Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Khilaf di Pagi Hari


__ADS_3

Dewi merasakan tidurnya begitu nyenyak malam ini. Biasanya Ia tidur di kasur kapuk yang sudah agak lembek, kini tidur di spring bed mahal yang kalau teman sebelahnya bergerak pun tidak ada suara dan gerakan terasa. Benar-benar nyaman, seperti berada di kamar hotel.


Ternyata bukan itu saja yang membuat Dewi nyaman. Ada sebuah tangan kekar yang melingkar dan memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan dirinya.


Dewi membuka mata dan mendapati pemandangan yang sudah hampir seminggu ini tak Ia lihat. Semenjak hari mereka menikah, baru hari ini mereka satu tempat tidur.


Wira suaminya memang tampan. Bahkan Mas Zaky yang tampan saja masih kalah tampan dibanding Wira. Sayang, sifatnya yang kalau berbicara suka pedas dan menyakiti hati. Andai ada sebagian sifat Zaky yang ada dalam diri Wira, begitu doa Dewi.


Dewi baru saja sedikit bergerak, pelukan Wira malah semakin erat saja. Tak mau Dewi beranjak dari sampingnya sama sekali.


Wira masih tertidur pulas, meskipun begitu tangannya tak mau lepas memeluk Dewi. Dewi kembali mengangkat tangan Wira dan kali ini berhasil. Dewi pun beranjak bangun dari tempat tidurnya.


Dewi harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Ia pun mandi dan memasak sarapan untuk suaminya. Meskipun pernikahan mereka karena terpaksa, namun tugas sebagai istri tetap harus Dewi jalankan dengan baik.


Dewi memasak yang simple saja hari ini. Banyak makanan di lemari es milik Wira. Ia hanya perlu memasak nasi dan menghangatkan masakan yang ada di lemari es.


Melihat isi lemari es Wira yang penuh makanan lagi-lagi membuat Dewi iri. Lemari es keluarga mereka hanya 1 pintu. Isinya pun hanya cabe, bawang kupas dan sayur sawi. Tak ada buah. Tak ada nugget atau makanan beku seperti di lemari es Wira. Sisanya hanya air yang dimasak dan dimasukkan dalam botol bekas syrup. Lumayan minum air es kalau siang hari.


Kesenjangan antara si kaya dan si miskin begitu kentara. Dari mulai hal kecil macam isi lemari es saja sudah membedakan. Kemudian area memasak.


Kompor gas di apartemen Wira adalah kompor tanam dengan gas tanpa tabung yang sudah disediakan oleh pihak apartemen. Sedangkan di rumahnya, kompor gas sejuta umat dengan tabung gas warna hijau yang kadang langka dipasaran.


Suara magic com digital yang menandakan nasi sudah matang menyadarkan Dewi dari lamunannya. Ia harus segera menyelesaikan acara memasaknya dan membangunkan Wira.


Dewi mengambil ayam ungkep dan menggorengnya. Sarapan yang simpel saja karena Ia harus pulang dulu sebentar untuk mengambil seragam kerjanya sebelum bekerja di cafe.

__ADS_1


Dewi sudah mengangkat ayam goreng dari wajan mahal berbahan granite ketika ada yang memeluknya dari belakang. Ia tentu saja kaget, namun wangi tubuh Wira yang maskulin membuatnya tahu kalau suaminya yang sedang memeluknya.


Wira pun mulai membenamkan pelukannya di bahu Dewi. Nafasnya yang hangat terasa di leher Dewi.


Tanpa perlu ditanya, Dewi tau kalau Wira menginginkannya. Tangan Wira yang sudah berkelana dan memegang buah sintal miliknya menjadi pertanda lelaki itu ingin mengambil jatah bisnis plus-plus mereka.


Kesempatan ini tentu saja tidak akan dilewati Dewi. Seminggu sudah Ia tidak membayar hutangnya. Kini Ia harus membayarnya karena sebentar lagi jadwal tamu bulanannya akan datang.


Dewi makin meremang manakala Wira membuka kancingnya sambil memeluknya dari belakang. Satu persatu kancing blouse yang dikenakannya dibuka oleh Wira.


Tangan Wira kini menyentuh buah sintal miliknya tanpa ada penghalang lagi. Satu-satunya penghalang sudah Ia singkirkan.


Ternyata tubuh Dewi juga merindukan setiap sentuhan Wira. Ia pun berbalik badan dan menatap Wira yang begitu menginginkannya.


Dewi melihat bibir Wira yang amat lihai dalam mencium tersebut. Sudah lama sekali mereka tidak berciuman. Keinginannya pun terkabul. Wira mendekatkan dirinya dan mencium Dewi. Pelan dan hangat.


Namun tiba-tiba Wira seakan tersadar. Ia menghentikan apa yang Ia lakukan. Ia pun menyudahi ciuman mereka dan tangannya menjauhi tubuh Dewi.


"Sorry! Mm... Gue laper!" ujar Wira dengan kikuk.


Wira pun berbalik badan dan menuju meja makan. Meminum susu hangat yang sudah disediakan Dewi seraya mengutuk dirinya sendiri.


"Wira bodoh! Bodoh! Kenapa khilaf begitu sih?! Bukannya lo udah bertekad jangan menyentuh dia dulu?! Baru begitu aja udah khilaf! Bodoh! Bodoh!" rutuk Wira dalam hati.


Sementara Wira merutuki diri, Dewi masih terdiam tak percaya. Ia sangat yakin kalau tadi Wira begitu menginginkan dirinya. Tapi kenapa tiba-tiba terhenti?

__ADS_1


"Apa karena kini aku sudah menjadi istrinya, jadi Pak Wira tak mau lagi menyentuhku?" batin Dewi.


Dewi mengancingkan kembali blouse yang tadi dibuka oleh Wira. Ia menghidangkan makanan yang sudah Ia hangatkan di atas meja makan.


Nampak Wira pura-pura membaca portal berita online saat Dewi duduk di depannya. Dewi ingin bertanya kenapa Wira tak mau menyentuhnya namun urung Ia lakukan.


Dewi menyendokkan nasi dan lauk untuk Wira. Apa yang dilakukannya tentu saja membuat Wira heran. "Lo ngapain?"


"Saya cuma sediain makan buat Bapak." jawab jujur Dewi. Ia meletakkan piring dan lauk di depan Wira. "Kalau kurang bilang ya Pak, soalnya saya enggak tau takaran Bapak."


"Tumben banget! Dalam rangka apa?" Wira menaruh Hp miliknya di atas meja dan mulai memakan makanannya. Lauk yang sudah disediakan Mommy-nya, hanya dipanaskan saja oleh Dewi.


"Dalam rangka bakti saya sebagai seorang istri. Mungkin bagi Bapak, pernikahan kita hanyalah formalitas karena sudah tertangkap basah. Namun pernikahan tetaplah pernikahan. Selama saya di sini, saya akan melaksanakan kewajiban saya." kata Dewi seraya menyendokkan nasi dan lauk untuknya sendiri.


Wira terdiam dan menatap gadis cantik di depannya yang hampir saja membuat dia khilaf pagi ini. Benar, Dewi kini adalah istrinya. Pernikahan siri mereka memang tidak tercatat namun tetap saja sah di mata Allah.


"Baguslah kalo lo sadar dengan kewajiban lo. Asal jangan jalan aja sama sembarang cowok kayak kemarin!" sindir Wira pedas.


Dewi tak jadi memakan sarapannya. Ia malah menatap Wira dengan pandangan menantang. Rupanya sejak kemarin kekesalan Wira belum hilang karena Ia pergi makan bersama Zaky.


"Jangan bilang Bapak cemburu? Sejak kemarin Bapak marah dan kesal sama saya terus. Oh iya, semua dimulai saat kita bertemu di restoran. Saya sudah bilang sama Bapak, saya tuh tidak sengaja ketemu Mas Zaky. Kenapa sih Bapak masih marah terus? Kalo cemburu bilang, Pak." Dewi mulai berani menyuarakan isi hatinya.


Wira tak menyangka Dewi yang selama ini penurut dan selalu mengiyakan apa yang diperintah olehnya sudah berani membalas tatapan dan mengatakan isi hatinya.


"Dih! Siapa yang cemburu?! Memangnya lo siapa? Jangan mentang-mentang kita udah nikah bukan berarti lo merasa diri lo jadi istri gue yang sebenarnya! Inget, perjanjian bisnis plus-plus kita lebih kuat di mata hukum dan gue enggak mau lo deket dengan lelaki lain sesuai surat perjanjian!" ujar Wira, pedas dan menyakitkan hati.

__ADS_1


***


__ADS_2