira.


"Iya, Pak."

__ADS_1


****


__ADS_2